Muscab Peradi: Rebutan Gengsi Ikadin dan AAI Surabaya

PERADIDR. Suhar Adi Koestanto, SH, MH:

“Saya Bangun Brotherhood Peradi”

Ketua Dewan Pengurus Cabang – Perhimpungan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Surabaya
Suhar Adi Koestanto, SH, MH dinilai sukses selama 4 tahun memimpin Peradi Surabaya. Meski dinilai berhasil, alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UA) Surabaya enggan maju kembali dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Peradi I Surabaya pada Jum’at, 25 Mei 2013.

Ada penilaian bahwa PERADI Surabaya sangat solid dan stabil. Komentar anda?

Betul-betul solid ya tidak mungkin-lah, apalagi di dunia Advokat ini, dalam pengamatan saya, koq konkurensinya tinggi. Adapun mengenai stabilitas cabang, memang harus diakui bahwa selama ini rekan-rekan bisa bersama-sama menjaga.

Fokus policy selama masa jabatan Anda?

Kita semua menjadi saksi bahwa Peradi selalu digoyang eksistensinya, bahkan oleh sebagian dari deklaratornya sendiri. Tapi kalau di mata saya, Peradi itu sebenarnya sudah final, tinggal bagaimana tokoh-tokoh di Jakarta bisa memadukan aspirasi mereka secara harmonis. Saya yakin beliau-beliau itu mampu bersatu, apalagi jika semua pihak mendahulukan kepentingan profesi serta mengutamakan masa depan generasi (Advokat) penerus. Begitu pula UU Advokat, belum saatnya diganti, karena masih memadai (setidak-tidaknya untuk satu dekade mendatang).

Apa policy-policy DPN Peradi sudah dilaksanakan di cabang Surabaya?

Hampir semua sudah dijalankan, di antaranya: 1. Membangun “brotherhood” di antara anggota; 2. Menjadikan perguruan tinggi sebagai think tank, mengingat fungsi organisasi Advokat (menurut UU No. 18/2003) adalah “meningkatkan kualitas” Advokat Indonesia; 3.

Menyelenggarakan PKPA hingga membantu DPN melakukan pelantikan/penyumpahan Advokat di Surabaya, pada tahun 2010, 2011, dan 2012 seluruhnya lancar. Padahal, di daerah-daerah lain terhambat, bahkan ada batal; 4. Melaksanakan verifikasi (hingga dapat disumpauhnya) eks Anggota KAI, sebagai follw up kesepakatan PERADI – KAI di Mahkamah Agung RI.

Setelah Muscab I nanti Peradi Surabaya dibawa kemana?

Tidak perlu khawatir. Kita harus percaya pada pengganti yang terpilih nanti. Peradi Surabaya itu ibarat kereta api yang sudah ada rel-nya (yakni UU Advokat & Policy-2 DPN Peradi). Siapapun ketua cabangnya, tinggal jadi masinis yang mengoperasikan.

Bagaimana jika ditunggangi kepentingan-kepentingan pribadi?

Ah, semua itu terpulang pada pribadi-pribadi kita. Memang, “kalau mau” kan jabatan itu bisa dipakai untuk mendongkrak popularitas, cari nama, dan atau membangun network. Tapi saya yakin, pangganti yang terpilih nanti tidak begitu-lah.

Tidak mencalonkan lagi?

Saya sudah 4 tahun jadi Ketua Peradi Surabaya, dan sebelumnya sudah dua periode jadi Ketua Ikadin Surabaya. Gantian rekan-rekan lain yang memanggul tugas mulia mengembangkan profesi, melayani organisasi dan anggota tanpa pilih kasih. Harapan saya, Peradi Surabaya harus memelopori tekad bahwa : “MENJADI PENGURUS ITU CUKUP SATU MASA JABATAN SAJA”.

Ada pesan lain?

Jangan bertikai, karena tugas masih berat, termasuk memberi pemahaman bahwa PERADI tidak bermaksud mempersulit orang menjadi Advokat. Untuk meningkatkan kualitas, maka mau tidak mau rekruitmen Advokat tidak boleh main-main. Di negara lain, persyaratannya juga ketat. Konjen Jepang di Surabaya (Mr. Noboru Nomura), dalam kunjungannya ke sekretariat PERADI Surabaya juga menginformasikan bahwa : “Di Jepang, untuk menjadi Advokat itu tidak mudah.

 

Syaiful Ma’arif, SH, CN, MH:

“Fungsi Organisasi Ini Seperti Manusia”

Syaiful Ma’arif, SH, CN, MH menjadi salah satu diantara calon Ketua Dewan Pengurus Cabang – Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Surabaya. Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UA) Surabaya ini adalah Ketua DPC Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Surabaya, juga menjadi pengurus DPC Peradi Surabaya.

Apa yang ditawarkan Syaiful dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Peradi I Surabaya pada Jum’at, 24 Mei 2013? Dan, jika terpilih menjadi Ketua Peradi Surabaya nanti, bagaimana Syaiful akan membawa Peradi? Berikut petikan wawancara FORUM dengan Syaiful:

Apa yang menarik menjelang Muscab Peradi Surabaya?

