Harga Bawang Meroket, Mafia Bawang Bermain

Pedagang Bawang Merah di Pasar Tradisional (antara)
Pedagang Bawang Merah di Pasar Tradisional (antara)

Dumai, FK — Jelang masa puasa harga kebutuhan pokok naik di seluruh Indonesia. Termasuk bawang merah. Catatan Menteri Pertanian Amran Sulaiman harga bawang merah di sejumlah daerah di Indonesia saat ini berada di atas harga rata-rata pasar Rp13.500. Tapi itu catatan di kertas pejabat. Kenyataan di lapangan jauh berbeda.

Catatan per Senin (1/6), harga bawang merah di tingkat produsen terendah yaitu di Garut, Jawa Barat. Sedangkan harga tingkat produsen tertinggi terjadi di Lombok yaitu Rp33.600 per kilogramnya. Di Palopo, Sulawesi Selatan, harga bawang merah naik menjadi Rp38.000. Padahal beberapa hari lalu hanya Rp28.000 per kg. Kondisi ini membuat Amran mempertimbangkan untuk membuka keran impor lebih lebar.

Di pasar-pasar Dumai, Riau, bawang merah bahkan mencapai Rp45.000. Sebelumnya sekitar Rp40.000. Kisaran harga ini sudah berlangsung sejak lama. Padahal, jika pintu masuk bawang merah di Dumai dibuka, harga bawang merah bisa di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000-an.

Kenapa bisa demikian? Ketua Majelis Persekutuan Pemuda Melayu Serumpun Agoes S Alam menuding pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, sengaja melakukan kebijakan diskriminatif kepada Dumai. Dalam keputusan Menteri Pertanian 2012, pelabuhan Dumai tidak dimasukkan sebagai pintu masuk impor bawang merah. Untuk pasar Sumatera Utara dan Riau, pintu masuk hanya dibuka di Pelabuhan Belawan. Akibatnya harga bawang merah yang seharusnya bisa jauh lebih murah di tingkat masyarakat tidak terjadi. Sejak 2012 harga bawang merah di Dumai ada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000. Masyarakat jelas menjerit.

Pemerintah Kota Dumai dan masyarakat sebenarnya sudah mendesak pemerintah pusat agar memberi perlakuan sama. Sejak akhir 2012 lalu sudah tiga kali rombongan Dumai datang ke Kementerian Pertanian, namun selalu tak mendapat tanggapan. Terakhir Agoes dan rombongan mendatangi staf Menteri Pertanian pertengahan Mei lalu. Mereka membawa bukti adanya Mafia Bawang yang menyebabkan harganya melambung. Tapi hingga kini belum ada tanggapan serius.

“Kami di Dumai diperlukan diskriminatif. Ada beberapa aturan yang dibuat Kementerian Pertanian cq Kepala Badan Karantina Pertanian yang membuat harga bawang merah di sini selalu tinggi. Padahal kalau pintu Dumai dibuka harganya bisa jauh di bawah sekarang. Bisa Rp18.000 hingga Rp20.000,” jelas Agoes.

Tahun lalu Majelis Persekutuan Pemuda Melayu Serumpun (Agoes cs) melakukan investigasi. Ditemukan banyak pelanggaran. Antara lain, bawang merah impor masuk di satu pelabuhan rakyat. Padahal ketentuannya harus lewat Belawan. “Kami punya bukti,” jelas Agoes. Bukti-bukti lain menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan aparatur di daerah sengaja membiarkan pelanggaran itu terjadi.

FORUM akan menelusuri adanya Mafia Bawang itu.

jotz

Comments are closed.