KPK IKLAN

[Kritik Ideologi] Kepemimpinan Mestakung: Sebuah Wacana Kepemimpinan Indonesia

Teguh Yuwono
Oleh: Teguh Yuwono *)
REKAM jejak bangsa Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini telah menorehkan banyak hal yang negatif . Ranah hukum yang makin tereduksi oleh kekuatan politik makin menisbikan benang merah antara benar dan salah. Sementara para elit masih juga berpentas di panggung-panggung pertunjukkan politik yang makin jauh dari harapan rakyat. Dan ironinya, alih-alih sebagian tokoh negara yang ingin menegakkan benang keadilan, justru menghadapi arus kekuatan yang makin menggurita. Politik benar-benar telah menjadi trend di negara kita. Dan semua aspek diluar politik hanya akan menjadi alat saja, bahkan sesuatu yang sudah diputus hukum pun akan terkalahkan bila politik bicara. Maka Indonesia sebagai negara yang berdasarkan hukum menjadi tumpul dalam penegakan konstitusi.

Bencana demi bencana pun tak kunjung padam turut mewarnai bangsa kita, dari banjir, kebakaran, tanah longsor, gempa bumi, pesawat jatuh, kereta api terguling, dan sebagainya. Semua bencana tersebut masih dilihat secara terpisah-pisah sebagai “bencana alam”. Padahal se-natural apapun sebuah ancaman, risiko yang ditimbulkannya justru berelasi sangat erat dengan konstruksi sosial yang ada.

Dan kini kita berhadapan langsung dengan dampak problematika globalisasi, dimana kita tersadarkan akan kesenjangan yang ada. Pertama : Globalisasi ekonomi tidak hanya menyentuh ranah ekonomi dan sosial namun juga berpengaruh pada ranah politik dan hukum. Artinya perkembangan positif dengan adanya pasar bebas, seharusnya diikuti oleh penegakan hukum dan stabilitas politik. – lihatlah pergerakan barang, jasa dan investasi serta manusianya dari luar negeri. Jika tidak diprakondisikan tentu hasilnya tidak akan efektif berpengaruh kepada kesejahteraan rakyat Indonesia. Lihatlah makin maraknya korupsi di mana-mana, terjadinya kericuhan di beberapa kelompok sosial yang makin menajamkan pisau konflik di ranah horizontal.

Sepertinya, masyarakat kita juga pemerintah belum siap menghadapi arus globalisasi yang terus bergerak menohok seluruh lapisan masyarakat yang mereduksi nasionalisme, bahkan humanisme. Celakanya, kita masih disibukkan dengan masalah leadership (banyaknya korupsi merajalela di mana-mana baik di legislatif, eksekutif dan bahkan yudikatif), disamping itu juga kesenjangan sosial, ekonomi, iptek termasuk pengangguran belum selesai dibenahi. Dikhawatirkan kekayaan negeri ini semakin tersedot, terhisap keluar, karena negeri ini beserta rakyatnya tidak mampu berkompetensi dalam persaingan global.

Marilah kita lihat di kawasan regional Asia, Thailand, Singapura, Malaysia, belum lagi desakan China. Kita ini masih belum berbenah, tertinggal dari mereka yang sudah bangkit dan tumbuh lagi dari krisis ekonomi. Pertanyaannya: Bagaimana contingency plan negara kita ini baik dari sisi pemerintah, pengusaha, maupun penegakan hukum secara terintegrasi dalam menghadapi dan mengantisipasi globalisasi?

Negara menjadi kuat paling tidak memiliki 5 faktor keunggulan:
1. Militer
2. Law Enforcement
3. Undang-Undang Perburuhan
4. IPTEK
5. SDM.

Cobalah kita simak bagaimana law enforcement di Indonesia. Masih banyak kasus korupsi yang tidak bisa diselesaikan dengan baik, alias koruptornya banyak yang lolos. Malah ironisnya dijadikan pemimpin dan public figure. Undang-undang Perburuhan di Indonesia sangat lemah dan memihak ke pengusaha, makanya banyak pemogokan, demontrasi buruh dan sebagainya.

IPTEK yang masih jauh ketinggalan. Malah kita banyak konsumsi hasil iptek dari negara tetangga. Ini membuktikan lemahnya research and development di negara kita, sehingga miskin inovasi dan kreativitas. Juga kurangnya penghargaan terhadap tenaga peneliti.
Sejatinya, penduduk Indonesia itu banyak dan SDM usia produktif juga banyak, tetapi ironisnya banyak pengangguran. Isu primordialisme terus berkembang menimbulkan perpecahan (disintegrasi), narkoba, tawuran, terorisme dan sebagainya.

Ini menunjukkan bahwa NEGARA KITA BERADA PADA KONDISI YANG KRISIS KEPEMIMPINAN.

Lalu bagaimana bangsa kita mau menjadi bangsa yang kuat, super dan leading di Asia, bahkan di dunia ?

Memasuksi tahun 2014 saya kira kita akan di hadapkan pada situasi politik yang makin panas, karena persiapan memasuki pemilihan Pemimpin negara kita yang benar-benar harus mampu memperbaiki kondisi bangsa. Rakyat menunggu kedatangan Ratu Adil. Kita membutuhkan pemimpin yang penuh integritas, bijak, berwawasan luas, bervisi kenegarawanan, dekat dengan rakyat dan memiliki jiwa religius yang kuat serta pentingnya dukungan dari “dunia sosial dan dunia alam”, yaitu KEPEMIMPINAN yang MESTAKUNG – semesta mendukung.

Dalam tataran kemampuan pribadi seorang pemimpin, ia harus memiliki visi yaitu mampu memandang sesuatu yang tak mampu dipandang oleh orang lain. Hal ini penting untuk dipahami, karena seorang pemimpin merupakan bagian dari komunitas dan tertuntut untuk merambah ke dalam kancah sosial kemasyarakatan secara luas tanpa jarak, karena dampak implementasi dari kebijakannya akan sangat luas bagi masyarakat.

Oleh karena itu pemimpin harus mampu menumbuhkembangkan kompetensinya, yaitu dengan tetap membangun kepercayaan kepada masyarakat, senantiasa membangun hubungan baik dengan semua pihak, memiliki sikap yang kritis terhadap krisis yang terjadi di masyarakat luas, maksudnya adalah pemimpin harus memiliki perspektif yang kritis terhadap kondisi sosial kemasyarakatan yang sedang berjalan dan berani mengambil keputusan dengan cepat dan bijak.

Dalam konteks keindonesiaan, maka seorang pemimpin tertuntut untuk mengembangkan kepemimpinannya yang sarat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa, sebagai fundamen atas terbangunnya bangsa yang maju serta pandangan mata batin yang tajam terhadap gejolak alam karena ulah manusia, sehingga perlunya kedekatan batin dengan alam sekitar agar bisa hamemayu hayuning bawana. Baik bawana cilik maupun bawana besar. Karena bagaimanapun, dunia alam maupun dunia sosial mempunyai regulasi masing – masing, maka seorang pemimpin harus dapat mensinergikan regulasi-regulasi itu dalam tatanan hamemayu hayuning bawana. Dan syarat untuk dapat memayu semua itu harus didukung oleh semesta. Mestakung.

*) Alumni Filsafat UGM, Mahasiswa Pasca Sarjana UNPAM.

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.