Imigrasi Australia Diskriminatif Kepada WNI

Ilustrasi Passport Imigrasi Australia (migrasi.com)
Ilustrasi Passport Imigrasi Australia (migrasi.com)

Kupang — Richard Julius Joseph Nikijuluw (46), seorang warga negara Indonesia (WNI) merasa diperlakukan secara diskriminatif oleh Imigrasi Australia atas tuduhan bekerja secara ilegal di negara bagian Brisbane.

“Adik saya itu memegang visa turis, bukan sebagai seorang pekerja ilegal di negara bagian Australia itu. Tindakan imigrasi Australia sudah melanggar HAM dan sangat diskriminatif terhadap WNI yang berada di Australia,” kata Mayla Patterson Leonora, saudari kandung Richard yang menghubungi Antara dari Brisbane, Australia, Senin (13/10).

Mayla mengisahkan, pada 8 Oktober 2014, ia meminta bantuan adiknya Richard mengantar para pekerja ke Elite Harvesting, perusahaan yang dipimpinnya. Namun, dalam perjalanan, kendaraan yang dikemudikan Richard ditahan oleh kepolisian lalu lintas di negara bagian tersebut.

“Saya sempat melihat mobil tersebut dari kaca spion saat ditahan polisi. Dalam hati saya, mungkin hanya pemeriksaan biasa sehingga saya juga tidak terlalu menggubrisnya,” ujar Mayla yang juga Direktur Ketenagakerjaan pada Elite Harvesting itu.

Setelah Richard ditahan, kata dia, justru diarahkan untuk melapor ke bagian pemeriksaan imigrasi Brisbane, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang dilakukan sebagai seorang pengemudi.

“Karena adik saya tidak terlalu lancar berbahasa Inggris, maka apa yang ditanyakan pihak imigrasi dijawabnya yes…yes..melulu. Ada beberapa pertanyaan jebakan yang tidak dimengerti oleh adik saya, sehingga menunduhnya sebagai pekerja ilegal dari Indonesia, padahal dia sudah menunjukan visa turis ke Australia,” kata Mayla.

“Saya berdebat hebat dengan pihak imigrasi Australia terkait masalah yang dihadapi oleh Richard, namun tidak digubris oleh petugas imigrasi setempat. Semua pekerja asing dari Indonesia juga melayangkan protes atas tindakan tersebut, namun tetap saja diabaikan begitu saja,” katanya.

Selang dua hari kemudian, kata Mayla, dirinya ditelpon oleh Richard yang mengabarkan bahwa ia sudah berada di Darwin, Australia Utara.

“Saya sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa dirinya sudah dievakuasi ke Darwin. Ini sebuah tindakan yang melanggar HAM dan sangat diskriminatif terhadap WNI, seolah-olah tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan,” katanya.

“Entah bagaimana kondisi adik saya sekarang, saya sendiri juga tidak tahu. Tidak ada komunikasi lagi dengan dia, karena saat menghubungi saya, ia menyewa kartu telepon setempat,” ujarnya.

Ia mengatakan akan segera melapor masalah ini ke pihak pengadilan setempat untuk memprosesnya, karena adanya tindakan diskriminatif dan pelanggaran HAM yang dilakukan imigrasi Australia terhadap Richard Julius Joseph Nikijuluw.

Ant/LM

Comments are closed.