Karlina Supelli: Kebudayaan dan Kegagapan Kita

Karlina Supelli (kontras.org)
Karlina Supelli (kontras.org)

Jakarta — Karlina Supelli membacakan pidato kebudayaan bertajuk “Kebudayaan dan Kegagapan Kita” dalam acara tahunan Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Senin malam (11/11).

Tema ini berangkat dari kegusaran suku Dayak di Kalimantan karena hutan yang menjadi tempat tinggal mereka kian dijarah untuk kebutuhan kota. Masyarakat Dayak cemas jika hutan yang merupakan sumber pengetahuan, budaya dan teknologi akan punah dalam beberapa puluh tahun kedepan.

“Marilah kita bayangkan Indonesia 32 tahun kedepan, pada peringatan seabad kemerdekaan. Itulah saat hutan di Kalimantan diramalkan mendekati punah apabila laju pembabatan tidak berkurang,” kata Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya.

Ia menambahkan saat ini kebudayaan yang merancang pendidikan untuk menghasilkan kebaikan tertinggi bagi masyarakat justru tergelincir ke arah nalar ekonomi. Sehingga demi kepentingan pasar, kebudayaan hutan yang menjadi salah satu kearifan lokal bangsa Indonesia dibabat terus-menerus hingga nyaris punah.

Dalam pidato kebudayaanya, Karlina Supelli juga memaparkan data yang mengatakan bahwa Indonesia memiliki indeks kepercayaan konsumen tertinggi (124) diantara 58 negara Asia Pasifik, Amerika Utara, Eropa dan Timur Tengah.

“Kepercayaan orang Indonesia untuk berbelanja bahkan lebih tinggi dari masyarakat di negara makmur seperti Swiss dan Norwegia. Konsumen Indonesia mudah terpengaruh iklan, mungkin kurang jeli,” kata Karlina Supelli mengutip data dari Nielsen Company, Consumer Confidence Quarter 2, 2013.

Ia menambahkan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami proses konsumerisme sebagai bagian perubahan tata dunia baru yang disebut globalisasi.

“Seperti makhluk yang rakus, konsumerisme melahap ruang dan menyerobot lahan hijau untuk pembangunan sentra-sentra bisnis,” kata filsuf berusia 55 tahun ini.

Selain itu ia menambahkan bahwa kini budaya “komentar” telah hadir sejalan dengan kemajuan teknologi. Hal itu berdasarkan data yang ia punya bahwa 95 persen penggunaan internet di Indonesia adalah untuk media sosial.

“Jakarta adalah kota dengan lontaran cuap-cuap tertinggi di dunia, 15twit/detik,” kata Karlina Supelli melansir dari data milik Internet World Stats.

Kemudian ia menambahkan, laju pertumbuhan pengguna teknologi di Indonesia justru tidak sebanding dengan perbaikan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang masih jalan ditempat.

Menjelang akhir pidato kebudayaanya yang berdurasi 98 menit ini Karlina Supelli mengatakan bahwa dibutuhkan komitmen dari generasi muda untuk menjadikan keahliannya sebagai sumbangan hidup untuk masyarakat.

“Para ahli pangan harus menyusun siasat untuk menarik minat anak muda untuk menekuni ilmu pertanian dan perikanan yang kian sepi peminat. Tentu dengan cacatan sesudah lulus mereka tetap bekerja dibidangnya, bukan beralih ke sektor financial,” kata Karlina Supelli disambut riuh tepuk tangan para undangan.

Pidato kebudayaan ini dibuka oleh kolaborasi seniman multimedia, Ricky Babay Janitra dan kelompok Aksan Sjuman and The Committee of The Fest.

Selain itu Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta ini dihadiri oleh 1000 orang tamu undangan yang terdiri dari para pegiat seni dan akademisi.

Ant/*/RB

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.