Menyibak Misteri Tewasnya Sang Wartawati

Tersangka pelaku pembunuhan dan perampokan wartawati Nurbaety Rofiq, D (25) dan HU (22) menjalani pra-rekonstruksi di Mapolresta Depok, Jawa Barat, Rabu (22/7). Pra-rekonstruksi yang menghadirkan empat pelaku D, HU, S dan MP, memperagakan 11 adegan dalam kasus pembunuhan dan perampokan wartawati Nurbaety Rofiq (44) di Perum Gaperi, Bojong Gede, Bogor pada Kamis (2/7) lalu. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/ss/kye/15
Tersangka pelaku pembunuhan dan perampokan wartawati Nurbaety Rofiq, D (25) dan HU (22) menjalani pra-rekonstruksi di Mapolresta Depok, Jawa Barat, Rabu (22/7). Pra-rekonstruksi yang menghadirkan empat pelaku D, HU, S dan MP, memperagakan 11 adegan dalam kasus pembunuhan dan perampokan wartawati Nurbaety Rofiq (44) di Perum Gaperi, Bojong Gede, Bogor pada Kamis (2/7) lalu. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/ss/kye/15

Seorang wartawati ditemukan tewas di rumahnya. Semua peralatan kerjanya hilang, namun Polisi mengatakan dia korban perampokan.

Fera Yustina, 49 tahun, sahabat wartawati freelance Nur Baety Rofiq, 44 tahun, alias Beti, tak memiliki firasat apa pun sampai temannya itu dibunuh perampok di rumahnya di Perumahan Gepari, Bojonggede. “Setelah dia gak ada, saya baru menyadari kalau kemauan keras Beti ajak kami jalan-jalan ke Sukabumi pada 1 Juni, adalah sebuah firasat,” kata Fera saat ditemui di Mapolresta Depok, Rabu pekan lalu.

Namun Fera Yustina baru menyadarai setelah Beti diketahui tewas terbunuh kawanan perampok,  bahwa kemauan keras Beti untuk mengajak ia dan tiga rekan lainnya jalan-jalan ke Sukabumi adalah sebuah firasat. Fera dan Beti sama-sama alumni IISIP Jakarta. Ia menyatakan dirinya dan Beti sudah bersahabat sejak masih kuliah. “Saya angkatan 88 di IISIP dia 89. Sudah 25 tahun kami bersahabat,” katanya.

Walaupun begitu, kata Fera, baru dua tahun belakangan ini, ia dan Beti serta tiga rekan mereka lainnya Voni, Yuli dan Lita, semakin intensif berkomunikasi. “Bahkan kami dan beberapa teman lain bikin arisan 2 bulan sekali, sejak dua tahun ini,” katanya. Fera menyatakan sejak beberapa bulan lalu, Beti selalu mengajak dirinya dan tiga rekan lainnya untuk jalan-jalan bersama. “Kata Beti, kapan yuk jalan-jalan bareng sehari. Berangkat pagi pulang sore, gitu,” kata Fera menirukan ucapan Beti.

Masih di tempat yang sama, pihak kepolisian menggelar prarekonstruksi kasus perampokan disertai pembunuhan wartawan freelance Nur Baety Rofiq alias Beti, di rumahnya di Perumahan Gepari, Bojonggede. Pra rekontruksi dilakukan di Mapolres Depok dengan menghadirkan ke empat tersangka yakni 3 tersangka utama Deni Setiawan (24), Hafit Ubaidilah (22) dan Syarifudin (20) serta tersangka turut serta Pujiono (20).

Dalam prarekonstruksi tersebut, Beti diperankan oleh pemeran pengganti. Sekitar satu jam pra rekonstruksi digelar, ada 11 adegan yang dilakukan pelaku saat menghabisi korban. Prarekonstruksi dimulai saat para pelaku utama masuk ke dalam rumah Beti di Perumahan Gaperi, Bojonggede. Mereka sempat sembunyi menunggu Beti terlelap usai makan sahur. Namun Beti curiga dan keluar kamar memeriksa ruang tengah rumahnya. Saat itulah, Deni langsung membekap Beti dari belakang dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang pisau.

Hal itu diketahui pada adegan kedua dan ketiga pra rekonstruksi. Pada adegan berikutnya, terungkap bahwa saat Beti disekap pelaku, Beti langsung memberontak. Sambil tangan kirinya menyekap korban, Deni sudah memegang pisau di tangan kananya. Dalam adegan pra rekonstruksi terungkap, saat disekap pelaku, Beti langsung memberontak dan menjatuhkan badannya ke samping untuk melepaskan sekapan Deni. Akibatnya, selain Beti jatuh ke sisi kiri, Deni yang menyekapnya juga jatuh.

