Yunani Dilanda Bencana Kemanusiaan

Para pengungsi terlihat oleh Penjaga Pantai Yunani saat operasi malam penyelamatan dan menuntun mereka menuju pinggir pantai dengan selamat dan selanjutnya akan ditahan pihak berwajib Yunani. ANTARA FOTO/REUTERS/Giorgos Moutafis/djo/15
Para pengungsi terlihat oleh Penjaga Pantai Yunani saat operasi malam penyelamatan dan menuntun mereka menuju pinggir pantai dengan selamat dan selanjutnya akan ditahan pihak berwajib Yunani. ANTARA FOTO/REUTERS/Giorgos Moutafis/djo/15

Bagai jatuh tertimpa tangga. Yunani yang kini dirundung kebangkrutan harus menerima ribuan pengungsi dari Suriah dan Afghanistan. Pemerintah pusat dan lokal kewalahan.

Situasi pengungsi di Pulau Kos, Yunani, mendekati bencana kemanusiaan. Ribuan orang pengungsi terpaksa dikurung di dalam stadion tanpa makanan dan minuman. Pemerintah Pulau Kos memperingatkan bahaya pertumpahan darah.

Walikota Pulau Kos, Yunani, Giorgos Kyritsis, sedang panik. Pasalnya, Pulau Kos yang indah dan menjadi favorit para turis itu sedang kebanjiran pengungsi dari Suriah, Afghanistan dan wilayah konflik lainnya. Dalam sebuah surat kepada pemerintah pusat, ia mengeluhkan situasi di kamp-kamp pengungsian, dan betapa pemerintahannya kewalahan.

“Saya peringatkan, ancaman pertumpahan darah sangat nyata,” tulisnya. Rusuh di Pulau Kos muncul ketika pengungsi berdemonstrasi meminta dokumen yang mengizinkan mereka bepergian ke Eropa daratan.

Beberapa pengungsi menyambangi markas kepolisian untuk mendaftarkan diri. Namun polisi memaksa pendaftaran dilakukan di dalam stadion. Ketika petugas yang datang cuma tiga orang dan membuat proses pendaftaran menjadi lambat, pengungsi mulai kehabisan kesabaran.

Yang kemudian dilakukan pemerintah lokal adalah menurunkan polisi antihuru-hara dan mengurung sekitar 2.500 orang pengungsi di sebuah stadion selama 24 jam. Mereka yang kebanyakan datang dari Suriah dan Afghanistan itu terpaksa berjejalan tanpa air dan makanan. Baru setelah 20 jam berlangsung, pemerintah mengirimkan enam toilet darurat buat pengungsi.

“Ini adalah untuk pertama kalinya kami melihat hal semacam ini terjadi di Yunani,” kata Julia Kourafa, dari Médecins sans Frontières, sembari menambahkan, “Mereka dikurung di dalam stadion dan diawasi oleh polisi antihuru-hara. Kita berbicara mengenai nasib ibu, anak-anak dan kaum manula.”

Ratusan migran berdatangan setiap hari ke Pulau Kos yang berdekatan dengan Turki itu. Tidak cuma pemeritah, organisasi bantuan dan penduduk yang mencoba membantu pun kewalahan. Situasi serupa terjadi di beberapa pulau lain di Yunani.

Kendati situasi mengenaskan di Pulau Kos, sebagian besar dari 1,6 juta pengungsi Suriah dan Afghanistan yang transit di Turki tetap berencana hijrah ke Yunani.

Mousa, bekas mahasiswa sastra Inggris, berniat berlayar ke Pulau Kos akhir Agustus nanti, katanya kepada Guardian. Niatnya tidak luruh bahkan setelah menyaksikan laporan mengenai kerusuhan di stadion dari televisi. Dia mengaku akan membeli paspor Uni Eropa palsu di Pulau Kos.

“Saya akan tetap pergi karena saya berencana tiba di Kos dan langung pergi ke airport, lalu terbang ke negara lain di Eropa. Jadi saya tidak harus berurusan dengan otoritas di Yunani,” ujarnya.

Menanggapi keluhan Walikota Pulau Kos, Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras, langsung berteriak ke dunia internasional. Dia meminta negara-negara Eropa turut membantu dalam menangani puluhan ribu pengungsi yang datang dari Suriah, Afghanistan dan zona perang lainnya. Dia mengakui negaranya kekurangan uang sehingga tidak mampu sendirian menangani pengungsi.

Masuknya pengungsi telah menambahkan beban dan tekanan pada layanan. Yunani sendiri pada saat warga negaranya tengah berjuang keras menghadapi kebijakan pemotongan nilai mata uang. Pemerintahnya sedang melakukan negosiasi dengan Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pinjaman segar guna mencegah ekonomi kolaps.

“Muatan kapal migran yang datang setiap hari telah memicu krisis kemanusiaan dalam krisis ekonomi,” katanya setelah pertemuan dengan para menteri sebagaimana dilansir Reuters akhir pekan lalu.

“Uni Eropa sedang diuji pada masalah Yunani. Ini telah merespon negatif di hadapan ekonomi. Itulah pandangan saya, saya berharap itu akan merespon positif di hadapan kemanusiaan,” katanya lagi.

Komentar itu muncul karena badan pengungsi PBB (UNHCR) meminta Yunani untuk mengambil kontrol dari “kekacauan total” di pulau-pulau Mediterania. Dimana ribuan migran telah mendarat. Sekitar 124.000 migran (pengungsi) telah tiba tahun ini melalui laut, banyak yang melalui Turki, demikian diungkapkan  Vincent Cochetel, direktur UNHCR untuk Eropa.

“Tingkat penderitaan yang telah kita lihat, di pulau-pulau itu sudah tak tertahankan lagi. Orang-orang yang datang berpikir mereka berada di Uni Eropa. Apa yang kita lihat bukan sesuatu yang dapat diterima dalam hal standar pengobatan,” kata Cochetel setelah mengunjungi pulau-pulau Yunani Lesbos, Kos dan Chios.

“Saya belum pernah melihat situasi seperti itu. Ini adalah Uni Eropa dan ini benar-benar memalukan,” pungkasnya.

Budi Nugroho/Forum

Comments are closed.