Hakim Militer Bentak Anggota POM TNI AU Pekanbaru

Sidang Penganiaya Jurnalis di Pengadilan Militer Pekanbaru (kabartv)
Sidang Penganiaya Jurnalis di Pengadilan Militer Pekanbaru (kabartv)

Pekanbaru — Kasus penganiayaan yang menimpa fotografer Riau Pos Didik Herwanto dengan terdakwa mantan Kepala Seksi Personel (Kasi Pers) Lanud Roesmin Nurjadin, Letkol Robert Simanjuntak, mulai disidangkan Senin (16/9) di Oditur Militer Pekanbaru. Dua orang saksi dari penyidik POM AU sempat dibentak hakim karena banyak menjawab tak tahu.

Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi. Empat dari tujuh orang saksi yang didengar keterangannya hadir dalam persidangan. Mereka adalah Didik sebagai saksi pertama yang menjadi korban penganiayaan. Lettu Martono sebagai saksi kedua dan dua orang anggota POM AU sebagai saksi ketiga dan keempat.

Dari keempat saksi itu, majelis hakim yang terdiri dari Hakim Ketua Kolonel CHK Dr Djodi Suranto SH MH serta hakim anggota Kolonel CHK TR Samosir SH MH dan Kolonel CHK Hariadi Eko Purnomo SH sempat marah dan membentak dua orang saksi anggota POM AU yang dihadirkan. Karena, keduanya yang terekam kamera pada saat peristiwa yang menimpa Didik banyak menjawab tidak tahu.

“Saya datang melakukan pengamanan. Saksi I (Didik) terbaring di tanah,” ujar saksi 3 (Lettu Ridwan), dari POM AU ini menjelaskan kehadirannya di lokasi saat itu.

Keterangan saksi ini membuat hakim kembali bertanya, kenapa korban bisa ditemukan dalam keadaan terbaring yang kemudian dijawab saksi tidak tahu. Saksi mengatakan Didik terlihat baik-baik saja. “Dia biasa saja,” kata Lettu Ridwan.

Merespons jawaban saksi ini, hakim lalu menegaskan, bahwa saksi yang merupakan seorang penyidik harusnya mempertanyakan kenapa Didik bisa berada dalam posisi tersebut. “Kalau tidak tahu, kamu bukan penyidik namanya,” semprot hakim.

Hakim lalu mengatakan, bahwa jika seseorang berada dalam posisi terbaring bukan pada tempatnya, seperti Didik yang ditemukan saksi tertidur di tanah, itu buka biasa saja. “Ngapain kamu di sana kalau tidak tahu, tidak tahu,” cetus ketua majelis.

Beberapa pertanyaan hakim kemudian kembali dijawab dengan tidak tahu dan siap oleh saksi. Salah satunya adalah apakah saksi tahu apa yang menimpa Didik. Hakim lalu meminta saksi untuk tidak menutup-nutupi dan berkata jujur. “Yang diperlukan di sini kejujuran. Jangan sampai BAP dibuka. Saksi I (korban) bilang dia menerangkan kepada saudara bagaimana kondisinya,” kata hakim.

Usai mengatakan itu, saksi lalu ditunjukkan BAP yang berisikan tanda tangannya yang sudah memberikan keterangan. Saksi lalu diminta membacakan BAP itu keras-keras di dalam ruang sidang.

“Di BAP pada Poin 8, kapan dan di mana saksi melihat adanya tindakan kekerasan oleh Robert Simanjuntak dan apa ada orang lain? Saya tidak melihat langsung, tapi saya mengetahui ada dugaan kekerasan, bahwa korban terbaring di tanah dan tersangka ada di sampingnya, Selasa (16/10/2012) saat pesawat tempur jatuh di Pasir Putih,” kata saksi.

Setelah BAP dibacakan, saksi akhirnya berkata jujur bahwa berdasarkan keterangan korban, ia dipukul oleh Letkol Robert Simanjuntak. Hakim lalu bertanya, saat saksi menemukan Didik dalam keadaan terbaring dan membawanya, memposisikan sebagai apa saksi terhadap Didik saat membawanya, apakah korban pemukulan atau melanggar aturan?

“Dia diamankan karena melanggar aturan,” kata saksi.

Jawaban ini menimbulkan keheranan hakim yang membuatnya menegaskan lagi pertanyaan tersebut. Penegasan hakim lalu dijawab dengan keterangan berbeda. “Dia sebagai korban,” kata saksi.

Berbelit-belitnya jawaban ini membuat hakim lalu membentak. “Kamu bohongpun saya tahu. Karena kamu penyidik. Harus profesional,” tegas hakim.

Sementara itu, saksi IV yang juga anggota POM lebih terbuka dalam memberikan kesaksian, walaupun tetap berbelit-belit juga. “Sewaktu saya pengamanan, saya dipanggil. Hendra kamu amankan bawa ke kantor,” ujar Hendra yang mengaku tahu kondisi Didik setelah Didik diamankan di mobil Patwal POM.

Hendra mengaku tahu apa yang menimpa Didik dari penuturan Didik padanya saat akan dibawa ke Markas POM AU. “Sebelumnya saya tidak tahu. Sambil jalan dia bilang dipukul oleh Letkol Robert. Saya lihat di daerah sekitar telinga merah. Dia bilang dipukul sekali,” kata Hendra yang mengaku diperintahkan oleh Mayor POM Hari Ambon membawa Didik ke markas itu.

Saat ditanya hakim, kenapa Didik bisa sampai dipukul, Hendra mengatakan bahwa Didik dipukul karena peliputan. “Saksi I dipukul karena peliputan tak meminta izin terlebih dahulu,” ucapnya.

Hakim lalu berkata bagaimana dengan peliputan di daerah pertempuran, apakah harus meminta izin juga, saksi menjawab itu hal berbeda. Hakim lalu menekankan bahwa saat ini sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik yang membuat peliputan tidak boleh dihalangi jika memang wartawan membawa identitas. “Saya tidak tahu UU itu,” ujar Hendra.

Ditanyakan hakim lagi, apakah setiap orang yang akan datang ke lokasi jatuhnya pesawat harus meminta izin ke markas TNI AU, saksi terdiam dengan pertanyaan ini. Pertanyaannya yang tak dijawab membuat hakim bertanya lagi kenapa Didik dilarang meliput jatuhnya pesawat itu.

“Dilarang biar tidak tersebar keluar beritanya,” kata saksi. Dikatakannya juga saat bertemu dengan Didik ia melihat Didik mengenakan ID Card wartawan (Kartu Pers).

Sementara itu, pembela terdakwa beberapa kali memberi sinyal bahwa Didik mungkin melanggar UU No 1/2009 tentang penerbangan pasal 440 menyatakan siapapun yang masuk ke areal 50 meter dari peristiwa kecelakaan pesawat dan mengutak-atik, memegang serta merubah ada ancaman satu tahun penjara.

“Jadi bukan dilarang memotret, tapi ada caranya,” kata pembela terdakwa.

Mendengar keterangan saksi serta penjelasan dari pembela terdakwa tentang UU Penerbangan, hakim lalu berujar bahwa ia paham jika ada kemungkinan saksi mendapat pengarahan.

“Saya ngerti kalau kalian dibriefing. Percuma, itu tidak menguntungkan. Jangan menunjukkan yang salah. Saat ini sudah reformasi birokrasi, ceritalah saat kejadian. Penasihat hukum juga ngomongnya ngelantur. Tidak ada itu ancaman-ancaman,” tegas hakim lagi.

sgr/kabartv/jotz

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.