[FORUM] Kasus Munir: Komoditi Dua Presiden (2)

Stiker Munir di Tangan Pendemo (indonesiamedia.com)
Stiker Munir di Tangan Pendemo (indonesiamedia.com)

Kasus Pollycarpus memang tebal dengan kontroversi. Sampai sekarang, ia bersikeras bukan pembunuh Munir. Polly sempat mengajukan PK atas putusan PK yang sebelumnya diajukan Kejagung. Saat itu belum ada putusan MK yang menyebutkan PK boleh diajukan lebih dari satu kali. Menariknya, ketika Pollycarpus mengajukan PK, Mahkamah Agung mengabulkannya. Padahal sebelumnya lembaga peradilan tertinggi itu mengabulkan PK yang diajukan Kejaksaan Agung.

Saat Kejagung mengajukan PK, MA mengabulkan dan menghukum Polly dengan pidana penjara 20 tahun. PK diajukan Kejagung karena sebelumnya MA dalam putusan kasasinya menyatakan Pollycarpus tidak terbukti membunuh Munir. Dia hanya dihukum dua tahun penjara karena terbukti menggunakan surat palsu. Putusan kasasi itu membatalkan putusan banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang sebelumnya mengeluarkan putusan yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang saat itu menghukum Pollycarpus dengan pidana penjara 14 tahun.

Jika hanya berkutat tentang polemik soal Polly saja tentu tak akan menjernihkan isi kolam HAM yang terlanjur butek. Pakar Hukum Pidana Muzakir mengajak publik dan aktivis HAM tidak lagi mempersoalkan keputusan bebas bersyarat Polly. Haknya sebagai tahanan sudah diatur dalam undang-undang. “Tidak ada gunanya kalau bebasnya Pollycarpus dipolemikkan,” katanya. Ada persoalan lain yang hingga kini masih gelap: siapa pembunuh Munir yang sebenarnya? Atau siapa yang menjadi aktor intelektual terbunuhnya pejuang HAM asal Batu Malang itu? “Ini yang seharusnya diseriusi. Bukan terfokus pada bebas bersyaratnya Pollycarpus,” kata Muzakir.

jotz

Diambil dari Majalah FORUM Keadilan edisi 31.

Comments are closed.