Djadja Suparman: Rakyat dan Mahasiswa Dijadikan Alat (1)

Buku Jejak Kudeta (1997-2005) Djadja Suparman (yahyaunsa.blogspot.com)
Buku Jejak Kudeta (1997-2005) Djadja Suparman (yahyaunsa.blogspot.com)

LAMA tak terdengar kiprahnya, mantan Pangkostrad Letjen Purn Djadja Suparman meluncurkan buku awal Mei ini. Buku berjudul “Jejak Kudeta 1997-2005” bercerita banyak hal dibalik gejolak keamanan nasional kala itu. Banyak kisah yang tak terungkap di media dan publik kini diungkap Djadja dalam buku ini.

Banyak inisial bertebaran di buku semi-sejarah ini. Entah kenapa ‘disembunyikan, Djadja beralasan banyak dari mereka yang masih ada.

Berikut petikan wawancara Mochammad Thoha dari FORUM Keadilan dengan Djadja Suparman:

Ada banyak peristiwa menarik dalam buku “Jejak Kudeta 1997-2005”. Apa target yang Anda inginkan dengan membuat buku tersebut?

Tujuan saya sederhana. Intinya hanya ingin berbagi pengalaman kepada generasi muda dan generasi penerus bangsa, tentang apa yang telah terjadi pada masa reformasi total mulai tahun 1997-2005 dengan segala dinamikanya. Kepentingan politik dan kekuasaan sangat mengemuka, rakyat dan mahasiswa dijadikan alat untuk mencapai tujuannya dan bahkan menjadi atau dijadikan sebagai korban untuk memicu simpati dan empati massa, sehingga aparat Negara menjadi bulan-bulanan dan bahkan dituntut untuk bertanggung jawab. Sementara para pemimpin gerakan lempar batu sembunyi tangan.

Melalui buku ini saya ingin mengajak kepada siapapun yang ingin menjadi pemimpin di negeri ini, bertarunglah secara demokratis, jujur dan adil. Apa yang telah terjadi pada masa lalu jangan sampai terulang dimasa mendatang. Pemimpin harus berani bertindak dan berbuat untuk kepentingan rakyat dan menyiapkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik darinya melalui kaderisasi yang baik.

Tidak banyak pensiunan jenderal yang mau dan berani mengungkapkan pengalaman selama bertugas hingga purna dengan membuat buku. Tapi Anda berani membuatnya.

Ini bukan bicara soal berani dan tidak berani, tetapi berbicara tanggung jawab dan kewajiban. Peristiwa terjadinya perubahan di negeri ini, tidak dialami oleh semua pemimpin lapangan dengan segala dampaknya. Karenanya saya harus berbagi pengalaman sebagai pelengkap informasi dari yang telah beredar sebelumnya.

Yang terkait dengan tugas-tugas Anda selama menjabat Pangdam Brawijaya, Pangdam Jaya, Panglima Kostrad, Komandan Sesko TNI, dan Inspektur Jenderal TNI dan sebagainya, diantara jabatan itu mana yang paling berat ketika bertugas?

Yang paling berat pada waktu menjabat Pangdam di Jawa Timur dan Pangdam di Jakarta. Karena pada jabatan itu TNI dan POLRI harus bekerja keras agar perubahan yang kemudian dilakukan dengan cara-cara kotor, anarkhis dan radikal dapat berjalan sesuai konstitusi.

Di sisi lain para pemimpin perubahan menerapkan strategi yang menghalalkan segala cara. Tapi alhamdulillah aparat TNI dan POLRI telah berhasil mengantar perubahan itu dengan cara-cara yang konstitusional. Tapi dampak politik yang dirasakan oleh para pemimpin TNI dan POLRI pada waktu itu, sangat berat dan mematikan. Tapi semua itu sebuah resiko yang harus dihadapi setiap pemimpin, hanya tinggal memilih negara dan bangsa selamat dari musibah atau diri sendiri yang selamat? Saya memilih negara dan bangsa yang selamat dan saya harus siap dihancurkan secara politik.

Dalam buku Anda banyak menyebut beberapa nama tapi cuma inisial. Siapa saja diantaranya yang bisa Anda menyebutnya? Bukankah Anda mengenal mereka semua. Mengapa mereka tidak diminta tanggung jawab secara hukum sehingga Anda tidak menjadi korban politik kepentingan?

Ha ha ha… Pasti saya tahu siapa saja dan apa yang mereka perbuat pada waktu itu. Tapi itu bukan tujuan saya. Tentang meminta pertanggungjawaban juga bukan kapasitas saya, karena pada November 1998 setelah Sidang Istimewa MPR sudah terjadi rekonsiliasi antara para pemimpin mereka dengan Presiden Habibie yang menyepakati melaksanakan Pemilu 1999.

Anda terkena tuduhan korupsi dan rencana penggulingan kekuasaan. Apa tanggapan Anda?

Wahhh, kalau mau dimasukan kedalam hati, sangat menyakitkan karena hampir semua peristiwa yang terjadi pada waktu itu, pasti diopinikan bahwa saya salah satu yang berada di belakang semua peristiwa itu. Mulai dari peristiwa di Ambon, Kalimantan, Bima, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Jakarta. Saya juga dijuluki sebagai Jenderal Fundamentalis, Boss Narkoba, Korupsi dan Kudetator terhadap ketiga Presiden. Dan sebagai pelanggar HAM Berat. Mengapa itu terjadi? Mungkin ada yang tidak suka pada waktu itu rencananya gagal karena saya. Atau saya dinilai susah diajak kompromi. Atau juga mungkin saya terlalu banyak tahu, hanya itu kemungkinannya.

Lucu kan. Karenanya saya bawa santai saja. Saya tidak mau ikut menjadi gila. Saya terima secara tulus ikhlas sebagai sebuah risiko pemimpin. Biarkan waktu yang akan menunjukkan kebenaran yang hakiki. Walau dampaknya sangat merugikan saya dan keluarga, sehingga telah melanggar hak azasi dan martabat saya sebagai manusia. Kita harus tetap tersenyum. Selama mereka tidak menghantam kepala saya. Kalau itu terjadi dengan ridho Allah SWT pasti kita akan lawan kedzoliman dan kesewenang-wenangan itu.

(bersambung)

You might also like

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.