KPK IKLAN

Novel Kembali Praperadilankan Polri

Novel Baswedan Saat Dijemput Tim Bareskrim di Rumahnya (kriminalitas.com)
Novel Baswedan Saat Dijemput Tim Bareskrim di Rumahnya (kriminalitas.com)

Jakarta — Kuasa hukum Novel Baswedan yang tergabung dalam Tim Advokasi Anti Kriminalisasi mengajukan gugatan praperadilan atas penyitaan dan penggeledahan yang dilakukan penyidik Bareskrim Polri di kediaman Novel pada 1 Mei.

“Kami keberatan dengan penyitaan dan penggeledahan yang tanpa izin dari pengadilan negeri setempat,” ujar kuasa hukum Novel, Bahrain usai mendaftarkan perkara praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (11/5).

Selain itu, kuasa hukum Novel menganggap 25 barang yang disita oleh penyidik Bareskrim tidak ada hubungannya dengan tindak pidana yang disangkakan pada Novel.

Barang-barang tersebut antara lain fotokopi kartu keluarga (KK), berkas fotokopi izin mendirikan bangunan (IMB), fotokopi pernyataan lunas kredit perumahan rakyat (KPR), fotokopi sertifikat tanah, fotokopi surat nikah dan sebagainya.

Kendati penyidik Bareskrim telah mengembalikan 25 barang tersebut pada 7 Mei 2015 melalui Berita Acara Pengembalian Benda Sitaan, namun pihak Novel menilai ada kejanggalan dalam tindakan penyitaan itu diantaranya tidak Surat Perintah Penggeledahan dan Surat Perintah Penyitaan yang ditandatangani penyidik.

Pada saat salah satu kuasa hukum Novel, Krisbiantoro, menanyakan terkait surat tersebut, penyidik menjawab bahwa Surat Perintah Penggeledahan sudah dibawa oleh kuasa hukum lainnya yaitu Muji Kartika. Padahal penyidik tidak pernah memberikannya.

Sementara itu, anggota tim TAKTIS Julius Ibrani menyatakan bahwa tindakan penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan oleh penyidik Bareskrim Polri yakni AKBP Agus Prasetyono, AKBP T.D. Purwantoro, dan Kompol Suprana tersebut sedikitnya telah melanggar empat pasal dalam KUHAP tentang izin dan pembuatan BAP serta tujuh pasal dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Perkara Tindak Pidana di Kepolisian.

Pasal yang dilanggar antara lain Pasal 33 dan 34 KUHAP tentang Penggeledahan, Pasal 38 ayat 1 dan Pasal 39 ayat 1 KUHAP tentang Penyitaan.

“Fakta bahwa barang sitaan tersebut baru dikembalikan enam hari kemudian menunjukkan bahwa tidak ada itikad baik dalam menjalankan Perkap tersebut,” tuturnya.

Selain itu, pengembalian benda sitaan juga tidak bisa menghapus kesalahan prosedur dan kerugian yang muncul akibat tindakan penggeledahan dan penyitaan.

Dalam permohonannya Novel menuntut ganti rugi sebesar Rp1 miliar untuk pendidikan antikorupsi di beberapa daerah di Indonesia seperti Bengkulu, Makassar, Kupang, Kotawaringin Barat, dan Jayapura.

Sebelumnya pada Senin (4/5) kuasa hukum Novel juga mendaftarkan permohonan praperadilan atas tindakan penangkapan dan penahanan oleh penyidik Bareskrim Polri yang dinilai janggal dan tidak bertujuan untuk menegakkan hukum.

Sidang perdana permohonan praperadilan pertama Novel tersebut akan digelar 25 Mei.

Proses hukum terhadap Novel dimulai sejak Jumat (1/5) pagi yaitu sekitar pukul 00.30 WIB Novel dijemput paksa oleh penyidik Bareskrim Polri untuk dibawa ke Bareskrim.

Dalam perkara ini, Novel diduga keras melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan atau seseorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan sarana paksaan, baik untuk memeras pengakuan maupun untuk mendapat keterangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 Ayat 2 KUHP dan atau pasal 422 KUHP Jo Pasal 52 KUHP yang terjadi di Pantai Panjang Ujung Kota Bengkulu tanggal 18 Februari 2004 atas nama pelapor Yogi Hariyanto.

Novel Baswedan dituduh pernah melakukan penembakan yang menyebabkan tewasnya Mulyadi Jawani pada 2004.

Pada Februari 2004, Polres Bengkulu menangkap enam pencuri sarang walet, setelah dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi di pantai, keenamnya ditembak sehingga satu orang yaitu Mulyadi Jawani, tewas.

Novel yang saat itu berpangkat Inspektur Satu (Iptu) dan menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dianggap melakukan langsung penembakan tersebut.

Ant/YD

You might also like

Comments are closed.