Greenpeace Cari Aman Terkait Konflik APP-Warga Tebo, Jambi

Makam Indra, seorang petani Tebo, Jambi yang diduga tewas dianiaya sekuriti PT WKS, anak perusahaan APP (Walhi Jambi)
Makam Indra, seorang petani Tebo, Jambi yang diduga tewas dianiaya sekuriti PT WKS, anak perusahaan APP (Walhi Jambi)

Pekanbaru — Organisasi non-pemerintah, Greenpeace, dinilai mencari aman atas konflik yang terjadi antara PT Asia Pulp dan Paper (APP) dengan masyarakat tempatan yang menewaskan seorang petani, Indra Pelani (22), di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

“Selama ini Greenpeace mendukung APP itu kenapa? Kalau, misalnya, sudah ada suatu kepentingan, berarti dia sudah melenceng dari misi yang pro terhadap lingkungan,” kata Guru Besar Lingkungan Hidup Universitas Riau, Prof Adnan Kasri di Pekanbaru, Kamis (5/3).

Dia mempertanyakan kepada organisasi non pemerintah yang memiliki kantor pusat di Belanda itu atas hubungan “dekat” dengan APP yang memproduksi bubur kayu dan kertas sekitar 2,3 juta ton per tahun melalui PT Indah Kiat Pulp and Paper yang berada di daerah Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Perselisihan terjadi antara PT Wira Karya Sejati (WKS) dengan masyarakat tempatan atas lahan seluas 3.700 hektare dan di kelompok serikat tani Tebo hanya 1.500 hektare di Desa Lubuk Madrasah terdiri atas 300 kepala keluarga dan 130 keluarga sudah tinggal di lahan ini sejak tahun 2006.

Pada 2013, masyarakat memberi mandat kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan PT WKS, anak perusahaan Sinar Mas Grup untuk mengembalikan lahan seluas 1.500 hektare kepada warga tempatan atau petani.

Namun, pada Jumat (27/2), Indra Pelani, warga Dusun Pelayang Tepat, Desa Lubuk Madrasah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, sebagai koordinator untuk warga dalam menyelesaikan konflik lahan yang terjadi antara petani dengan PT WKS, perusahaan milik APP ditemukan tewas.

Greenpeace dalam pernyataannya sangat terpukul dengan berita kematian itu dan mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap korban serta menarik diri dalam setiap keterlibatan dengan seluruh operasi APP dan fokus untuk mendorong penyelesaian isu serius guna memperoleh keadilan.

“Biasanya Greenpeace itu berdiri pada kebenaran lingkungan. Itu yang saya tahu karena Greenpeaces selama ini membantu APP, supaya perusahaan tersebut mengindahkan kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan yang berwawasan lingkungan,” katanya.

Dia mencontohkan, seperti membuat kawasan konservasi dunia Cagar Biosfer Giak Siak Kecil-Bukit Batu yang berada di Riau. “Itu kita dukung, karena di samping perusahaan mencari keuntungan, mereka juga peduli dengan lingkungan hidup,” kata Adnan.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Greenpeace Global Indonesia memberi bantahan terkait pernyataan yang diberikan guru besar itu. “Setiap kampanye penyelamatan lingkungan, kamu percaya pada nilai-nilai anti kekerasan. Karena itu Greenpeace mengutuk keras terhadap setiap kekerasan termasuk pada kasus Tebo,” katanya.

“Greenpeace berkampanye untuk memastikan sektor swasta yang punya komitmen kuat seperti APP dalam melindungi hutan, gambut dan menghargai hak masyarakat serta menjalankan itu hingga ke tingkat paling bawah,” katanya.

Ketujuh petugas keamanan PT Wira Karya Sakti dengan dugaan pelaku pembunuhan Indra Pelani, seorang petani Bukit Rinting Desa Lubuk Madrasah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, diperiksa intensif penyidik Polda Jambi setelah menyerahkan diri.

Kabid Humas Polda Jambi, AKBP Almansyah mengatakan, pasca menyerahkan diri ke Polda Jambi, ketujuh pelaku pembunuhan itu masih terus diperiksa intensif penyidik kepolisian.

“Pelaku pembunuhan telah menyerahkan diri yakni Jemi Hutabarat (28), Zaidan (18), M Ridho (24), Febrian (29), Deispa (28, Asmadi (33) dan, Ayatolah Khomeni (25),” ujarnya.

Jasad korban Indra ditemukan setelah dibuang oleh pelaku. Pada saat ditemukan, korban mengalami luka empat tusukan pada bagian kepala dan di sekujur tubuh dengan luka sayatan senjata tajam.

Kemudian saat ditemukan korban dalam kondisi tangan dan kakinya diikat pakai tali, sedangkan mulut diikat pakai baju korban dan kepala korban terbenam di dalam rawa-rawa.

Ant/MS

Comments are closed.