KPK IKLAN

Ecpat dan Potret Anak-Anak Korban Eksploitasi Seks Komersial

Alexandra Radu (ECPAT Indonesia)
Alexandra Radu (ECPAT Indonesia)

SELAMA ini tak banyak yang mengetahui kehidupan pilu anak-anak korban ekploitasi seksual. Memang banyak berita muncul di berbagai media massa, namun hanya sekilas. Setelah itu, ruang gelap dan tembok tebal kembali mengurung kehidupan anak-anak malang itu

Dinding tebal itu adalah sindikat perdagangan anak untuk tujuan seks komersial. Praktik prostitusi itu umumnya dilakukan malam hari dan tak banyak diketahui publik. Wajah kanak-kanak mereka dipoles dengan gincu dan bedak tebal yang membuat mereka berwujud lebih dewasa dari umurnya. Alih-alih mengentaskan kupu-kupu ingusan itu dari jerat sindikat prostitusi, hukum pun tak pernah berpihak kepada mereka.

“Dinding-dinding itu harus dihancurkan segera dengan terobosan berupa perlindungan hukum yang diterapkan secara konsisten disertai adanya kepedulian bersama,” ucap Ahmad Sofian, Koordinator End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia.

Mengusung masalah besar itulah ECPAT Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Prancis untuk Indonesia menggelar konferensi dengan tema “Perlindungan Hukum bagi Anak-anak Korban Eksploitasi Seksual di Asia Tenggara “. Konferensi regional bertempat di Nusa Dua, Bali, pada 23-24 Oktober 2013 ini akan diikuti 90 peserta, terdiri dari polisi, jaksa, hakim, akademisi, jurnalis dan aktifis perlindungan anak dari negara-negara di Asia Tenggara, Eropa dan Amerika Serikat.

“Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar dijadwalkan membuka konferensi,” kata Sofian.

Pada waktu bersamaan akan digelar pula pameran foto bertajuk “Di Balik Dinding Malam”. Sekitar 30 foto karya Alexandra Randu yang dipamerkan mengangkat tema kehidupan anak-anak korban eksploitasi seksual.

Alexandra Radu adalah jurnalis foto wanita asal Rumania. Ia terlibat dalam proyek ECPAT memotret kehidupan anak-anak perempuan yang terjebak prostitusi di empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Indramayu. Foto-foto diambil sepanjang Juli hingga awal Oktober 2013. Alexandra tak hanya merekam bagaimana kehidupan anak-anak perempuan itu saat bekerja namun juga realitas keseharian mereka.

“Memotret kehidupan anak-anak korban eksploitasi seksual merupakan tantangan tersendiri. Sebagian besar anak-anak itu hidup tanpa harapan. Ini sangat menyedihkan. Saya berharap, foto-foto saya bisa memberi perbedaan dan menghasilkan perbaikan, tak peduli sekecil apapun itu bagi kehidupan mereka,” kata Alexandra.

sukowati/jotz

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.