Indikasi Kuat Sindikat Perpendek atau Regenerasi Pangsa Pasar Narkoba. Mensos: Siapkan Save House, TRC dan Puspensos Tangani Narkoba

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa serius berdiskusi dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait penanganan narkoba yang saat ini pengedar melakukan peremajaan pasar dan menyasar anak Taman Kanak-Kanak (TK) dengan dampak merusak syaraf otak secara permanen, di Kantor Kemensos, Salemba, Jakarta (19/10/2015)./Humas Kementerian Sosial RI
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa serius berdiskusi dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait penanganan narkoba yang saat ini pengedar melakukan peremajaan pasar dan menyasar anak Taman Kanak-Kanak (TK) dengan dampak merusak syaraf otak secara permanen, di Kantor Kemensos, Salemba, Jakarta (19/10/2015) foto Humas Kementerian Sosial RI

JAKARTA-Senin (19/10/2015). Penanganan korban penyalahgunaan narkoba memerlukan kerjasama lintas kementerian/lembaga. Sebab, sindikat pengedar telah merubah cara penyebaran dengan target pengguna mulai anak Taman Kanak-Kanak (TK).

“Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan komandannya Pak Budi Waseso berkoordinasi dengan berbagai kementerian/lembaga agar ikut andil dalam upaya dan langkah-langkah pencegahan (preventif), ” ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa usai bertemu dengan Kepala BNN Budi Waseso di Gedung Kementerian Sosial (Kemensos) Salemba, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Para pengedar narkoba sudah masuk ke berbagai pulau dengan berbagai cara dan ada indikasi kuat mereka memperpendek atau meregenerasi pasar dengan target grup mulai dari anak TK dengan jaminan barang-barang di rumahnya.

“Anak diberikan narkoba tidak gratis dan ketika mulai ketagihan diajarilah cara dengan menukar barang-barang di rumahnya, seperti cincin milik ibunya kepada para pengedar tersebut, ” tandasnya.

Model peremajaan pangsa pasar ini terbilang luar biasa, karena bisa dihitung berapa anak yang mengalami proses adiksi dengan dampak sangat mengerikan yaitu terganggunya syaraf otak secara permanen.

“Saya kira ini harus disosialisasikan secara komprehensif kepada para orangtua dna masyarakat luas terkait bahaya yang ditimbulkan oleh narkoba yang bisa merusak syaraf otak secara permanen, ” tandasnya.

Selain dibutuhkan upaya pencegahan secara massif, juga harus ada proses pemberantasan, penindakan secara hukum, serta adanya pemberdayaan masyarakat agar ambil bagian dalam upaya pencegahan.

“Posisi Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dengan melakukan rehabilitasi sosial (rehabsos). Sedagnkan, kementerian/lembaga lainnya bekarja sesuai tugas masing-masing, ” ujarnya.

Saat ini, sedang diinisiasi adanya lapas integratif dengan koordinasi lintas kementerian, ada Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum dan HAM), Kemensos, dan Kementerian Kesehatan agar masing-masing ambil bagian.

“Tentu saja, Kemensos menyiapkan para kanselor adiksi dan pekerja sosial (peksos) adiksi sesuai regulasi Undang-Undang (UU) penanganan narkoba ataupun Peraturan Pemeritnah (PP), ” katanya.

Di Kemensos ada 118 Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan Pusat Penyuluhan Sosial (Puspensos) yang bisa melakukan berbagai kampanye akan bahaya pornografi dan narkoba di berbagai tempat dan beragam cara.

“Mulai tahun 2015 ini, Puspensos difokuskan dalam dua penanganan dan pencegahan, yaitu bahaya pornografi dan narkoba, ” ujarnya.

Para orangtua mesti mengetahui tanda-tanda anak menjadi korban penyalahgunaan narkoba, seperti anak suka menyendiri di kamar mendengarkan musik, lebih sering mojok, badan menggigil, serta keluar bulir-bulir keringat tidak normal.

“Edukasi bagi para orangtua menjadi cukup penting untuk mengetahui tanda-tanda anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba atau sedang proses adiksi, ” katanya.

BNN merilis narkoba yang sudah masuk ke Indonesia ada 36 jenis, mulai yang konvensional hingga berupa tissue yang bisa dicelupkan ke air dan langsung bisa bereaksi.

Selain itu, Kemensos juga menyiapkan rumah aman atau save house dan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk penanganan dari para korban penyalahgunaan narkoba di Pasar Rebo dan Bambu Apus, Jakarta Timur.

“Memang lebih baik lagi ada petugas di setiap RT/RW dari unsur masyarakat yang terlebih dahulu diberikan bimbingan teknis (bimtek), dilengkapi dengan channeling, ada layanan pengaduan, serta trauma healing, ” tandasnya.

Humas Kementerian Sosial RI/FORUM

Comments are closed.