Rakyat Menelan Asap, Pejabat Riau Plesir ke Cina

Kantor Gubernur Riau tak terlihat ditelan kabut asap (Liputan6.com/M Syukur)
Kantor Gubernur Riau tak terlihat ditelan kabut asap (Liputan6.com/M Syukur)

Kepekaan pejabat diuji saat rakyatnya tengah sekarat. Dua bulan warga Riau hidup terkurung oleh asap, eh, beberapa pejabatnya malah studi banding ke Cina.

Menurut BNPB kondisi asap di Pekanbaru sudah dalam kategori berbahaya. Asap yang disebabkan pembakaran lahan ini rutin terjadi setiap tahun di musim kemarau, sejak 18 tahun terakhir. Bahkan, pada 2015 ini, bencana asap datang dua kali, yakni sekitar Maret dan April lalu, dna yang terparah bulan September ini. Seolah tak pernah ada penanganan, bencana asap selalu berulang.

Warga mengakui sejak kabut asap melanda, kepala mereka selalu pusing. Kondisi badan terasa lemas. “Saban hari badan ini terasa capek, kepala pusing. Kadang kalau sudah pusing rasanya perut ini mual,” kata Ujang (35) pedagang kaki lima di kawasan pasar Arengka yang berada di Jl Soekarno Hatta, Pekanbaru. Siang hari, asap bukannya berkurang, namun semakin pesat. Bahkan tampak dari kejauhan Kantor Gubernur Riau hilang ditelan asap, lanjutnya.

Amatan FORUM, kantor Gubernur Riau yang berada di Jl Sudirman, Pekanbaru, itu tak kelihatan jika dilihat dari jarak 500 meter. Tak hanya kantor Gubernur Riau, gedung 9 lantai yang menjadi kantor berbagai satuan kerja itu juga hilang ditelan asap. Ya, Kota Pekanbaru memang saat ini disesaki asap.

Alih-alih melakukan yang terbaik untuk mengurangi derita warganya, secara diam-diam sejumlah pejabat di Riau dikabarkan berangkat ke Cina saat darurat asap. Malah istri Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman juga ikut serta. Wali Kota Pekanbaru, Firdaus MT, juga akan berangkat di Cina. Namun setelah mendapat kritikan masyarakat, orang nomor satu di Pekanbaru itu dikabarkan membatalkan niatnya ke Tiongkok.

Undangan Pemkot Pekanbaru dan Pemprov Riau ke Cina merupakan undangan resmi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat. Undangan tersebut untuk bertemu dengan sejumlah investor di negeri Tirai Bambu. Bahkan Pemprov Riau tidak membantah bila pihaknya untuk ikut serta dalam undangan ke Cina tersebut. Ada dua dinas yang ikut serta dalam kunker ke luar negeri tersebut. Mereka dari Dinas Pariwisata dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Riau. “Benar, ada dua dina yang melakukan kunjungan kerja atas undangan BKPM. Dinas Pariwisata dan Disperindag,” kata Kepala Biro Humas Pemprov Riau, Darusman, Kamis (17/9/2015).

Menurut Darusman, kepergian para pejabat Pemprov Riau ini diperkirakan selama lima hari. Hanya saja Darusman tidak memastikan kapan para pejabat itu berangkatnya. Darusman mengakui bahwa istri Plt Gubernur Riau, Arsyaduliandi Rachman, Silsilita, juga ikut dalam rombongan ke Cina atas nama Ketua Dekranasda alias Dewan Kerajinan Nasional Daerah Riau. “Iya, ikut dalam rombongan atas nama Dekranasda,” kata Darusman.

Namun menurutnya, istri Plt Gubernur Riau itu berangkat dengan menggunakan dana pribadi. “Untuk ketua Dekranasda tidak menggunakan dana APBD, melainkan dana pribadi. Ibu (Silsilita) menolak memakai anggaran yang sudah ada, lebih memilih pakai dana pribadi,” tutup Darusman.