Kita melihat Peradi ini merupakan wadah tunggal dari organisasi (8 organisasi), di sinilah diharapkan menyangkut kepentingan profesi advokat itu bisa dijalankan oleh Peradi. Nah, kenapa kita bisa mengatakan begitu, karena untuk Surabaya khususnya, bahkan se-Indonesia, kesetaraan antara aparat penegak hukum belum jalan.

Karena menurut UU 18/2003 tentang Advokat, advokat itu adalah salah satu aparat penegak hukum. Di sinilah seharusnya fungsi itu bisa dijalankan oleh organisasi advokat dalam hal ini Peradi. Organisasi ini yang menurut saya tidak jalan seperti yg diamanahkan oleh undang-undang.

Mengapa?

Kesetaraan sesama aparat penegak hukum (Jaksa, Kepolisian, hakim, Advokat) , jadi kalau bicaranya dengan posisi yang sama, ini yang tidak jalan, karena keberadaan selama ini diakui atau tidak, advokat itu masih berada di bawah aparat penegak hukum lainnya. Inilah yang seharusnya fungsi lembaga atau organisasi Peradi harus bisa jalan.

Berarti selama ini tidak jalan?

Menurut saya tidak jalan. Muscab ini tentu saja, bagaimana fungsi organisasi bisa jalan. Di DPN, DPD dan DPC , Fungsi organisasi ini kalau dilihat seperti manusia, ada kepala, leher, badan, tangan, kaki. Organ ini harus jalan dan sinergi.

Bagaimana keseteraan ini bisa jalan.

Seperti yang saya jelakan sebelumnya, dlm organ peradi Kan ada ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, humas, dan kepala bidang. Di sinilah seluruh komponen organisasi jika bisa berjalan sesuai tupoksinya, sehingga makna dan kekuatan organisasi akan bisa berjalan dalam membagun kesetaran dilingkungan aparat hukum.

Format organisasi yang Anda tawarkan nanti?

Format Organisasi: Ketua, Sekretaris, Bendahara, Humas, 5 Wakil Ketua yang membawahi 3 Kepala Bidang. Kalau fungsi organ Peradi ini jalan, maka kekuatan Peradi sendiri itu akan ada. Selama ini yang sering muncul itu hanya ketua saja. sedangkan organ lain tidak jalan. Ini yang menurut saya tidak bagus. Padahal, ini yang namanya kekuatan dari Peradi. Contoh sederhana, kalau manusia kepalanya sakit, ya kepala kita sembuhkan, Kalau kakinya sakit ya dibawa kedokter biar bisa berfungsi.jadi organ ini sperti manusia. Jadi kalau ada yang sakit dari organ organisasi ini harus disembuhkan.

Apa yang sudah Anda susun menyangkut konsep organisasi?y

Saya sudah buat yang namanya konsep pengurus  dalam organisasi. Pertama, manajemen control dan tanggung jawab fungsi organisasi; Kedua, fungsi kelembagaan; Ketiga, Leadership; Keempat, manajeen organisasi. Kelima, kemampuan intelektual. dan kemampuan komunikasi Jadi, fungsi organisasi akan jalan kalau memiliki kemampuan seperti itu. Kalau organisasi jalan, kesetaraan akan jalan.

Bagaimana dengan jalannya organisasi selama ini, adakah kelemahannya?

Kelemahan selama ini, Peradi hanya lebih fokus pada kegiatan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Ini saja yang diurus, padahal mestinya yang dipikirkan oleh organisasi itu SDM. Spesialisasi advokat oleh Peradi seperti Kurator, Mediator, Pasar Modal, ini tidak ada. Sebenarnya kalau kita bisa tingkatkan. Sehingga pendidikan seperti itu tidak pernah disampaikan oleh Peradi. Jadi, sekarang ini fungsi itu yang harus jalan. Siapa yang menjalankan ya organisasi Peradi yg punya kewenangan.

Apakah ini yang akan Anda sampaikan dalam Muscab?

Ini yang akan saya sampaikan pada visi dan misi. Seperti Dewan Kehormatan, di Surabaya fungsi ini tidak jalan seperti itu. Saya minta konsep ini menjadi keputusan dalam Muscab. Kedua, ada aturan tentang aturan fungsi organisasi, jika tidak bisa jalan, maka yg bersangkutan untuk diganti dengan yang memiliki kemampuan didalamnya. Ketiga, ada matrik schedule acara dengan target bagi semua organ organisasi.

Kewajiban anggota selama ini? 

Iuran bulanan pada saat dia memperpanjang Kartu Tanda Anggota (KTA). Sekarang ada perubahan UU Advokat. Sekarang muncul keinginan untuk kembali Multi Bar, karena fungsi Singgle Bar tidak jalan. Karena Peradi sendiri tidak jalan. Bahkan, AAI pun mungkin merasa lebih nyaman dengan Multi Bar.

