“Ate-ate Ndu, Tuhan…”

Pengungsi erupsi Gunung Sinabung dari Desa Pintu Besi dan Desa Suka Nalu memadati Gedung KNPI, Tanah Karo, Sumut, Selasa (16/6/2015). (Foto: Desi/Sumut Pos)
Pengungsi erupsi Gunung Sinabung dari Desa Pintu Besi dan Desa Suka Nalu memadati Gedung KNPI, Tanah Karo, Sumut, Selasa (16/6/2015). (Foto: Desi/Sumut Pos)

Aktivitas vulkanik Sinabung sulit diprediksi. Erupsinya tidak diketahui kapan berhenti. Kondisi ini memaksa ribuan warga mengungsi. Ada yang pasrah, banyak pula frustasi. Malangnya, derita pengungsi acap menjadi komoditi politik; sejak SBY sampai era Jokowi. Politisi dan pejabat hanya datang menebar janji. Setelah itu, habis manis sepah dibuang.

Kepulan asap Sinabung terus tinggi membubung. Laksana tarian peri di langit, guguran lava pijarnya menebar di angkasa. Laharnya persis ular menjalar di daratan menghanguskan tujuh desa. Bencana ini datang seolah tiada henti. Terus mengamuk, nyaris tak putus sepanjang tahun.

Sinabung terbangun dari tidur panjang selama ratusan tahun. Gunung setinggi 2.460 meter ini meletus pertama pada 2010 silam. Setelah itu, kembali tenang. Namun, medio September 2013 hingga kini, gunung api tertinggi di Sumatera Utara ini terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Kondisi itulah yang memaksa ribuan warga selama tiga tahun berada di pengungsian. Mereka hidup seadanya dengan kondisi memprihatinkan. Ada yang melahirkan dan sekarang anaknya sudah bisa berjalan. Ada pula yang desanya sudah hilang berubah menjadi hamparan. Meski sangat kesal dan cemas, tidak lantas membuat para korban Sinabung memusuhi Tuhan.  Mereka tetap bersabar, beribadah dan berdoa kepada Sang Kuasa agar mengakhiri bencana. “Ate-ate Ndu, Tuhan (Kami berserah padaMu, Tuhan),” ucap Ketua PD Alwashliyah Karo, Robert Sinuhaji usai sholat Idul Fitri pekan lalu.

Letusan disertai luncuran awan panas Sinabung tidak menghalangi umat Islam di Tanah Karo untuk beribadah. Selama Ramadan kemarin, mereka tetap puasa dan melaksanakan tarawih berjamaah. Mereka juga antusias merayakan lebaran. “Idul Fitri semakin memupuk kekompakan dan rasa senasib sepenanggungan. Pengungsi beragama Islam mendapat salam lebaran dari yang nonmuslim. Mereka hidup rukun di penampungan,” tutur Abdullah Daulat Sitepu, Ketua PC Muhammadiyah Simpang Empat.

Aktivitas vulkanik Sinabung masih sulit diprediksi. Tak ada yang bisa memastikan kapan mereda atau bahkan meletus lagi. Para geolog hanya memprediksi gunung akan meletus eksplosif jika terkena gempa tektonik. “Kalau ada gempa tektonik yang datang tiba-tiba, besar kemungkinan bisa memicu Sinabung meletus,” kata Koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara, Ir Jonathan Tarigan.

Sinabung memang sempat dilaporkan di ambang ledakan dahsyat. Sebab, busurannya sudah berada di garis cincin api, dalam rangkaian garis patahan yang membentang belahan bumi melalui Jepang dan Asia Tenggara. Statusnya juga di level awas, yakni tingkat siaga tertinggi untuk gunung api aktif menjelang ledakan dahsyat. Apalagi letaknya masuk dalam siklus gempa tetap dengan durasi antara setahun hingga sepuluh tahun. “Siklus gempa tetap itu muncul karena geografi Tanah Karo dan sembilan wilayah lainnya berada pada tiga jalur patahan gempa sepanjang 475 kilometer yang membentang dari kawasan pantai barat hingga ke dataran tinggi Sumatera Utara,” sebut Jonathan Tarigan beberapa waktu lalu.

