PELECEHAN SEKS ANAK

Rekening Gendut Polisi, Mulai Labora Hingga Susno Duadji

Jakarta, FK — Terbongkarnya kasus rekening gendut sebesar Rp 1,5 triliun milik Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Labora Sitorus, seorang anggota Polres Raja Ampat Papua, membuktikan lemahnya kinerja pengawasan lembaga kepolisian dibawah kepemimpinan Timur Pradopo sebagai pimpinan korps baju coklat.

Padahal sesuai dengan ketentuan undang-undang dan kode etik kepolisian, seorang polisi aktif dilarang berbisnis. Dari hal ini, Labora Sitorus sudah bersalah karena telah melanggar kode etik. Bahkan sebagai seorang polisi aktif, Labora Sitorus menggunakan rekening-rekeningnya dengan menuliskan status pekerjaan bukan sebagai anggota kepolisian, tetapi swasta.

Hal-hal seperti ini bukanlah baru pertama kali terjadi. Sebelumnya juga telah terjadi beberapa ulah serupa. Ini akan berdampak pada citra buruk polisi yang mulai tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Oleh karena itu, pihak kepolisian diharapkan mengusut tuntas kasus Labora Sitorus dan kasus-kasus serupa lainnya agar kepercayaan masyarakat terhadap polisi tidak semakin menurun dan citra kepolisian dapat diperbaiki.

Demikian pendapat dari praktisi hukum Prof. Dr. Suhandi Cahaya kepada forumkeadilan.com, Jumat (24/5), di Jakarta.

Sebelum kasus Labora Sitorus mencuat, PPATK menemukan laporan transaksi mencurigakan di rekening sejumlah perwira polisi.

1. Inspektur Jenderal Mathius Salempang, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Kekayaan: Rp 8.553.417.116 dan US$ 59.842 (per 22 Mei 2009)

Tuduhan: Memiliki rekening Rp 2.088.000.000 dengan sumber dana tak jelas. Pada 29 Juli 2005, rekening itu ditutup dan Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya. Dua hari kemudian dana ditarik dan disetor ke deposito Mathius.

2. Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Korps Brigade Mobil Polri Kekayaan: Rp 6.535.536.503 (per 25 Agustus 2005)

Tuduhan: Dari rekeningnya mengalir uang Rp 10.007.939.259 kepada orang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Terdiri atas Rp 3 miliar dan US$ 100 ribu pada 27 Juli 2005, US$ 670.031 pada 9 Agustus 2005.

3. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Kekayaan: Rp 4.684.153.542 (per 19 Agustus 2008)

Tuduhan: Melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.

4. Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian Kekayaan: Rp 2.090.126.258 dan US$ 4.000 (per 24 Maret 2008)

Tuduhan: Membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta dan menerima dana rutin setiap bulan.

5. Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kekayaan: Rp 1.587.812.155 (per 2008)

Tuduhan: Menerima kiriman dana dari seorang pengacara sekitar Rp 2,62 miliar dan kiriman dana dari seorang pengusaha. Total dana yang ditransfer ke rekeningnya Rp 3,97 miliar.

6. Inspektur Jenderal Bambang Suparno, Staf pengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi Polri Kekayaan: belum ada laporan

Tuduhan: Membeli polis asuransi dengan jumlah premi Rp 250 juta pada Mei 2006. Ada dana masuk senilai total Rp 11,4 miliar sepanjang Januari 2006 hingga Agustus 2007. Ia menarik dana Rp 3 miliar pada November 2006.

(Sumber: Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara, lain-lain)

sofyan

You might also like