Keberangkatan para pejabat ini, tentu tidak etis di saat Riau status mengalami darurat asap. Untuk diketahui, Pemprov Riau sendiri sudah menetapkan situasi ini menjadi darurat pencemaran udara pada pekan lalu. Di kawasan ini, titik api memang sudah berkurang jauh titik api. Namun, di provinsi tetangganya yakni sumatera Selatan dan Jambi, api masih membara. Arah angin dari timur ke utara, membuat Riau terkurung asap. Bahkan, asap juga sudah mengepung negara tetangga, Malaysia dan Singapura.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menargetkan api padam paling lama 30 hari ke depan. Batas maksimal pemadaman api ditetapkan setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan menghitung kemampuan yang dimiliki. Willem menargetkan untuk kebakaran hutan di Riau dipadamkan paling lambat 14 hari sejak 10 September 2015. Pemadaman kebakaran api di hutan Jambi ditargetkan selasai 30 hari sejak 14 September 2015. “Begitu juga Kalimantan. Perintah Presiden sudah jelas, padamkan api dan hilangkan asap segera,” kata Willem di Jakarta, Rabu pekan lalu.

Willem menuturkan, jumlah hotspot di Sumatera dan Kalimantan saat ini terus berkurang. Penyebabnya adalah upaya pemadaman api yang dilakukan terus menerus dan turunnya hujan di sejumlah titik. Meski demikian, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di wilayah Sumatera dan Kalimantan masih di atas 150. Itu berarti, udara di sekitar terjadinya kebakaran hutan masih tidak sehat. “Kami manfaatkan situasi untuk intensifkan pemadam kebakaran via udara dan darat melalui water bombing dan modifikasi cuaca, sosialiasi dan perkuat tindakan penegakan hukum,” terangnya.

Willem melanjutkan, Presiden Joko Widodo meminta penegakan hukum pada pelaku pembakaran hutan dan lahan dilakukan dengan tegas. Tujuannya untuk memberikan efek jera dan masalah kebakaran hutan tidak terus berulang di kemudian hari.

Tak hanya Willem, para peneliti di LIPI sudah bekerja keras untuk meneliti masalah kebakaran hutan. Namun ternyata penelitian itu seakan tak dianggap. Kenapa? “(Sudah) menyerahkan hasil penelitian ke Bappenas tetapi tidak ada koordinasi lebih lanjut,” kata peneliti LIPI Prof Dr Tukirin di acara “Paparan Hasil Penelitian Kebakaran Hutan di Indonesia” di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Kamis (17/9/2015).

Tukirin mengungkapkan banyak penelitian mencatat bagaimana proses clearing tanpa membakar. Biasanya dilakukan oleh perusahaan (Hutan Tanaman Industri (HTI), mereka membersihkan hutan tanpa dibakar. Sementera untuk perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit biasanya selalu membakar hutan. “Umumnya HTI tak bakar, kalau kelapa sawit biasanya dibakar. Perlu pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak membakar,” katanya.

Penelitian  soal kebakaran hutan oleh LIPI sebenarnya sudah cukup lama sejak 1982. Tiga bulan LIPI menginventarisasi kebakaran ringan hingga berat. Kebakaran ringan menghabiskan rantingnya, kebakaran sedang menghabiskan semaknya dan kebakaran berat 80 persennya menghabiskan kanopi hutan.

Penyebab kebakaran hutan ini umumnya disebabkan oelh pembukaan lahan pengembangan perkebunan dan hutan tanaman, perambahan hutan untuk lahan garapan, pembakaran hutan untuk mempermudah berburu, pembakaran untuk pembinaan areal pengembalaan, pembakaran untuk pemungutan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu), dan kecorobohan saat beraktivitas di hutan. “Kita itu baru ribut kalau ada komplain dari sana sini,” tukasnya.

Kawasan di Indonesia sebagian besar memiliki iklim basah karena Indonesia merupakan negara tropik. Curah hujannya lebih dari 2.000 mm3 per tahun sehingga memiliki tutupan hutan dengan karakteristik hutan hujan tropik. Dan pada dasarnya, ekosistem hutan tropik tidak bisa terbakar baik secara alami sekalipun pada daerah yang iklimnya kering. Setelah kebakaran, beberapa tumbuhan pionir dan sekunder muncul seperti kelompok mahang, anggrung, tembalik angin, dan tumbuhan paku.

Di kesempatan yang sama, Prof Herman Hidayat mengatakan kebakaran lahan dan hutan hingga menyebabkan kabut asap ini merupakan kejahatan ekonomi, ekologi dan sosial. Selain itu dampaknya juga bisa berpengaruh pada perubahahan iklim. “(Efeknya bisa) terjadi penurunan perubahan suhu ekstrim seperti di gurun, banjir dan kekeringan dahsyat seperti di gurun arab,” ucapnya.

Sofyan Hadi

Comments are closed.