Menyisir Kasus Suap Bensin Bertimbal

Dirut PT Soegih Interjaya Willy Sebastian Liem ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta,  (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Dirut PT Soegih Interjaya Willy Sebastian Liem ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

Kasus dugaan suap proyek pengadaan Tetraethyllead terus bergulir. Jumlah tersangka akan terus bertambah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan suap proyek pengadaan Tetraethyllead (TEL) di Pertamina tahun 2004-2006. Setelah sebelumnya KPK telah menetapkan  mantan Direktur Pengolahan PT Pertamina Suroso Atmo Martoyo dan Direktur PT Soegih Interjaya Willy Sebastian Lim sebagai tersangka. Dan pada Selasa 6 Oktober lalu, Direktur PT Soegih Interjaya M. Syakir juga ditetapkan sebagai tersangka. Terkait penetapan tersangka baru, KPK melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang dianggap mengetahui kasus ini secara marathon.

Mantan Koordinator Pengadaan Pengolahan Pertamina, Djohan Sumardjanto adalah salah satu nama yang akan diperiksa sebagai saksi. Disinyalir Djohan mengetahui soal kasus suap yang diduga melibatkan Syakir tersebut. “Keterangan bersangkutan diperlukan untuk kepentingan penyidikan,” ujar Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andrianti kepada wartawan.

M Syakir sendiri baru ditetapkan KPK sebagai setelah penyidik menemukan dua barang bukti yang sah. Suroso dan Willy sama-sama sudah dihadapkan dalam persidangan. Suroso kini sedang menunggu vonis hakim dengan tuntutan tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp250 juta subsider enam bulan kurungan dari jaksa.

Sedangkan Willy sudah divonis pidana penjara selama tiga tahun. Adapun Syakir sebagai tersangka baru diancam melanggar Pasal 5 Ayat 1 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP. Pasal itu membahas soal tindak pidana suap.

Dalam fakta persidangan terungkap bahwa Innospec melalui PT Soegih Interjaya, yang kala itu dipimpin oleh Willy Sebastian Liem, menyuap dua mantan pejabat di Indonesia, yakni bekas Direktur Pengolahan Pertamina Suroso Atmo Martoyo dan mantan Dirjen Minyak dan Gas, Rahmat Sudibyo. Suap itu diduga dilakukan sejak 2000 hingga 2005.

Duit suap dijadikan sebagai alat pelicin agar TEL tetap digunakan dalam bensin produksi Pertamina. Padahal, penggunaan bahan bakar bensin bertimbal itu tidak diperbolehkan lagi di Eropa dan Amerika Serikat lantaran dianggap membahayakan kesehatan dan lingkungan. Willy dan Suroso kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada 2011 dan 2012.

Suroso sebagai tersangka penerima suap disangka melanggar Pasal 12 huruf a dan atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara Willy sebagai pihak pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a dan b dan atau Pasal 13 UU Pemberantasan Korupsi.

Selain Djohan, KPK juga memanggil dan memeriksa mantan pegawai Pertamina, Dwi Kushartoyo. Dia merupakan petinggi Pertamina yang pernah menjabat sebagai mantan Deputi Direktur Pengelolaan Pertamina. Belum jelas pemeriksaan Dwi terkait apa. Namun pemeriksaannya untuk melengkapi berkas perkara tersangka. “Keterangan bersangkutan diperlukan untuk kepentingan penyidikan,” tutur Yuyuk.

Pada Selasa, 13 Oktober lalu, penyidik memeriksa pensiunan Pertamina bernama Baihaqi Hamis Hakim. Lagi-lagi dia diperiksa sebagai saksi. KPK juga pernah memanggil dua saksi untuk turut dimintai keterangan dalam pemeriksaan. Mereka adalah Manager Business Development Direktorat EBT, Edwin Irwanto Widjaja dan Senior Analyst Evaluation and Innovation Direktorat SDM PT Pertamina, Setya Nugraha.

Kasus ini memang sudah bergulir sejak lama.  Langkah awal KPK adalah ketika menetapkan Willy Sebastian Liem sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek pengadaan Tetra Ethyl Lead (TEL) bensin bertimbal oleh perusahaan Inggris, Innospec Ltd pada awal Januari tahun ini.

Willy merupakan Direktur PT Soegih Interjaya, perusahaan yang merupakan agen utama perusahaan minyak asal Inggris itu. Dia diduga telah memberikan sesuatu kepada sejumlah pejabat Pertamina agar mau mengimpor bensin bertimbal dari Inggris dan dijerat pasal 5 ayat 1 dan atau pasal 13 Undang-Undang No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kasus dugaan suap pada pengadaan TEL di Pertamina memiliki kekhasan tersendiri karena turut melibatkan perusahaan luar negeri. Dalam perjalanannya, KPK sedikit terkendala dengan mekanisme mutual legal assistance (MLA) yang harus disepakati pihak Indonesia dengan Inggris dalam penyidikan kasus tersebut. “MLA ini merupakan jalan penghubung koordinasi dan itu butuh waktu. Kami sudah pergi ke Inggris menggelar pemeriksaan melalui mekanisme MLA,” kata Bambang Widjoyanto saat dia masih menjabat sebagai Wakil Ketua KPK.

Pada April 2010 lalu, KPK mencegah enam orang direktur Pertamina terkait kasus ini. Mereka adalah Rachmat Sudibyo, Suroso Atmomartoyo, Mustiko Saleh, Willy Sebastian, Muhammad Syakir, dan Herwanto Wibowo.

Kasus suap  Innospec  ke pejabat Pertamina  mencuat ketika Innospec ditetapkan bersalah pada pengadilan Southwark Crown (18/3). Dalam pengadilan itu terungkap Innospec menyuap pejabat Pertamina  sebesar US$  8,5 juta  atau sekitar  Rp 77 Milyar. Atas penyuapan itu, Innospec didenda membayar  US$ 12,7 juta.

Hakim Justice Thomas, seperti yang dikutip BBC, secara khusus menyatakan bekas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Rachmat Sudibyo menerima suap lebih dari US 1 juta sekitar Rp 9 miliar dari Innospec melalui agennya di Indonesia, PT Soegih Interjaya. Andrew Mitchell Q.C. dari Badan Antikorupsi Inggris Serious Fraud Office , kepada The Guardian, menyatakan Innospec telah menggelontorkan US 17 juta Rp 153 miliar untuk pejabat di Indonesia selama 1999-2006.

Innospec menyuap pejabat Pertamina untuk melanggengkan usaha mereka menjual bahan additif Tetra Ethyl Lead (TEL) untuk bensin bertimbal.  Di negara Eropa dan Amerika, TEL sudah dilarang dipasarkan karena membahayakan kesehatan dan lingkungan. Pengadaan TEL terakhir dilaksanakan pada 2005 dan semenjak Juni 2006 Pertamina tidak lagi menginjeksi TEL dalam bensin.

JULIE INDAHRINI/FORUM

Comments are closed.