Rencana Baru Laoly: Berikan Remisi Buat Koruptor

Para Buron Kasus Korupsi (listkoruptorindonesia.wordpress.com)
Para Buron Kasus Korupsi (listkoruptorindonesia.wordpress.com)

Jakarta — Selalu ada yang baru dan kontroversial dari Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly. Sabtu lalu (14/3), ia mengungkapkan rencana memberi remisi dan pembebasan bersyarat kepada terpidana korupsi dengan mengubah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan.

Sontak saja, rencana Laoly ini mengundang reaksi.

Aktivis tahun 1980-an yang tergabung dalam Pusat Informasi Jaringan Aksi Reformasi (Pijar) menolak rencana pemerintah memberi remisi kepada koruptor.

“Koruptor jangan dapat remisi karena perbuatannya itu extra-ordinary crime, kejahatan luar biasa yang terorganisir,” kata Koordinator Aksi Toni Listiyanto di Jakarta, Minggu (15/3).

Toni menilai apabila koruptor mendapat remisi maka tidak ada efek jera pada koruptor.

“Seharusnya tidak ada remisi terhadap koruptor untuk efek jera. Apalagi besarnya dampak yang ditimbulkan dari perbuatan mereka bagi bangsa,” ujar Toni.

Para aktivis 1980-an yang tergabung dalam Pijar kembali bersuara di tengah situasi politik Indonesia saat ini yang dinilai sudah meresahkan. “Sudah sekitar sebulan ini kami mulai reuni lagi, mulai turun lagi karena melihat situasi politik Indonesia yang carut marut,” kata Toni Listiyanto.

Ketua Setara Institute Hendardi mengakui remisi dan pembebasan bersyarat secara normatif adalah hak setiap narapidana, termasuk pelaku kejahatan korupsi. Namun pemberian remisi dan pembebasan bersyarat tidak bisa diobral.

“Karena itu tanpa alasan yang sah tidak bisa dilakukan pembatasan apalagi penghilangan hak tersebut. Namun, remisi dan PB juga tidak bisa diobral. Hak itu harus diberikan dengan standar akuntabilitas yang tinggi sehingga tidak melukai rasa keadilan,” ujar Hendardi dalam keterangan persnya.

“Betul koruptor memiliki daya rusak tinggi, tetapi penanganannya tetap tunduk pada sistem pemidanaan dan pemasyarakatan. Bukan logika saling balas dendam.”

Setujukah Anda?

Ant/M/JMS/jotz

You might also like

Comments are closed.