Tiga jalur patahan gempa itu adalah Renun, Toru, dan Angkola.  Patahan Renun melintasi empat kabupaten, yakni Pakpak Bharat, Dairi, Karo, dan Toba Samosir. Kemudian patahan Toru melintasi Humbang Hasundutan, Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Sedangkan patahan Angkola hanya melintasi Kabupaten Mandailingnatal (Madina). “Di tiga jalur patahan ini, pernah terekam sejumlah gempa dengan kekuatan antara 4,2 SR hingga 8,0 SR,” papar Jonathan Tarigan seraya menghimbau warga agar tidak panik menghadapi bencana.

Kemungkinan Sinabung meletus dahsyat, tidak dibantah serta tidak pula dibenarkan petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Arif Cahyo. “Alat secanggih apapun tidak bisa memprediksi ledakan Sinabung maupun gempa bumi,” tegasnya.

Arif mengaku banyak menerima isu tentang ledakan dahsyat Sinabung. “Kita bekerjasama dengan ahli gunung api dari Amerika dan Jepang. Peralatan canggih mereka sudah ditempatkan di pos pengamatan. Sampai saat ini tidak terdeteksi adanya potensi ledakan dahsyat,” sebut petugas Pos Pengamatan Gunung Sinabung itu.

Sinabung, ujar Arif, memang memiliki karakteristik khas. Sangat sulit diprediksi. Berbeda dengan gunung api lainnya di Indonesia. Ketika aktivitasnya mereda dan warga diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing, gunung itu justru menggeliat. Ledakan kuat dan luncuran awan panasnya menewaskan 17 orang. “Beberapa gunung api seperti Kelud dan Merapi, lebih mudah kita prediksi dan sekali ledakan kemudian berhenti. Tapi Sinabung memang berbeda dan sangat sulit diprediksi. Entah sampai kapan aktivitas gunung ini akan berhenti,” katanya.

Arif menganalogikan letusan Sinabung ibarat orang lari marathon. Aktivitas vulkaniknya lebih panjang. Itulah sebabnya PVMBG memberlakukan status awas atau level IV. Area radius 3 km dari kawah aktif wajib dikosongkan. “Masyarakat dan wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak,” tukasnya.

Pihaknya telah merekomendasikan kepada instansi terkait untuk mengevakuasi warga dari radius 7 km di sektor selatan-tenggara Sinabung. Meliputi area Desa Pasir Pinter Gurukinayan-Simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, jembatan Lau Benuken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pejumaan Tigabogor, Desa Pintumbesi dan Desa Jeraya. Pasalnya, semua kawasan itu dalam ancaman terpaan awan panas. “Ada pertumbuhan kubah lava baru di sektor ini. Dari semula 1,5 juta meter kubik pada 28 April lalu, kini telah menjadi 3 juta meter kubik. Bila kubah lava ini ambruk akibat desakan dari dalam gunung, akan terjadi luncuran awan panas yang jangkaunnya bisa mencapai radius 7 km dari bibir kawah. Warga di sektor selatan-tenggara menjadi sangat terancam keselamatannya,” papar Arif.

Warga Desa Kutatenggah yang berada di sektor tenggara-timur (radius 6 km) dari bibir kawah juga harus dievakuasi. Begitu pula warga Desa Sukanalu, Sigarang-garang, Kutarakyat, Kutagugung, Lau Kawar dan Mardinding. “Seluruh desa ini masuk dalam kawasan rawan bencana III dengan potensi ancaman berupa hujan abu lebat dan lontaran material vulkanik,” pungkasnya.

Tak menentunya status Sinabung membuat kondisi warga juga tak menentu. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan lahan sumber penghidupan selama bertahun-tahun. Kini mereka hanya bisa menunggu di lokasi-lokasi pengungsian. Berharap semoga Sinabung kembali tenang agar bisa melanjutkan hidup.

Selengkapnya majalah FORUM Edisi No. 11, tanggal 27 Juli 2015

Comments are closed.