Tarik Ulur Nasib Mitratel

Gedung PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel)--http://static.inilah.com
Gedung PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel)–http://static.inilah.com

Penjualan sudah direncanakan jauh hari dan di masa Jokowi sinyal tukar guling akan dilaksanakan. Ditentang banyak pihak.

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) sedang menunggu nasib untuk dieksekusi. Perusahaan menara komunikasi yang berdiri di bawah bendera PT Telkom Tbk ini dianggap tidak menguntungkan, sehingga akan ditukar-gulingkan dengan PT Tower Bersama Tbk. Rencana penjualan saham Mitratel ini sudah lama digagas, bahkan saat pemerintahan masih dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun langkah maju dari rencana ini baru terlihat jelas ketika era kepemimpinan beralih kepada Joko Widodo.

Telkom Tbk selaku pemilik Mitratel dan Tower Bersama sudah menyepakati peralihan saham ini dengan cara tukar guling (share swap). Telkom berniat melepas 49 persen saham Mitratel kepada Tower Bersama dengan nilai Rp 2,31 triliun. Pengajuan ini tidak sepenuhnya disetujui Tower Bersama, karena mereka tidak ingin membayar secara tunai, melainkan dengan penukaran 290 juta saham milik mereka. Artinya, nanti Telkom akan memiliki 5,7 persen saham di Tower Bersama.

Perjanjian sudah disepakati pada November 2014. Dalam rencana awal itu, Telkom akan melepas sahamnya di Mitratel secara penuh kepada Tower Bersama melaui dua tahapan. Pada tahap pertama Telkom menukarkan 49 persen saham dengan 290 juta saham baru Tower Bersama. Tahap dua, porsi pertama Telkom menukarkan 29,50 persen saham Mitratel dengan 6,15 persen saham Tower Bersama.

Penukaran baru terlaksana bila hak opsi yang dimiliki Telkom dieksekusi. Tahap dua pada porsi kedua, penukaran 229,55 juta saham baru Tower Bersama dengan 21,50 persen saham Mitratel milik Telkom. Selanjutnya Tower Bersama menerbitkan saham baru sebanyak 479,65 juta saham atau 10 persen modal disetor. Ini di luar kebijakan perusahaan untuk mengalihkan saham treasury sebesar 53,29 miliar.

Chief Executive Officer Tower Bersama, Hardi Wijaya Liong mengakui kemitraan menumbuhkan bisnis Tower Bersama secara signifikan. Saat ini mereka sudah memiliki sekaligus mengoperasikan 11.266 sites dengan 18.028 penyewa menara. Mitratel sendiri memiliki dan mengoperasikan 3.928 menara dengan 4.363 penyewaan. “Skala bisnis Tower Bersama akan bertambah signifikan. Ini jelas kemitraan yang baik,” kata Hardi.

Hal senada disampaikan Direktur Keuangan Tower Bersama, Helmi Yusman Santoso. Menurutnya, mayoritas pemegang saham telah menyetujui rencama pengambil-alihan saham Mitratel. Kesepakatan ini dihasilkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diadakan 27 Februari 2015.

Dalam tahun ini, Tower Bersama menargetkan menambah 2.000 hingga 3.000 penyewaan menara. Target ini tidak akan terpengaruh pada rencana akuisisi Mitratel. “Rencana untuk akuisisi belum ada. Ini bagian dari ekspansi organik,” kata Helmi.

Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi berpendapat lain. Ia menilai kerja sama ini justru rentan merugikan negara. Alasannya jelas pada sistem pembayaran yang tidak dilakukan secara tunai. “Jelas merugikan karena pengaruh gejolak pasar saham. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin harga saham naik atau turun,” kata Uchok.

Ia meminta Presiden Jokowi membatalkan rencana tukar guling agar negara terhindar dari kerugian lebih besar. Masalahnya, kata dia, Mitratel merupakan perusahaan yang memiliki masa depan cerah. “Sungguh sayang perusahaan bagus seperti ini dilepas,” tandasnya.

Selengkapnya di FORUM Edisi 09, 29 Juni 2015

Comments are closed.