Pinjaman PT Siak Raya Timber di BNI Macet Rp 90 M, Komisaris Cabut ke Singapura

Edmund Kea alias Kea Meng Kwang Beng Tiak (newtownalumni.org)
Edmund Kea alias Kea Meng Kwang Beng Tiak (newtownalumni.org)

Pekanbaru – Bank papan atas BNI kini tengah menghadapi masalah agak pelik. Kredit yang dikucurkan kepada PT Siak Raya Timber (SRT) sebesar Rp 90 miliar, masih tertunggak. Sementara Komisaris Utama PT Siak Raya Timber, Edmund Kea alias Kea Meng Kwang Beng Tiak, yang bertanggungjawab di perusahaan itu, dikabarkan kini berada di Singapura dan telah menjadi warganegara di sana.

Bank plat ini dinilai berbagai kalangan terlalu gegabah memberikan kredit tersebut. Maklum saja, tatkala kredit dikucurkan pada 2011, kayu sebagai bahan baku utama perusahaan SRT yang core bisnisnya di bidang industri plywood (kayu lapis) sudah sulit untuk didapatkan. Hutan alam sudah nyaris habis di Riau, sementara hutan tanaman industri (HTI) untuk industri plywood hingga kini nyaris belum terdengar beritanya.

Terbukti, setahun setelah pengucuran kredit, perusahaan ini pun tak mampu untuk membayar cicilan utang beserta bunga bank. Komisaris Utama PT Siak Raya Timber, Edmund Kea alias Kea Meng Kwang Beng Tiak, yang bertanggungjawab di perusahaan itu, kelihatan tak berupaya untuk menyelesaikan kredit yang telah dikucurkan ke perusahaannya melalui rekening nomor 0181234168 sebesar Rp 47.397.421.206, dan rekening nomor 0181234328 sebesar 48.443.857.519, di BNI Cabang Harmoni, Jakarta, pada 2011.

Hingga kini, menurut sumber, jumlah utangnya berikut bunga sudah lebih dari Rp 100 miliar. Dan sejak mendapatkan kucuran kredit tersebut, manajemen perusahaan ini kabarnya belum pernah membuat laporan tahunan keuangan berkaitan dengan kredit tersebut.

Boleh jadi BNI kini merasa kelabakan karena nilai aset yang dijadikan sebagai agunan sangat tak sebanding dengan jumlah pinjaman yang diterima. Maklum, yang tersisa sekarang di PT Siak Raya Timber hanya berupa bangunan pabrik serta mesin-mesin pengolahan kayu yang kini telah menjadi besi tua. Nilai buku aset perusahaan itu diperkirakan kini hanya tinggal Rp 5 miliar.

Edmund Kea, yang disebut-sebut kini telah berada di Singapura dan menjadi warganegara di sana, memang memiliki catatan yang kurang baik di Riau. Pada 16 Januari 2012 dia ditangkap Polda Riau dalam kasus penipuan lahan seluas 3,6 ha di Jalan Nangka Ujung, Kelurahan Delima. Penangkapan berdasarkan pengaduan: lp/139/V/Riau/SPKP/20 Juni 2011.

Penangkapan dilakukan Dirreskrim umum dengan nomor : SP.KAP/15/1/2012/Reskrimum. Namun, menurut sumber di Polda Riau, kasus ini tak berlanjut ke persidangan karena Edmund telah berdamai dengan pihak-pihak yang mengadukannya ke polisi.

Ketika dihubungi pers, pihak BNI Cabang Pekanbaru mengatakan pemberian kredit tersebut merupakan kewenangan dari BNI Pusat. Direktur Utama BNI, Gatot Murdianto Suwondo, ketika dihubungi melalui telepon selularnya mengatakan akan mempelajari dulu masalah ini. Namun, beberapa saat kemudian, ponselnya tak bisa lagi dihubungi.

Humas BNI Pusat mengaku kini sedang mengumpulkan bahan untuk menjawab masalah ini.

ies/jotz

Comments are closed.