 

Setijo Boesono, SH, MH: 

“Saya Tingkatkan Kualitas Anggota”

Memanasnya perebutan Ketua Dewan Pimpinan Cabang – Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Surabaya dalam Musyawarah Cabang (Muscab) I Peradi Surabaya pada Jum’at, 24 Mei 2013 di Hotel Bumi Surabaya, mulai terasa.

Salah satu kadidat terkuat untuk sebagai penganti DR. Suhar Adi Koestanto, SH, MH, adalah Setijo Boesono, SH, MH, Ketua Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Surabaya. Setijo yang juga Konsultan Hukum Pasar Modal ini mengaku siap maju dalam Muscab I Peradi Surabaya.

Sebelum jauh bahas tentang pencalonan Anda sebagai Calon Ketua DPC Peradi Surabaya, kami ingin Bapak bercerita sedikit tentang Peradi dan Ikadin?

Sebetulnya ini porsinya Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikadin di Jakarta untuk menjawabnya, tapi nggak papa karena DPC Surabaya kan juga bagian dari DPP. Jadi awalnya namanya Peradi, kemudian berubah menjadi Ikadin, setelah ada Ikadin muncul perpecahan yang ditandai dengan berdirinya Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) dan dengan sendirinya Peradi melebur menjadi Ikadin.

Sedangkan dalam Peradi sediri saya mengikuti, bahkan terakhir saya menjabat sebagai Sekretaris Peradi Surabaya, dan bahkan waktu deklarasinya di Gedung Balai Sudirman saya mengikuti.

Dikatakan diawal tadi, begitu Ikadin terbentuk pada November 2005, banyak muncul perpecahan pada induk organisasi advokad, terus bagaimana dengan legalitas antara antara induk-induk organisasi Advokad tersebut?

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2003 tentang Advokat dan Surat Edaran Mahkamah Agung, induk organisasi advokat yang diakui adalah Peradi, sedangkan induk organisasi asal yang masih diakui ada sekitar 8, diantaranya Ikadin, AAI, HKHPN, SPI.

Berkaitan dengan pencalonan Anda menjadi calon Ketua DPC Peradi Surabaya, visi misi apa yang Anda usung?

Yang utama saya akan meminimalkan bahkan menghapus friksi-friksi organisasi advokat yang ada di dalamnya, artinya begitu masuk kegiatan Peradi, jangan lagi menonjolkan Ikadin, KAI-nya itu yang utama. Yang kedua, meningkatkan kualitas anggota kita dengan cara membina kerjasama pendidikan formal, bekerjasama dengan perguruan tinggi, seperti yang sudah kita lakukan dengan 7 perguruan tinggi di Surabaya, diantaranya Universitas Airlangga, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Surabaya, Universita Hang Tuah, Universitas Wijaya Putra.

Yang intinya kita mengadakan pendidikan formal dan informal dalam hal peningkatan penegakan hukum, kita juga akan bekerja sama dengan penegak hukum, Polisi, Jaksa, dan Hakim, itu yang utama.

Selanjutnya kita menertibkan keanggotaan, misalnya anggota Peradi yang di luar Surabaya akan kita fasilitasi membentuk Peradi di daerahnya, misalnya Peradi Gresik, Peradi Madura, Peradi Probolinggo, dan yang lainnya.

Sedangkan langkah paling utama jika Anda terpilih sebagai Ketua DPC Peradi Surabaya apa?

Dalam waktu dekat itu tadi yang saya bilang di atas, akan saya libatkan semua komponen organisasi, baik yang dari Ikadin, KAI, dan yang lainya, sehingga menjadi suatu kesatuan organisasi yang utuh dalam wadah Peradi.

Apa program lama yang perlu ditingkatkan lagi?

Menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi dan penegak hukum, karena saya menggap program yang dulu dicetuskan oleh Pak Suhar itu manfaatnya sangat besar yang perlu ditingkatkan lagi. Dan saya juga meniru prinsip beliau rame ing gawe sepi eng pemreh, artinya beliau bekerja tanpa pamrih, tidak perlu mendapat pengakuan dan pujian dari orang.

Itulah prinsip yang saya teladani dari beliau, dan saya akan mencoba merealisasikan dalam kepemimpinan saya kedepan. Mungkin itu secara singkat visi misi saya dalam pencalonan Ketua DPC Peradi Surabaya, untuk secara tertulisnya saya akan sampaikan pada kongres besok.

Sampai detik ini kubu mana saja yang secara terang-terangan memberikan dukungan kepada Anda untuk maju menjadi calon Ketua DPC Peradi Surabaya?

Ya ada dari sejumlah teman-teman, baik dari Peradi sendiri maupun Ikadin, diantaranya dari Pak Arifin APAI, ada dari Wijaya Kusuma, dari UNTAG, dan masih ada beberapa teman lain yang memberikan dukungan kepada saya untuk maju menjadi Ketua DPC Peradi Surabaya.

You might also like