BPS: Kenaikan BBM Menambah Kemiskinan

Warga Desa di Mataram, NTB (antara)
Warga Desa di Mataram, NTB (antara)

Mataram — Kepala Badan Pusat Statistik Kota Mataram Lalu Putradi mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak berpotensi terjadinya penambahan angka kemiskinan di daerah ini karena daya beli masyarakat pasti akan berkurag.

“Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tentu akan berdampak pada semua sektor kehidupan, sementara pendapatan masyarakat tetap,” katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Selasa (18/11).

Berdasarkan data BPS tahun 2013, angka kemiskinan di Kota Mataram sebesar 10,75 persen atau sebanyak 46.670 jiwa dari total jumlah penduduk 419.000 jiwa, dengan tingkat garis kemiskinan berada di angka Rp359.651.

“Untuk tahun 2014 ini kami belum melakukan penghitungan, biasanya dilakukan pada pertengahan tahun berikutnya, sehingga angka kemiskinan tahun 2014 diperkirakan dikeluarkan sekitar Juni atau Juli 2015,” ujarnya.

Putradi mengatakan, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan adalah, rupiah yang diperlukan agar penduduk dapat hidup layak secara minimum yang mencakup pemenuhan kebutuhan minimum pangan dan nonpangan esensial atau mendasar.

“Dengan kata lain garis kemiskinan adalah harga yang dibayar oleh kelompok acuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kalori per kapita per hari dan kebutuhan nonpangan esensial seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi dan lainnya,” katanya.

Dengan demikian, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam upaya pengendalian harga, agar masyarakat yang berada pada garis kemiskinan tidak turun menjadi miskin.

Selain itu, diperlukan berbagai terobosan program pemerintah agar daya beli masyarakat tetap stabil.

Menurutnya, angka kemiskinan di Kota Mataram dalam lima tahun terakhir terus mengalami penurunan. Hal itu terlihat pada 2008 yang jumlah penduduk miskin di Kota Mataram sebesar 16,13 persen atau sebanyak 61.173 jiwa, turun menjadi 15,41 persen atau 60.637 jiwa pada 2009.

“Kamudian turun lagi pada tahun 2010 sebesar 14,44 persen atau 58.272 jiwa, dan pada 2011 menjadi 13,18 persen atau 53.736 jiwa, serta 2012 sebesar 11,87 persen atau 49.633 jiwa,” katanya.

Dikatakannya, pada pertengahan 2013 terjadi kenaikan BBM dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 untuk premium, namun angka kemiskinan tetap turun menjadi 10,75 persen atau 46.670 jiwa.

“Hal itu dipengaruhi oleh program antisipasi pemerintah dalam upaya menyetabilkan harga berbagai kebutuhan pokok. Langkah inilah yang diharapkan saat ini agar potensi bertambahnya penduduk miskin tidak terjadi,” katanya.

Ant/KR-NKL/N

Comments are closed.