PICTURE: Menanggapi Sabda Raja Yogyakarta

Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kiri) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kedua kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kanan) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5). Diskusi tersebut menanggapi ucapan Sultan yang mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan ke putera mahkota. Sehingga ke depan, bisa saja Keraton dipimpin oleh seorang perempuan. Sultan juga menjelaskan jika dua hal itu merupakan dawuh (perintah) dari Allah melalui ayahnya, eyang-eyangnya, para leluhur Mataram, sehari sebelum Sabda Raja dan Dawuh Raja tersebut disampaikan. FORUM/Arief Manurung
Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kiri) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kedua kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kanan) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).
Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kiri) bersama Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5). Diskusi tersebut menanggapi ucapan Sultan yang mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan ke putera mahkota. Sehingga ke depan, bisa saja Keraton dipimpin oleh seorang perempuan. Sultan juga menjelaskan jika dua hal itu merupakan dawuh (perintah) dari Allah melalui ayahnya, eyang-eyangnya, para leluhur Mataram, sehari sebelum Sabda Raja dan Dawuh Raja tersebut disampaikan. FORUM/Arief Manurung
Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kiri) bersama Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).
Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kiri) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kedua kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kanan) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5). Diskusi tersebut menanggapi ucapan Sultan yang mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan ke putera mahkota. Sehingga ke depan, bisa saja Keraton dipimpin oleh seorang perempuan. Sultan juga menjelaskan jika dua hal itu merupakan dawuh (perintah) dari Allah melalui ayahnya, eyang-eyangnya, para leluhur Mataram, sehari sebelum Sabda Raja dan Dawuh Raja tersebut disampaikan. FORUM/Arief Manurung
Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kiri) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kedua kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kanan) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).
Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kedua kanani) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kiri) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5). Diskusi tersebut menanggapi ucapan Sultan yang mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan ke putera mahkota. Sehingga ke depan, bisa saja Keraton dipimpin oleh seorang perempuan. Sultan juga menjelaskan jika dua hal itu merupakan dawuh (perintah) dari Allah melalui ayahnya, eyang-eyangnya, para leluhur Mataram, sehari sebelum Sabda Raja dan Dawuh Raja tersebut disampaikan. FORUM/Arief Manurung
Mantan Ketua Tim Kerja RUU Keistimewaan Yogyakarta Komite I DPD RI yang juga mantan senator asal Papua Paulus Yohanes Sumino (kedua kanani) bersama Peneliti Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Joseph Kristiadi (kiri), Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Dodi Riyadmadji (kedua kiri) dan Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Karsono Hardjo Saputra (kanan) menjadi pembicara dalam Dialog Kenegaraan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).

Diskusi tersebut menanggapi ucapan Sultan yang mengeluarkan perintah yang mengganti gelar anak pertamanya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang selama ini diperuntukkan ke putera mahkota. Sehingga ke depan, bisa saja Keraton dipimpin oleh seorang perempuan. Sultan juga menjelaskan jika dua hal itu merupakan dawuh (perintah) dari Allah melalui ayahnya, eyang-eyangnya, para leluhur Mataram, sehari sebelum Sabda Raja dan Dawuh Raja tersebut disampaikan. FORUM/Arief Manurung

Comments are closed.