PELECEHAN SEKS ANAK

ETAN Berencana Demo Penghargaan ACF Untuk SBY

Rombongan Presiden RI di New York September 2012 (demokrat.or.id)
Rombongan Presiden RI di New York September 2012 (demokrat.or.id)

New York — Penolakan terhadap rencana pemberian penghargaan World Statesman Award kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meluas hingga ke New York. East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) yang berbasis di New York, Amerika Serikat melayangkan petisi dan berencana menggelar aksi simpatik di The Pierre, 2 E. 61 st, pada Kamis ini (30/5).

Aksi ETAN ini untuk mendukung protes dari sejumlah kelompok yang menjadi korban intoleransi, kelompok advokasi kebebasan beragama dan pendukung hak asasi dan keadilan di Indonesia. ETAN juga mengkritik Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah lembaga yang mempromosikan toleransi beragama.

“Protes kami ini untuk meluruskan,” kata Koordinator ETAN, John M. Miller dalam surat elektroniknya kepada Opini, Rabu (29/5). “Presiden SBY tidak seharusnya memoles pencitraan, sementara insiden intoleransi meningkat, penegakkan HAM minim dan kekerasan oleh aparat keamanan terus berlanjut.”

Rencana demonstrasi ETAN ini bertepatan dengan kedatangan Presiden SBY ke New York, Kamis ini (30/5). Presiden akan menghadiri pertemuan panel tinggi PBB yang membahas program pasca MDG’s 2015. Pertemuan ini adalah serangkaian kunjungan Presiden ke luar negeri termasuk bertemu kepala pemerintahan dan kepala negara Swedia, Perdana Menteri Fredrik Reinfeldt, Ketua Parlemen Swedia, Per Westerberg dan Raja Swedia, Carl XVI Gustaf.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum berangkat ke Swedia dan Amerika Serikat, Senin, sempat memberi klarifikasi perihal penghargaan ini. Presiden mengatakan pemberian penghargaan “Statesmen Award 2013” dari organisasi internasional dan kredibel bidang HAM dan kerukunan umat beragama tersebut, didasarkan atas catatan mereka diantaranya terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, komitmen yang kuat dalam mendorong perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai.

“Meski sekali lagi masih ada masalah dalam negeri kita, masih ada kejadian yang belum cerminkan kerukunan, saya akui,” kata Presiden.

Untuk itu, menurut dia, penghargaan itu semestinya diterima secara baik. “Saudara tahu bahwa sebuah lembaga kredibel, dari berbagai aspek, kemudian berikan penghargaan kepada kita, melalui presiden tentu tidak boleh melihatnya secara tidak baik sebenarnya. Bagi saya sendiri, hal baik yang dilihat dunia itu kita terima kalau itu diakui kemudian justru kita harus berbuat lebih keras, efektif lagi untuk perbaiki lagi,” katanya.

Rencana pemberian penghargaan ini memang kontroversial. Diawali oleh surat protes yang dilayangkan profesor bidang filsafat Franz Magnis-Suseno kepada ACF, kini setidaknya lebih dari 8000 orang menandatangani petisi penolakan. Mereka khawatir penghargaan ini akan memberi kesan internasional yang salah tentang keadaan hak asasi manusia dan toleransi beragama sesungguhnya di Indonesia.

Namun ada pula kelompok organisasi massa yang mendukung dengan mengapresiasi ACF. Menurut mereka, toleransi kehidupan beragama di Indonesia telah secara terus menerus terbangun dan berkembang di Indonesia. Mereka menyatakan dukungan di Kantor Kementrian Agama kemarin.

The Appeal of Conscience Foundation adalah sebuah yayasan yang menjalin dialog antara agama. Pendirinya, adalah Rabbi Arthur Schneier, pemimpin spiritual dari Sinagoga Park East di Manhattan, AS. Schneier mendirikan yayasan ini pada tahun 1965 dan sekarang menjabat sebagai presiden ACF.

opini/nin

You might also like