[Fokus] Muslihat Chevron di Bumi Lancang Kuning (I)

Peta Operasi PT CPI (caltex)
Peta Operasi PT CPI (caltex)

Majalah FORUM Keadilan Edisi 40 Thn 22

Beragam cara dilakukan Chevron untuk terus mengeduk minyak bumi Riau. Resminya putus kontrak di Blok Siak, nyatanya Chevron masih beroperasi dengan payung hukum baru. Ada skenario apa di baliknya?

Tak ada yang berubah di lapangan minyak Blok Siak Provinsi Riau meski kontrak PT Chevron Pacific Indonesia di ladang yang menghasilkan minyak sekitar 2000 barrel per hari (bph) itu berakhir pada 27 November tahun lalu. Sebab sampai saat ini, Chevron masih beroperasi di sana. Inilah yang membikin kalangan perminyakan bertanya-tanya: ada apa dengan Chevron?

Begitu kontrak Chevron habis, PT Pertamina ditunjuk oleh pemerintah menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di ladang yang dibelah oleh Blok Rokan (Blok Kangguru) itu. Pertamina tak turun tangan langsung mengelola ladang minyak yang terhampar di wilayah administrasi Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, Siak, Bengkalis dan Rokan Hilir itu, melainkan menunjuk anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi. Begitu Pertamina menjadi KKKS, perusahaan plat merah ini langsung membikin gugus tugas (task force) untuk masa transisi enam bulan sejak kontrak Chevron habis di ladang itu. PT Pertamina Hulu Energi ada di dalam task force tadi.

Dan pertanyaan itu makin tak terbendung manakala mencuat kabar bahwa Chevron kebagian fee dari aktifitas di sana. “Aturan mana yang membolehkan Chevron masih boleh beraktivitas di sana sampai masa transisi enam bulan ke depan berakhir? Dan aturan mana pula yang membikin Chevron mendapat fee dari kegiatan itu? Kalau sekadar proses teknis, tak jadi soal. Tapi Chevron justru masih full beraktivitas di ladang itu. Tak ada yang berubah,” Agung Marsudi, peneliti Duri Institute, sebuah lembaga nirlaba yang getol mengamati perusahaan minyak asing di Riau, dalam sebuah perbincangan ringan dengan FORUM di salah satu sudut Kota Pekanbaru Kamis pekan lalu.

Gara-gara Chevron masih bercokol di sana, makin kuat kecurigaan Duri Institute bahwa perusahaan Amerika itu tak rela Blok Siak jatuh ke perusahaan lain. Sebab apabila Blok Siak leong, akan runyamlah urusan di Blok Rokan. Skenario yang sudah dipraktikkan Chevron di Batang Field –satu dari tiga lapangan di Blok Siak— bakal berantakan. Kalau sudah berantakan, maka rencana Chevron untuk membikin fasilitas Steam Flood terbesar di dunia bakal tinggal kenangan. Begitu kecurigaan Duri Institute.

Supaya Chevron tetap bisa mengelola Batang Field tadi, tak jadi soal apabila kelak Pertamina menjadikan Chevron sebagai joint assistant. Apa pun payung hukumnya bisa dipakai, asal perusahaan Amerika Serikat ini masih bisa beroperasi di blok itu. Sebab Chevron punya kartu truf: Data Reservoar (data cadangan migas). Data ini sama sekali tak dimiliki oleh Pertamina. “Jadi, Pertamina tetap masih membutuhkan Chevron di sana. Bukan sebagai sub kontraktor. Tapi joint assistant yang levelnya sama dengan Pertamina. Artinya, Chevron punya kuasa eksekutor,” kata aktivis Geografic Information System (GIS) ini.

(bersambung)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.