[Forum Utama] Rachmawati Soekarnoputri: Hanung Anti Soekarno

Rachmawati Soekarnoputri (kapanlagi.com)
Rachmawati Soekarnoputri (kapanlagi.com)

Wawancara Rachmawati Soekarnoputri

Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno

Sore itu, Rabu pekan lalu, tepat pada perayaan Hari Natal, hujan mengguyur Jati Padang Raya, Jakarta Selatan. Suasana begitu dingin. Namun, penyambutan yang ramah dari tuan rumah, pemilik rumah bernomor 54 itu, Rahmawati Soekarnoputri, membuat suasana menjadi hangat.

Mengenakan baju hitam, sambil menyeruput teh hangat, penganan serabi manis, putri Bung Karno itu, ditemani sang suami tercinta, menerima FORUM untuk satu wawancara. Dia bercerita banyak soal pembuatan film Soekarno yang kini menjadi polemik di pulik. Berikut keterangan lengkapnya :

Awal cerita pertama kali bekerjasama dengan Raam Punjabi dan Hanung Bramantyo untuk menggarap film “Soekarno”?

Awal muasalnya, saya bikin pagelaran Dharma Githa Maha Guru, dua kali, tahun 2011 dan 2012. Pagelaran itu bercerita tentang perjalanan hidup Soekarno, mulai dari lahir sampai wafat. Pagelaran memang berbeda dengan film. Tapi, inti alur ceritanya tentang perjalanan hidup Bung Karno. Tahun 2001, pada peringatan 100 tahun Bung Karno, saya juga membuat pagelaran berjudul Langen Gita Putra Sang Fajar. Sejak itu sebenarnya, saya sudah berkeinginan membuat film tentang Bung Karno. Banyak kawan budayawan mendorong untuk membuat film beliau.

Pada peluncurun buku saya berjudul Kim Il Sun dan Soekarno, saya sudah mendeklarasikan untuk membuat film Soekarno. Sudah mulai riset dengan mencoba mencari siapa sutradara yang pas untuk diajak kerjasama. Ibu Widyawati memberikan beberapa nama, merekomendasikan Hanung Bramantyo. Saya telepon dan saya undang Hanung ke Universitas Bung Karno (UBK) untuk diskusi.

Berawal dari situ, Hanung mengaku tertarik untuk membuat film “Soekarno”. Saat itu juga saya undang Hanung menonton pagelaran saya. Hanung saat itu mau memperkenalkan saya dengan Raam Punjabi dari Multivision. Kami pun bertemu di salah satu gedung di dekat Sari Pan Pasific.

Saat pertemuan saya utarakan mau membuat film “Soekarno:. Raam Punjabi juga tertarik. Dia mengatakan sangat senang bekerjasama. Saat itu saya tawarkan untuk sharing biaya pun jadi, asal sesuai dengan gagasan saya dan ide saya.

Saat mau membuat film itu, kami juga sempat berdebat terutama dengan Hanung. Hanung mengatakan mencoba menyusun ceritanya, tapi saya mengatakan tetap seperti pagelaran, mulai dari lahir hingga wafat.

Kemudian kami duduk bersama, saya, Raam Punjabi dan Hanung. Saya punya tim di UBK yang mengkaji ajaran Bung karno, mereka saya ajak. Dalam presentasi, saya menginginkan film Bung Karno dimulai sejak lahir sampai hari-hari menjelang wafatnya Bung Karno. Hari-hari Bung Karno, menurut saya yang sebenarnya perlu diungkap karena banyak orang yang tidak tahu. Tapi, Hanung menilai diawali dengan Indonesia merdeka. Untuk menulis skenario saya minta dari tim UBK. Pertamakali kita membedah skenario itu di Novotel, Bogor. Berikutnya, di Grand Kemang.

Di sini sudah saya mulai membaca ada yang aneh. Saya sudah mempercayakan untuk penulisan cerita ke Ben Sihombing, karena saya tetap mengontrol supaya tidak melenceng. Dari skenario pertama, itu nampak sekali, yang dia tulis itu bukan Soekarno. Tim saya juga mengatakan, kenapa peran Sjahrir yang lebih menonjol. Ada juga peran Tan Malaka. Peran Soekarno hanya embel-embel.

Akhirnya saya koreksi, banyak yang saya coret. Saya serahkan lagi kepada Hanung untuk dikoreksi. Skenario kedua juga begitu, isinya malah Soekarno ditempeleng Kempetai, ada bom bunuh diri. Ini tidak klop. Saya revisi, saya serahkan, lama dia baru berikan koreksinya.

Nah, belum selesai saya koreksi, saya minta tim saya koreksi, saya kaget karena kawan-kawan media bertanya apakah sudah mulai syuting film “Soekarno”. Waktu itu saya bilang belum. Saya bilang skenario ketiga belum selesai. Tapi mereka mengatakan, Hanung sudah mulai syuting di Yogyakarta. Kapan? Saya telepon sekretarisnya Raam Punjabi, Ibu Anita, dia bantah. Dia bilang bukan syuting, cuma coba mengambil gambar, tapi di twitter mereka sudah launching. Mereka sudah diumumkan pemeran utamanya ada Ario Bayu.

Seperti apa sebenarnya perjanjian Anda dengan Raam Punjabi?

Dalam perjanjian itu, ada dua hal pokok, yang menjadi hak prerogratif saya. Pertama soal siapa pemeran Soekarno. Saya harus ikut casting, karena yang saya tahu soal karakter dan penampilan Soekarno. Mereka mengatakan, sepakat untuk tidak memakai aktor berpengalaman. Mereka mengatakan, kalau aktor yang kita tampilkan maka yang menonjolnya bukan Soekarnonya, tapi aktornya. Ada dua tiga bulan, kami hunting tapi memang tidak ada yang cocok.

Tiba-tiba saya diundang Raam Punjabi dan Hanung untuk datang ke kantor Multivision, mereka sudah casting tiga aktor untuk saya pilih yang tepat untuk menjadi peran Soekarno. Saya kaget.

(selanjutnya dapat di Majalah FORUM Keadilan edisi No 35 30 Desember 2013-5 Januari 2014)

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.