Lewat KPK Tuhan Menghukum Kaligis yang Ingkar

Tersangka kasus suap hakim PTUN Medan OC Kaligis memasuki gedung KPK untuk diperiksa di Jakarta, Rabu (15/7). Pengacara kondang itu diduga menyuap hakim PTUN Medan guna memuluskan kasus yang dia tangani. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/asf/pras/15.
Tersangka kasus suap hakim PTUN Medan OC Kaligis memasuki gedung KPK untuk diperiksa di Jakarta, Rabu (15/7). Pengacara kondang itu diduga menyuap hakim PTUN Medan guna memuluskan kasus yang dia tangani. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/asf/pras/15.

Ketika berusia 60 tahun, OC Kaligis berniat mengabdikan sisa umurnya kepada Tuhan. Ia pun menyatakan berhenti sebagai pengacara. Namun 9 bulan kemudian ia mengingkari janjinya dengan kembali aktif sebagai pengacara. Sebagai akibatnya, boleh percaya boleh tidak, ia dihukum oleh Tuhan. Di usianya yang ke 73 tahun ia harus berhenti beracara karea diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tiga belas tahun silam, saat Otto Cornelis Kaligis berumur 60 tahun, ia menyatakan berhenti sebagai pengacara. Keputusan tersebut dituangkan dalam buku biografinya yang berjudul berjudul “Otto Cornelis Kaligis a Man with Million Surprises” (2013). Di salah satu bagian buku itu, dikisahkan bahwa setelah melakukan perenungan yang mendalam dengan penyerahan diri kepada Tuhan, Kaligis memutuskan untuk berhenti sebagai pengacara pada usia 60 tahun.

Dia  sudah memikirkan pengunduran diri sejak jauh hari, terutama setelah melihat banyak kawan sesama lawyer yang meninggal namun masih menyisakan perkara. “Saya harus tahu diri, lebih baik diberikan kepada generasi penerus. Banyak orang yang jatuh karena tidak bisa mengatakan kepada dirinya. Saya sudah cukup sampai di sini. Terima kasih Tuhan, atas segala yang Engkau berikan,”  ujarnya dalam buku tersebut.

Di usianya yang saat itu mencapai 60 tahun, sudah muncul niat untuk mengabdikan sisa umurnya kepada Tuhan. Sebab, selama menjadi pengacara ia merasa tak punya waktu untuk bekerja bagi Tuhan. Dia merasa Tuhan sudah terlampau baik kepadanya, karena memberikan umur sampai 60 tahun. “Rata-rata pengacara dipanggil Sang Pencipta di usia 65 tahun. Hitungan saya, kalau umur seorang pengacara rata-rata 65 tahun, secara matematika 60 tahun usia saya ini sama dengan telah melewati 92,3% dari hidup yang dianugerahkan Tuhan. Kalau yang sejumlah itu saja telah terlewati dengan begitu cepat sehingga tak terasa, bayangkan apa artinya sisa waktu yang tinggal 7,7% lagi?” begitu hitung-hitungan relijius Kaligis waktu itu.

Namun, ternyata keputusan mundur dengan berbagai kalimat-kalimat religius dan puitis itu hanya bertahan 9 bulan. Dalam suatu rapat di kantor Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Kaligis berubah 180 derajat. Ia mengatakan, di sana ia didaulat untuk turun gunung lagi, aktif kembali sebagai pengacara. Setelah dipikir masak-masak, tidak bisa ditolaknya.

Setelah turun gunung perkara besar pertama yang ditangani OCK adalah Aulia Pohan, besan SBY, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Artalyta Suryani, Bibit-Chandra, kasus Marcella Zalianty dan pembalab Ananda Mikola yang dituduh menganiaya pegawainya, Ariel dan Luna Maya, kasus Tommy Soeharto di Guersey, Swiss.

Singkat cerita, Kaligis mengingkari janjinya. Dia tetap menjadi pengacara hingga Selasa 14 Juli 2015. Dan inilah akibatnya. Selagi berada di puncak tertinggi kariernya selama 38 tahun, dan di usianya yang sudah senja, pada Selasa 14 Juli 2015 itu,  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan O.C. Kaligis, yang biasa juga disapa dengan sebutan Otje, OCK, OC, dan Pak Kaligis,  sebagai tersangka. Kemudian,  menahannya sebagai tersangka dengan dugaan terlibat dalam kasus suap kepada ketua dan hakim PTUN Medan.

Adegan tragis itu pun tampak saat seusai diperiksa KPK selama sekitar lima jam Kaligis keluar dengan mengenakan seragam tahanan KPK berwarna oranye, dikawal para penyidik KPK, dijebloskan ke rumah tahanan KPK cabang Pomdam Guntur, Jakarta.

Selengkapnya baca FORUM Keadilan Edisi No.11, Senin 27 Juli 2015

Comments are closed.