Triliunan Rupiah di Masa Lebaran

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo //ANTARA FOTO
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo //ANTARA FOTO

Uang yang berputar di masyarakat selama lebaran mencapai triliunan rupiah. Masyarakat desa juga diuntungkan.

Di tengah lesunya ekonomi dan melonjaknya harga kebutuhan pokok jelang lebaran, ternyata kemampuan ekonomi dan daya beli di masyarakat masih sangat tinggi. Seperti dikutip enciety.co, pakar Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kresnayana Yahya memperkirakan sedikitnya Rp 680 triliun perputaran uang saat lebaran 2015. “Setiap lebaran datang banyak uang yang dihabiskan hanya untuk konsumtif saja,” paparnya.

Lebih lanjut dia memaparkan, setiap kali lebaran datang masyarakat Indonesia rata-rata membelanjakan uang tunai mencapai Rp 130 triliun. Selebihnya, sekitar Rp 550 triliun uang giral juga dibelanjakan di sektor konsumtif. “Ini adalah menghambur-hamburkan uang hanya untuk kebutuhan yang sifatnya sekunder, harusnya pemerintah dapat berperan aktif dengan mendirikan badan amil zakat yang transparan seperti yang terjadi di sejumlah negara muslim lainnya. Seperti di Uni Emirat Arab,” kata Chairperson Enciety Business Consult itu.

Ia mengimbuhkan, pasca lebaran dengan uang tersebut seharusnya Indonesia dapat membangun rumah baru, sekolah, hingga rumah sakit. Kresnayana menekankan bahwa masyarakat harus sadar dengan perputaran uang yang sangat besar ketika lebaran, terutama di negara-negara muslim. “Seharusnya kita bisa meniru Malaysia dan Turki, dengan memanfaatkan momen lebaran, ribuan warga miskin di negara tersebut dapat dientaskan dari kemiskinan,” ujar Kresnayana.

Beda perhitungan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kebutuhan uang (outflow) pada periode Ramadan dan Idul Fitri 2015 sebesar Rp 119,1 triliun hingga Rp 125,2 triliun. Jumlah itu naik tipis dari kebutuhan uang pada lebaran tahun sebelumnya yang mencapai Rp 124,8 triliun. Hingga 10 Juli 2015, dana yang sudah digunakan Rp 99 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengungkapkan, kondisi tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Selain faktor pelambatan pertumbuhan belanja masyarakat, kenaikan permintaan uang tunai yang hanya sekitar 1 persen itu juga menjadi indikasi bahwa masyarakat mulai beralih ke transaksi nontunai.

Rektor Kwik Kian Gie School of Business Anthony Budiawan menyatakan, kenaikan konsumsi masyarakat akan mendorong investasi pengusaha. Karena itu, selama konsumsi untuk produk dalam negeri atau bukan impor, semua konsumsi dinilainya “produktif”. “Uang rakyat (pemudik) akan digunakan untuk konsumsi atau tabungan. Konsumsi akan meningkatkan ekonomi secara langsung,” ujar Anthony.

Tradisi mudik lebaran menjadi salah satu faktor yang membuat besaran uang yang berputar di masyarakat. Uang dari kota bertebaran ke desa-desa, hal ini mendorong penyerapan produk pedesaan sekaligus meningkatkan perguliran uang di daerah. “Tradisi mudik ikut meningkatkan perguliran uang di pedesaan, salah satunya untuk penyerapan produk warga desa tujuan mudik,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jabar Anton Gustoni, Senin 20 Juli lalu.

Menurut dia, penduduk pedesaan serharusnya bisa menangkap peluang dari para pemudik untuk bisa menjual produk mereka. Hal itu telah dilakukan oleh warga di kawasan wisata yang juga memanfaatkan prosesi mudik dan kunjungan wisata lebaran.

Anton mengakui di beberapa daerah tradisi itu berhasil dimanfaatkan sebagai peluang oleh warganya, namun sebagian daerah belum bisa melakukannya sehingga potensi mereka belum bisa termanfaatkan. “Padahal di desa-desa itu ada produk unggulan masing-masing. Seharusnya itu menjadi oleh-oleh dari kampung untuk selanjutnya dibawa ke kota,” katanya.

Apalagi para pemudik biasanya membawa oleh-oleh ke kota baik itu kerajinan maupun hasil pertanian seperti beras, ubi-ubian, sayuran, perabotan rumah tangga dan lainnya. Di sisi lain ia juga berharap para pemudik juga memberdayakan warga di pedesaan dengan membeli produk dan komoditas hasil pertanian masing-masing. “Pemudik juga harus punya cita rasa untuk pemberdayaan desa, minimal produk dari kerabat dekatnya,” kata Anton.

Selain itu lokasi wisata juga menjadi tempat berputarnya uang. Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas mengatakan, kehadiran wisatawan di semua desa di daerahnya saat libur lebaran mencapai 60 persen dari waktu biasa. Kehadiran wisatawan mendongkrak perekonomian.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memprediksi perputaran uang wisatawan yang berkunjung ke semua objek wisata setempat selama libur Idul Fitri 1436 Hijriah mencapai sekitar Rp500 miliar.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Riyantono di Bantul, Minggu 19 Juli, mengatakan, perputaran uang wisatawan hingga ratusan miliar itu berdasarkan asumsi pengeluaran belanja barang maupun makanan tiap pengunjung sebesar Rp500 ribu. “Untuk perputaran uang memang tidak terkoordinasikan, namun jika prediksi wisatawan yang berkunjung ke Bantul selama libur lebaran sekitar satu juta, katakanlah kalau satu orang membawa Rp500 ribu, berarti sekitar Rp500 miliar,” katanya.

Menurut dia, prediksi perputaraan uang wisatawan selama sepekan libur lebaran 2015 bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat orang berwisata akan mengeluarkan uang untuk belanja barang oleh-oleh atau sekadar menikmati kuliner. “Jumlah wisatawan yang diprediksikan berkunjung ke Bantul sekian itu (sekitar satu juta) berdasarkan tren kunjungan tahun lalu (Lebaran 2014),” katanya.

JOKO MARDIKO

Comments are closed.