[Forum Utama] “Ibu Rachma Sendiri Yang Mundur”

Rivai Kusumanegara (dok. pribadi)
Rivai Kusumanegara (dok. pribadi)

Wawancara Rivai Kusumanegara

Kuasa hukum PT Tripar Multivision Plus

Sengketa hukum tentang film Soekarno yang diproduksi oleh PT Tripar Multision Plus bersama sang sutradara Hanung Bramantyo berbuntut panjang. Kini kasus film Soekarno harus dihentikan penyiarannya sesuai dengan perintah Pengadilan Negeri Niaga Jakarta Pusat bernomor: 93/pdt.Sus-HakCipta/2013/PN.Niaga. JKT.PST yang diteken oleh Suharto, juru sita PN Niaga Jakarta Pusat Jumat 13 Desember 2013. 

Berikut ini wawancara Sofyan Hadi dari FORUM kepada Rivai Kusumanegara, kuasa hukum Raam Punjabi Dirut PT Tripar Multivison Plus, Selasa pekan lalu.

Bagaimana tanggapan Anda seputar film “Soekarno” yang kini menjadi permasalahan hukum dan siapa yang dirugikan?

Menurut saya kedua belah pihak itu pada awalnya memang pernah berjanji bersama. Dan kenyataannya memang karena terjadi perbedaan pendapat soal pemilihan pemeran tokoh Soekarno. Juga para pihak ini sudah berpisah secara baik-baik. Ada (surat, red)) pengunduran diri secara tertulis dari Ibu Rachmawati dan ada persetujuan dari pihak PT Tripar Multivision Plus dan Hanung. Jadi sebetulnya ini perpisahannya secara baik-baik. Bahkan di situ (dalam surat pengunduran diri, red) itu dijelaskan Ibu Rachma akan memproduksi sendiri (film, red) “Hari-hari Terakhir”. Dan PT Tripar Multivision sudah menyatakan sendiri akan melanjutkan film ini. Dan tetap memohon dukungan Ibu Rachma.

Kalau memang saling menguntungkan mengapa Ibu Rachma meminta untuk menghentikan film “Soekarno”?

Dari statemen kuasa hukum Ibu Rachma memang seakan-akan ada bahasa ‘ditinggalkan’. Tetapi sekali lagi, sebetulnya Ibu Rachma yang meminta mundur melalui surat per tanggal 8 Juni 2013. Kami mencoba menyelesaikan agar (Ibu Rahma, red) tidak mundur dan mencari solusi lain tetapi rupanya Ibu Rachma memilih itu (mundur, red).

Jika karena film itu tidak sesuai dengan sosok Soekarno menurut saya adalah bagaimana sejarah diinterpretasikan oleh sutradara. Sebuah peristiwa dengan tiga sutradara sudah pasti interpretasinya berbeda-beda. Tapi paling tidak sang sutradara mampu mempertanggungjawabkan apa yang dia sajikan kepada publik. Dan Hanung sendiri membuat dengan pertanggungjawaban profesional.

Menurut Rahmawati film “Soekarno” itu menjiplak opera pagelaran Maha Guru?

Kami perlu klarifikasi silakan…

(selanjutnya di Majalah FORUM Keadilan edisi 35 30 Desember 2013-5 Januari 2014)

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.