Aktivis Lingkungan Kembalikan Kalpataru

KP Kalpataru 050913-2Jakarta, FK – Marandus Sirait dan Hasolon Manik, dua orang pegiat lingkungan asal Medan, Sumatera Utara, mendatangi kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), siang ini. Kedatangan keduanya untuk mengembalikan penghargaan di bidang lingkungan yang pernah mereka terima.

Hasoloan Manik atas nama LSM PILIHI Dairi menyatakan mengembalikan Penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan yang perna diterimanya pada 2010. LSM ini telah melakukan berbagai penguatan kapasitas kader lingkungan dan berhasil melakukan gugatan  terhadap pelaku perusakan hutan ekosistem Leuser, di antaranya  42 kasus diproses di pengadilan. Aktifitas ini secara konsisten terus dijalankan, tetapi sangat disayangkan, banyak laporan kegiatan pengrusakan hutan yang dilengkapi dengan temuan-temuan tidak direspon oleh pihak-pihak terkait. Hal ini mendorong LSM PILIHI berkirim surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup tentang pemberitahuan pengembalian Kalpataru, tertanggal 24 Agustus 2013 yang diterima tanggal 30 Agustus 2013.

Sedangkan Marandus Sirait, penerima Kalpataru kategori Pembina Lingkungan tahun 2005, bemaksud mengembalikan penghargaan di bidang lingkungan hidup (bukan Kalpataru) yang pernah diterimanya. Di daerahnya, Marandus dikenal sebagai aktivis lingkungan yang sukses melestarikan kawasan hutan seluas 40 ha di sekitar Danau Toba dengan memanfaatkannya sebagai kawasan ekowisata. Kawasan yang bernama Taman Eden 100 ini didirikan pada tahun 1998 berlokasi di lahan milik keluarganya.

Bagi Marandus Sirait dan Hasoloan Manik, status penerima penghargaan lingkungan memberi beban penerimanya karena adanya harapan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan kerusakan hutan. Menyadari kegagalan untuk memenuhi harapan tersebut karena berbagai upaya yang ditempuh tidak berhasil, maka cara terakhir adalah dengan mengembalikan Penghargaan yang diterimanya. Pengembalian Penghargaan ini dilakukan untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat agar merespon berbagai persoalan perusakan hutan yang terjadi di wilayahnya.

Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Ilyas Assaad, mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup tetap mengapresiasi prestasi dan peran dua orang pegiat lingkungan tersebut dalam upaya pelestarian hutan dan ekosistem di wilayahnya masing-masing. “Walaupun penghargaan ini dikembalikan, ke duanya beserta kader lingkungan LSM PILIHI Dairi tetap merupakan mitra KLH dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan,” kata Ilyas.

KLH pernah melakukan Pencabutan Penghargaan Kalpataru kepada kelompok Ninik Mamak Buluh Cina tgl 31 Agustus 2009 karena terbukti merusak hutan adat Buluh Cina, Kab. Kampar, Riau.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 63 angka (i) huruf (w), Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penghargaan. Sejalan dengan itu, Penghargaan Kalpataru diberikan kepada individu atau kelompok yang dinilai berprestasi dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat meningkatkan peran masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hingga saat ini, penghargaan Kalpataru sudah diberikan kepada 313 penerima yang terdiri dari kategori Perintis Lingkungan 93 orang, Pengabdi Lingkungan 76 orang, Penyelamat Lingkungan 95 kelompok masyarakat dan Pembina Lingkungan 51 orang.

 

wtk

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.