Di mata Ema (45) orang tua dari tersangka Hafid Ubadidilah mengungkapkan, putranya itu salah bergaul dan hanya ikut-ikutan temannya. “Saya tidak mengenal DS,(25), sebagai teman Hafid,” ujarnya saat ditemui di Polres Depok, Rabu (22/7). “DS, kata anak saya, dikenalnya setelah diperkenalkan oleh sesama teman tongkrongannya.”

Diceritakannya, Hafid di rumah dikenal sebagai anak baik. Juga, Hafid tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya bahkan ia seringkali memberi uang kepadanya sebagai hasil kerja kuli bangunan. “Jadi, saya kaget banget waktu diberi tahu polisi bahwa anak saya ditahan dalam kasus perampokan dan pembunuhan wartawati seperti ramai diberitakan,” tandasnya.

Tersangka Hafid Ubaidilah satu dari empat tersangka pembantai wartawati Noer Baety Rofiq lalu membawa kabur harta korban di antaranya berupa alat kerja korban seperti laptop, kamera, telepon genggam, hingga uang segepok Rp 2000-an senilai Rp 200.000, kecuali perhiasan emas yang berserakan di kasur dan yang melekat di tubuh korban. Sedangkan DS, adalah otak perencana dan pelaku perampokan dan pembunuhan korban.

Otak pembunuh dan perampok wartawati di Depok ditangkap polisi di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/7) petang. Jenazah wanita yang hidup sendirian di rumahnya ditemukan Sabtu (18/7) oleh saudaranya yang curiga korban pada malam Takbiran tidak kumpul bersama keluarga besar di Tebet, Jakarta Selatan.

Kapolres Depok, Kombes Dwiyono, mengungkapkan pengakuan sementara tersangka motif mereka membunuh korban adalah perampokan. “Mereka (pelaku) mengaku hanya mengincar harta korban yang tinggal sendirian,” ujarnya didampingi Kapolsek Bojonggede, Kompol Ganet, Kasatreskrim Polres Kompol Teguh Nugroho, dan sejumlah Buser Polres yang mengawal pelaku saat jumpa pers di Mapolres, Senin (20/7).

Dijelaskannya, pelaku masuk rumah korban di Perumahan Gaperi Kabupaten Bogor itu saat penghuni sendirian tidur pada Sabtu (4/7) menjelang sahur. Mereka menyergap korban lalu menganiaya di antaranya menusukkan pisau ke sekujur tubuh dan leher selanjutnya tangan diikat demi memastikan korban tewas.
Emas perhiasan dan motor, harta korban diambil dan disita polisi menjadi barang bukti seperti empat telepon genggam milik korban, kamera, satu modem, satu unit lapop, tape recorder, tempat kartu nama, tiga buku tabungan, dua unit senjata tajam, serta motor Revo B 3995 EAP yang digunakan pelaku dan tali rapia untuk menjerat korban.

Dwiyono mengatakan motif pembunuhan wartawan lepas, Nurbaety Rofiq, 44 tahun, adalah pencurian. “Motif pembunuhan murni pencurian,” kata Dwiyono. Pembunuhan itu terjadi pada Sabtu, 4 Juli 2015, saat para tersangka hendak mencuri di rumah Nurbaety di perumahan Gaperi RT 1 RW 9, Blok CN-6, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Bojonggede.

Tiga tersangka pembunuh dibekuk di rumah masing-masing di kawasan Bojonggede, Depok. Menurut Dwiyono, otak pembunuh Nurbaety, yakni D, masih buron. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Teguh Nugroho menjelaskan peran keempat tersangka, yang merupakan pekerja bangunan di samping rumah Nurbaety. D, kata Teguh, memetakan rumah Nurbaety, sedangkan tiga tersangka pembunuh lainnya membantu pencurian dan pembunuhan.

Sejak pagi D telah mengintai rumah Nurbaety dan menunggu waktu sahur. Namun saat mereka masuk ke dalam rumah, ternyata Nurbaety masih terjaga. D sempat berduel dengan Nurbaety. “Masuk (rumah), langsung terjadi perkelahian,” kata Teguh. Begitu tahu ada perkelahian, Afif langsung menikam Nurbaety, yang sudah tersungkur karena didorong D. “D yang mengikat dan menggorok korban,” ucap Teguh. Barang bukti yang ditemukan polisi yakni empat telepon seluler, satu laptop, dan uang Rp 200 ribu.

Menurut Teguh, ketiga tersangka sempat datang kembali ke rumah Nurbaety pada 15 Juli 2015. “Di situ muncul kecurigaan kami. Karena mereka beralasan mengambil barang yang tertinggal, padahal tidak ada,” ucap Teguh. Mayat Nurbaety ditemukan tetangganya yang hendak bersilaturahmi Lebaran pada Sabtu, 18 Juli 2015. Mereka curiga karena mencium bau busuk dari dalam rumah Nurbaety.

SOFYAN HADI

Comments are closed.