KPK IKLAN

Bagaimana Narkoba Meracuni Kampus

Pengguna Narkoba (ruri-online.blogspot.com)
Ilustrasi Pengguna Narkoba (ruri-online.blogspot.com)

Kampus sudah lama diincar sindikat narkoba. Awalnya diberi gratis sampai ketagihan. Orang tua dan masyarakat tak boleh tutup mata.

Belakangan ini masyarakat dikejutkan kabar mengenai sejumlah kampus di Ibu Kota yang disinyalir menjadi sarang peredaran narkotika dan obat/bahan berbahaya (Narkoba). Sejak terungkapnya peredaran narkoba di Universitas Nasional (Unas) belum lama ini, Kepala Humas Badan Narkotika Nasional Sumirat Dwiyanto menyebut jika ditemukan setidaknya lima kampus lain yang terindikasi dalam peredaran Narkoba.

Namun, tampaknya hal tersebut bukanlah hal baru, dan bukan terjadi saat ini saja. Pasalnya, jauh sebelumnya, kampus sudah menjadi salah satu sasaran empuk para pengedar narkoba. Dan tidak sedikit mahasiswa yang terjerumus dengan kenikmatan sesaat narkoba. Sekitar tahun 1990-an, pengedar narkoba diketahui sudah dengan leluasa menyasar mahasiswa sebagai korban mereka. Sistem operasi yang mereka terapkan terbilang cukup rapi dan tidak pernah jauh berubah hingga saat ini. Bahkan pihak pengedar pun ikut melibatkan atau menaruh satu kaki tangannya di dalam kampus untuk menjadi distributornya dengan iming-iming sejumlah uang.

Awalnya narkoba paling sering menyusupi mahasiswa yang biasa nongkrong bareng, baik itu di kantin kampus hingga di ruang-ruang UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). “Salah satu dari rekan kami yang nongkrong, yang itu biasanya kaki tangan pengedar mulanya menawari kami untuk mencoba salah satu jenis narkoba,” ungkap mantan mahasiswa pengguna narkoba, sebut saja namanya Rojali, saat ditemui FORUM di salah satu tempat di Jakarta Barat, satu ketika.

Awalnya Rojali memberikan sekali, dua kali hingga tiga kali secara gratis. Dan ketika sang korban sudah mulai tertagih, maka untuk kali keempat korban harus merogoh koceknya untuk mendapatkan barang haram tersebut. Lalu, untuk seterusnya dia harus mengeluarkan duit yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhannya akan narkoba. Itu mungkin tidak akan menjadi beban apabila sang korban berasal dari keluarga yang kaya. Sementara untuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, biasanya mereka urunan/patungan untuk menebus barang haram itu. Tidak jarang akan terjadi cekcok untuk mereka yang beli secara patungan. “Karena apabila pembagiannya tidak merata, maka salah satu atau dua dari mereka tidak terima, dan seringkali mereka berantem. Karena perasaan mereka ini sangat sensitif,” terang pria yang sangat menggemari musik keras itu dengan mimik serius.

Komeng, mantan pengguna narkoba yang masih jadi mahasiwa di satu universitas swasta Jakarta Barat, menuturkan jika tidak sedikit teman-temannya baik itu laki-laki atau perempuan sudah menjadi budak barang haram tersebut. Mereka pun kumpulnya secara per kelompok. Pengguna ganja akan berkumpul dengan teman-teman yang sesama pengguna ganja. Lalu kelompok pengguna sabu akan berkumpul dengan sesama pemakai sabu. Begitu juga dengan pengonsumsi putau maupun heroin.

“Biasanya mereka yang dari kelompok psikotropika memiliki perasaan yang lebih sensitif. Mereka biasanya susah untuk berkumpul atau bergaul dengan teman-teman yang lain,” ungkap Komeng, yang kini sudah berada di semester akhir.

Hampir seluruh UKM di kampus sudah tersentuh narkoba. Bukan hanya UKM musik atau pecinta alam, resimen mahasiswa, yang menjadi salah satu kekuatan sipil yang dilatih dan dipersiapkan untuk mempertahankan NKRI, pun sudah menjadi korban narkoba. Sementara itu, peredaran narkoba di dalam kampus ini sepertinya kurang menjadi perhatian yang serius dari pihak kampus. Entah mereka tidak tahu atau tidak mau tahu. Kalau tidak mau tahu, bisa saja mereka khawatir bakalan sepi peminat apabila kampusnya menjadi sarang peredaran narkoba. Para mahasiswa pengguna narkoba pun terbilang cukup bebas mengonsumsi narkoba di dalam kampus. Bisa mengonsumsinya di toilet, ruang UKM atau himpunan mahasiswa, bahkan di ruang kelas yang kosong. Sementara sang pengedar juga dengan bebas bisa menyimpan barang haramnya di dalam locker mahasiswa yang berada di sekretariat UKM.

Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara mahasiswa yang menggunakan narkoba dan yang tidak menggunakan narkoba. “Yang pemakai sih biasanya dia datang ke kampus tapi tidak masuk ke kelas. Sementara mahasiswa yang bebas narkoba sebaliknya,” lanjut Rojali. Pernah satu ketika salah satu temannya ditemukan tewas, ketika tengah menikmati putau di toilet kampus. Dan mayatnya langsung diamankan oleh teman-teman yang lain, sehingga kejadian tersebut, kata dia, tidak sampai terendus pihak kampus.

Setiap tahun atau ketika masuknya mahasiswa baru, biasanya juga diintai kaki tangan pengedar narkoba. Walhasil mata rantai tersebut tidak pernah terputus setiap tahunnya, dan kemungkinan hal tersebut terus terjadi hingga kini. Pihak berwenang tampaknya juga mengalami kesulitan untuk meringkus mereka, karena para pengguna dan pegedar narkoba di dalam kampus ini selalu memiliki kecurigaan terhadap seseorang yang tampak asing yang masuk ke dalam kampus mereka. Modus peredaran narkoba di sejumlah kampus di Jakarta tak jauh berbeda dengan kampus di kota lain di Indonesia.

Sebenarnya para mantan pengguna narkoba ini memiliki harapan jika ke depannya kampus bisa menjadi tempat menuntut ilmu yang terbebas dari penyalahgunaan narkoba. Sebagai tindak pencegahan, mereka juga menyarankan untuk dilakukan sidak yang rutin dan pemeriksaan urine secara berkala.

Buat orang tua yang memiliki putra atau putri yang tengah menuntut ilmu di bangku kuliah sepertinya harus terus waspada, agar putra-putrinya terjauh dari bahaya penyalahgunaan narkoba.

wbn/jotz

You might also like

Comments are closed.