Membongkar Mafia di PMI Pangkal Pinang

Kantor PMI Pangkal Pinang (foto Romli Muktar)
Kantor PMI Pangkal Pinang (foto Romli Muktar)

PMI Pangkal Pinang dililit berbagai persoalan. Saling lapor ke pihak kepolisian pun terjadi.

Borok PMI Cabang Pangkalpinang kian terbongkar. Mantan  Direktur Unit Donor Darah (UDD), dr Dekkie Yoseph yang dilaporkan telah menggelapkan dana hibah PMI Cabang Kota Pangkalpinang senilai Rp 200-an juta, Selasa lalu 16 Juni lalu kini balik melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi di tubuh  PMI Pangkalpinang yang mencapai Rp 900 juta lebih. Ia menyatakan adanya dugaan penggelapan uang yang lebih besar lagi, yaitu Rp 909.388.850 yang terjadi pada Unit Donor Darah (UDD) tahun 2007-2012 dilakukan oleh mantan pengurus PMI, berinisial LR dan kawan-kawan.

Saat bergabung dengan PMI Pangkalpinang tahun 2013 lalu, sebagai Direktur UDD, Dekkie mengungkapkan bahwa pihak PMI sudah menanggung hutang sebesar Rp909.388.850. Dengan rincian, Rp701.386.850 kepada UDD Pusat Jakarta, Rp79.550.000 kepada PT Abhimata Manunggal Jakarta, dan Rp128.452.000 kepada CV Hosvita Jaya Palembang.

Dalam masa bakti kepengurusannya, Dekkie berhasil melunasi semua hutang tersebut. Bahkan, dia masih bisa melakukan pembangunan gedung yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Wakil Presiden 2004-2009 dan ketua PMI Pusat, Jusuf Kalla pada tanggal 11 Desember 2013.

Hal yang dipertanyakan Dekkie adalah kemana uang yang ada, sehingga PMI Pangkalpinang di era kepemimpinannya harus menanggung hutang sedemikian besar. “Hutang tersebut murni dilunasi dari hasil kantong darah, dari Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) yang sebulan pernah mencapai 1.006 kantong darah selama sebulan. Satu kantong bisa dihargai Rp 360.000. Kita ambil saja Rp60.000 sedangkan Rp 300.000 untuk operasional, kantong dan sebagainya. Dalam 3 bulan, PMI sudah ada pemasukan sekitar Rp 60.000.000. Hitung bagaimana kalau setahun? Jadi, pelunasan tersebut tidak menggunakan dana hibah sama sekali,” terang Dekkie dalam konfrensi persnya Rabu  17 Juni.

Menurut dia, saat itu, LR menjabat sebagai Bendahara PMI Cabang Pangkalpinang. Hutang-hutang tersebut muncul saat masa jabatan LR. Namun, sebelum  persoalan hutang tersebut lunas, LR sudah diberhentikan oleh Pengurus PMI Pangkalpinang per 31 Juli 2013. “Dia diberhentikan tanpa laporan dan tindak lanjut yang jelas. Malah, saya bisa melunasi hutang-hutang tersebut, bahkan menambah aset tanpa bantuan hibah sama sekali. Jadi, kemarin uangnya dipakai kemana?” tanya Dekkie.

Disinggung apakah ada sangkut pautnya persoalan laporan terhadap dirinya, Dekkie menampik bahwa dia membalas oknum-oknum tersebut. Dia lebih menyerahkan kasusnya kepada pengacaranya dan untuk ditangani pihak kepolisian. “Kalau itu lain persoalan. Saya sudah serahkan kepada pengacara. Tapi dengan adanya laporan ini, saya mempertanyakan juga kenapa saya dilaporkan menggelapkan dana hibah,” tukas Dekkie.

Tidak hanya itu, Dekkie juga mempertanyakan ketidakprofesional dalam kepengurusan  UDD PMI dimana pengelolanya adalah oknum PNS yang tidak memiliki keilmuan tentang darah yang merangkap jabatan dan mengangkat anaknya dan istrinya sebagai bendahara UDD PMI Pangkalpinang.  “Bayangkanlah kalau PMI Kota Pangkapinang pengurusnya satu keluarga, usaha darah sudah jadi bisnis keluarga,” pungkasnya.

Selengkapnya di FORUM Edisi 09, 29 Juni 2015

Comments are closed.