Veteran Perang Konfrontasi Indonesia-Malaysia Terlupakan di Nunukan

foto Narotama
Ismail Ahmad Menunjukkan Fotokopian (narotama/forumkeadilan)

FORUM Keadilan, Kalimantan Utara, Selasa 10 Pebruari 2015. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Namun itu tidak berlaku pada Ismail Ahmad (74) veteran konfrontasi Indonesia – Malaysia. Berperang membela Republik Indonesia dan mengangkat martabat bangsa menjadi harga mati bagi pemuda-pemudi diera perang kemerdekaan, tidak kecuali bagi ratusan warga diperbatasan Nunukan pada saat itu. Ratusan pemuda turut serta memperjuangkan NKRI bersama prajurit TNI  KKO dalam perang Konfrontasi tahun 1963-1964.

Dibalik semua cerita pilu dari mereka yang ikut memanggul senjata mempertahankan wilayah NKRI dalam perang Dwikora di perbatasan Kalimantan Utara, Kabupaten Nunukan,  nama Ismail Ahmad warga asli Nunukan hampir dilupakan oleh generasi muda dan pemerintah kabupaten Nunukan.

Lelaki tua berusia 74 tahun sempat bangga menerima anugerah penghormatan sebagai veteran perang konfrontasi yang berupa tanda jasa Setya Lencana Wira Dharma dari Jendral TNI A H Nasution, dan piagam penghargaan terima kasih dari Presiden Soeharto. Namun sayang maklumat bintang jasa pejuang kemerdekataan dan piagam penghargaan tidak membuat jerih payahnya terdaftar sebagai pejuang penerima pensiun anggota Legiun Veteran RI.

Ismail hidup bersama istri dan empat anak dalam lingkaran garis kemiskinan, rumah dipinggiran sungai berukuran sekitar 4 x 8 adalah hadiah dari belas kasih sahabatnya yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua DPRD Nunukan. Rumah gubuk berdinding papan menjadi saksi kesedihan mantan pejuang yang saat ini terkulai layu meratapi penyakit lumpuh yang diteritanya sejak enam bulan terakhir.

“Saya sudah tidak mampu berdiri, berjalan lagi. Tiap hari hanya duduk dan berbaring mengbiskan waktu tua ditemani anak-anak dan istri. Terkadang saya sedih memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil-kecil,” ratap Ismail yang ditemani dua anaknya.

Sejak menderita sakit ataupun sebelum sakit, Ismail belum pernah menerima bantuan ataupun perhatian dari pemerintah setempat. Tidak ada yang namanya gaji pensiun sebagai veteran, ia bahkan belum pernah menerima bantuan sosial sembakau veteran ataupun bantuan selayaknya warga miskin yang menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Ismail mengeluhkan, apa kategori miskin bagi kami sangat membingungkan, tidak sedikit warga miskin tidak menerima bantuan pemerintah, lebih-lebih bagi dia sebagai mantan pejuang. Menurutnya, mungkin pemerintah lupa siapa saya atau mungkin menganggap keluarga mereka tidak diperlukan lagi.

“Entah kenapa mereka melupakan jasa pejuang, atau mungkin mereka tidak mengenali lagi Ismail, maklum rumah saya jauh diujung sungai sepi sangat tidak layak dikunjungi,” sesalnya.  Diceritakannya, usai menerima penghargaan sebagai veteran dari pemerintah, dia sangat bangsa melihat maklumat tanda jasa Presiden RI, selanjutnya sesuai arahan, Ismail mendaftarkan surat veteran ke kantor perwakilan legiun veteran di Tarakan untuk proses pendaftraan penerimaan pensiun.

Namun sayang, urusan yang berbelit-belit dan butuh waktu lama, proses adiminitrasi berbulan-bulan hingga berkas bukti veteran tercecer dan hilang tanpa pertanggungjawaban. Alhasil, nama Ismail Ahamd pejuang perang konfrontasi dari Kabupaten Nunukan tidak terdaftar sebagai penerima pensiun veteran dari pemerintah.

“Kami mengurus berkas di Tarakan, banyak teman-teman kesana, karena urusan berbelit-belit dan adminitrasi sangat panjang, tiba-tiba saat diumumkan nama saya tidak terdaftar,” tuturnya dengan sedih. Saksi hidup perang konfrontasi ini mengaku sempat dipenjara tiga tahun di Malaysia, ia bersama teman-teman prajurit Indonesia tertangkap tentara diraja Malaysia dalam perang itu di Surodong. Perang gerilya masuk hutan dan keluar hutan yang melelahkan hingga mereka kehabisan tenaga untuk bertempur.

Mengenang kisah perang konfrontasi menimbulkan semangat baru bagi Ismail, tapi disaat itupula, lelaki tua renta ini menyesalkan tidak adanya perhatian bagi veteran di Nunukan, pemerintah setempat hanya sesekali memberikan bantuan, itupun terbatas veteran yang terdaftar sebagain penerima pensiun.

“Kami semua veteran Indonesia, kalau membantu berikanlah untuk semua veteran, coba lihat kehidupan saya dan teman-teman lainnya sangat menyedihkan, untuk makan saja sulit apalagi biaya sekolah anak-anak,” tuturnya.
Sejak lumpuh, kehidupan keluarga Ismail praktis bertumpu pada penghasilan istinya sebagai tukang sapu jalanan di kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Nunukan. Dengan pendapatan minim, keluarga veteran ini berharap pemerintah memberi bantuan bea siswa untuk anak mereka sekolah.

“Anak pertama SMP, anak kedua dan ketiga masih SD kelas 1 dan kelas V, anak terakhir umur 4 tahun belum sekolah,  tolong bantu anak-anak ini bea siswa, mereka bangga memiliki bapak veteran,” kata Isamil bercerita pada beberapa wartawan di rumah yang berada di bekas empang (tambak).

Ismail adalah salah satu dari sekian banyak veteran di Nunukan yang tidak menerima pensiun. Kehidupan mereka dibawah garis kemiskinan, bantuan sosial pemerintah pusat dan daerah sering luput mendekati mereka, karena pendataan legiun veteran selalu merujuk data penerima pensiun bukan berdasarkan data keseluruhan anggota veteran di daerah.

Namun, Tuhan Maha Adil mengirimkan Ismail Ahmad seorang istri yang tegar dan bekerja keras yang berasal dari Kediri, Jawa Timur. Pagi hingga sore mencari ikan, kepiting, kerang dan langsung menjualnya, malam hari bekerja menyapu jalanan.
Istri Ismail Ahmad saat ini adalah istri ketiganya. Istri pertama dan kedua telah meninggalkan veteran perang beberapa tahun silam.

Ada 4 anak Ismail dari istri pertama yang sukses dan berhasil di Malaysia. “Anak-anak saya dari istri pertama sudah menjadi warga Malaysia. Saya pernah diajak tinggal di Malaysia,  namun saya menolaknya karena saya cinta Indonesia,” ceritanya.

Narotama/Forum

You might also like

Comments are closed.