Rebutan Gengsi Ikadin dan AAI Surabaya

PERADIFK – Pada Jum’at, 24 Mei 2013, Dewan Pengurus Cabang – Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Surabaya menyelenggarakan Musyawarah Cabang (Muscab) I di Hotel Bumi, Surabaya. Dua calon siap bertarung untuk posisi Ketua DPC Ikadin Surabaya yang bakal ditinggalkan Dr. Suhar Adi Koestanto, SH, MH.

Mereka adalah Setijo Boesono, SH, MH, Ketua DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Surabaya, dan Syaiful Ma’arif, SH, CN, MH, Ketua DPC Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Surabaya. Setijo dan Syaiful belakangan ini santer diunggulkan sebagai dua calon terkuat.

Muscab Peradi I Surabaya ini memang untuk pertama kalinya dilakukan secara langsung. Setidaknya ada sekitar 1.300 anggota Peradi yang suaranya akan diperebutkan oleh Setijo dan Syaiful. “Ini pertarungan gengsi antara Ikadin dan AAI,” ujar seorang advokat senior.

Dalam sejarahnya, persaingan antara Ikadin dengan AAI untuk memperebutkan posisi Ketua Peradi selalu mengemuka. Namun, di bawah kepemimpinan DR. Suhar Adi Koestanto, SH, MH selama 4 tahun menjadi Ketua Peradi Surabaya tidak sampai terjadi. “Saya bangun brotherhood di antara para anggota Peradi,” tutur Suhar kepada FORUM.

Memang, diakui advokat senior tadi, selama memimpin Peradi Surabaya, Suhar dinilai sukses dalam programnya. Selain membangun brotherhood tadi, iIa juga herhasil menjadikan perguruan tinggi sebagai think tank, mengingat fungsi organisasi advokat (sesuai UU No. 18/2003) adalah “meningkatkan kualitas” Advokat Indonesia di bawah Peradi.

Suhar juga berhasil menyelenggarakan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) hingga membantu Dewan Pengurus Nasional (DPN) melakukan pelantikan/penyumpahan advokat di Surabaya pada 2010, 2011, dan 2012. Padahal, di daerah-daerah lain terhambat melaksanakan verifikasi eks anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI).

“Verifikasi eks anggota KAI itu sebagai follw up kesepakatan Peradi – KAI di Mahkamah Agung RI,” ungkap Suhar.

Ia berharap, siapapun rekan-rekannya yang terpilih menggantikan dirinya, bisa melanjutkan tugas mulia mengembangkan profesi, melayani organisasi dan anggota tanpa pilih kasih, sehingga, “Peradi benar-benar jadi solid.”

Menurut Suhar, kita harus percaya pada Ketua yang terpilih nanti. Peradi Surabaya itu ibarat kereta api yang sudah ada rel-nya (UU Advokat dan Kebijakan-Kebijakan DPN Peradi). “Siapapun ketuanya, tinggal jadi masinis yang mengoperasikan,” tegasnya. Sebab, “Kita semua menjadi saksi bahwa Peradi selalu digoyang eksistensinya.”

Tapi di mata Suhar, Peradi itu sudah final, tinggal bagaimana tokoh-tokoh di Jakarta bisa memadukan aspirasi mereka secara harmonis. “Saya yakin beliau-beliau itu mampu bersatu, apalagi jika semua pihak mendahulukan kepentingan profesi serta mengutamakan masa depan advokat penerus,” lanjut mantan Ketua Ikadin Surabaya ini.

Ia juga berharap, pengurus DPC Peradi Surabaya terpilih nanti juga bisa solid.

Disisi lain Setijo Boesono, SH, MH, Ketua DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Surabaya mengatakan “Bila terpilih, kegiatan Peradi, jangan lagi menonjolkan Ikadin atau KAI-nya, sehingga menjadi suatu kesatuan organisasi yang utuh dalam wadah Peradi. Itu yang pertama,” lanjut Setijo.

Kedua, meningkatkan kualitas anggota melalui kerjasama dengan 7 perguruan tinggi (PT) di Surabaya, diantaranya Universitas Airlangga, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Surabaya, Universitas Hang Tuah, dan Universitas Wijaya Putra. Yang intinya Peradi mengadakan pendidikan formal dan informal.

Dalam hal peningkatan penegakan hukum, Setijo akan bekerja sama dengan penegak hukum lainnya seperti Polisi, Jaksa dan Hakim. “Kita juga menertibkan keanggotaan, misalnya anggota Peradi yang di luar Surabaya akan kita fasilitasi membentuk Peradi, seperti Peradi Gresik, Peradi Madura, Peradi Probolinggo dan sebagainya,” lanjut Setijo.

Menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan, khususnya PT dan penegak hukum, seperti semasa kepengurusan Suhar, kata Setijo, manfaatnya sangat besar yang perlu ditingkatkan lagi. “Dan saya meniru prinsip beliau,“rame ing gawe sepi eng pemreh”, artinya beliau bekerja tanpa pamrih, tidak perlu mendapat pengakuan dan pujian dari orang.”

Dalam pencalonannya sebagai calon Ketua Peradi Surabaya ini, Setijo mengklaim didukung oleh sejumlah rekan-rekannya baik dari Peradi sendiri maupun dari Ikadin. Dan, “Masih ada juga beberapa temen-temen lain yang memberikan dukungan kepada saya untuk maju menjadi Ketua DPC Peradi Surabaya,” ungkap Setijo secara meyakinkan.

Syaiful Ma’arif, SH, CN, MH, Ketua DPC Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Surabaya menjelaskan bahwa ia akan mengangkat isu kesetaraan dan pembenahan organisasi. “Peradi ini merupakan wadah tunggal dari 8 organisasi, diharapkan yang menyangkut kepentingan profesi advokat itu bisa dijalankan oleh Peradi. Karena di Surabaya, soal kesetaraan antara aparat penegak hukum belum jalan,” ungkap Syaiful.

Karena menurut UU 8/2003 tentang Advokat, advokat itu adalah salah satu aparat penegak hukum. Di sinilah seharusnya fungsi itu bisa dijalankan oleh organisasi advokat. Tapi, “Fungsi organisasi ini tidak jalan,” tegas Syaiful. Karena itulah, “Perlu juga pembenahan organisasi di Peradi sehingga fungsinya bisa dioptimalkan,” lanjutnya.

Berikut Wawancara Kami -> PERADI