Djadja Suparman: Rakyat dan Mahasiswa Dijadikan Alat (2)

Letjen Purn Djadja Suparman (lensaindonesia.com)
Letjen Purn Djadja Suparman (lensaindonesia.com)

LAMA tak terdengar kiprahnya, mantan Pangkostrad Letjen Purn Djadja Suparman meluncurkan buku awal Mei ini. Buku berjudul “Jejak Kudeta 1997-2005” bercerita banyak hal dibalik gejolak keamanan nasional kala itu. Banyak kisah yang tak terungkap di media dan publik kini diungkap Djadja dalam buku ini.

Banyak inisial bertebaran di buku semi-sejarah ini. Entah kenapa ‘disembunyikan, Djadja beralasan banyak dari mereka yang masih ada.

Berikut petikan wawancara Mochammad Thoha dari FORUM Keadilan dengan Djadja Suparman:
Gus Dur sempat menyatakan adanya kelompok-kelompok di TNI AD seperti status quo, reformis, Islam, dan sebagainya. Apa benar? Gimana menurut Anda tentang hal ini?

Gus Dur juga manusia, yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Itu pasti bukan isi hati Gus Dur, tetapi isi hati para pembisik Gus Dur yang akhirnya menjatuhkan Gus Dur juga. Tentang isu itu, memang sudah menjadi salah satu strategi dan sasaran terjadinya perubahan di lingkungan TNI dan Polri, dan TNI AD menjadi target yang harus dilemahkan.

Soal peristiwa Semanggi I dan II menurut Anda, siapa pelaku penembakan sebenarnya, sniper atau jarak dekat dengan Pen Gun seperti yang ditulis dalam buku Jejak Kudeta?

Kalau ditanya siapa, siapapun tidak akan bisa menjawab. Tapi dari aspek strategi dan rencana mereka pada Sidang Istimewa MPR November 1998 adalah menimbulkan korban sebanyak-banyaknya untuk menimbulkan simpati dan empati rakyat, sehinga ikut bergabung dalam aksi untuk menjebol pengamanan aparat. Kemudian memaksa peserta sidang Istimewa untuk menolak pertanggungjawaban Presiden Habibie dan mengesahkan Pemerintahan Presidium.

Karenanya pada waktu itu seluruh prajurit tidak dibekali peluru tajam. Dari bukti foto dan visum korban dapat terlihat bahwa korban ditembak pada jarak dekat dan dengan peluru yang bukan standard TNI dan Polri.

Apa mereka ini merencanakan pengorbanan 50 orang mahasiswa sebagai target sesuai yang telah ditetapkan?

Tidak. Korban meninggal di depan kampus Atmajaya pada waktu itu tidak sampai sepuluh orang. Tetapi mereka kumpulkan korban lain dari luar arena Semanggi, sehingga menjadi lebih dari sepuluh. Tentang Semanggi II, korban sama halnya dengan Semanggi I, tidak sesuai dengan opini yang dibangun. Faktanya lintasan peluru di tubuh Yun Hap melintang masuk dari bahu kiri dan peluru berhenti di bahu kanan. Aneh kan?

Sebagai seorang pemimpin apa sih yang harus dilakukan oleh seorang Presiden RI itu? Apa cukup dengan data kemajuan ekonomi atau fakta kenyataan di lapangan?

Tergantung dari tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh Negara ini. Tapi satu hal yang harus kita ingat, sehebat-hebatnya seorang Presiden atau sehebat-hebatnya anggota Dewan bila tidak bersatu dan bekerja sama memikirkan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara maka kita sulit untuk maju. Faktor Pemimpin dan kepemimpinan menjadi lebih penting bagi kemajuan bangsa ini. Bukan hanya seorang Presiden tetapi seluruh pemimpin, termasuk Kepala keluarga.

Sebagai jenderal yang tidak disukai oleh perencana kudeta apa harapan Anda terhadap mereka?

Bersatulah dalam perbedaan, pikirkan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara serta amalkan butir–butir yang terkandung di Pancasila, dalam kehidupan sehari-hari, Insya’Allah ideologi rakyat Indonesia akan mampu mewujudkan nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia, yang demokratis, rukun, dan damai serta sejahtera.

Perlukah mereka dimintai pertanggungjawaban hukum dan politik? Apakah juga mungkin mengadili mereka?

Kalau hidup penuh dengan kedengkian dan dendam kesumat, maka kita akan berada dalam ketidakpastian. Kalau mereka sudah menyadari akan apa yang telah dikerjakan pada masa lalu dan kemudian berbuat baik untuk kepentingan yang lebih besar, lupakan dan maafkan. Jadikan cermin untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus bisa bersyukur dan berupaya untuk maju lebih baik dari sebelumya.

Apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa yang Anda alami selama menjabat di TNI?

Pemimpin dan kepemimpinan menjadi kunci utama dalam demokrasi. Merumuskan konsepsi pembangunan dan menentukan strategi, taktik dan teknik secara komprehensif integral merupakan prioritas utama untuk mencapai sebuah tujuan. Membangun sistem adalah suatu keharusan untuk mendukung terwujudnya tujuan yang ingin dicapai serta menyiapkan calon pemimpin masa depan adalah kewajiban dari setiap pemimpin.

(habis)

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.