BNN Musnahkan 35 Ha Ladang Ganja di Aceh

Aceh Besar, FK – Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan sekitar 35 hektare ladang ganja yang berada di Kabupaten Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Senin (13/5). Ladang ganja itu tersebar di 18 titik ladang yang berada di Desa Pulo, Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Banda Aceh.

Tanaman-tanaman ganja siap panen berusia sekitar lima bulan dengan tinggi rata-rata dua meter itu, dimusnahkan dengan cara dicabut akarnya dan dibakar menggunakan solar.

Diduga, ganja-ganja tersebut akan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia melalui Medan, Sumatera Utara. Pemusnahan ladang ganja ini merupakan salah satu upaya untuk memberantas sebelum ganja beredar ke masyarakat.

Kepala BNN Komjen Pol Anang Iskandar yang memimpin pemusnahan kali ini menuturkan, pemusnahan ladang ganja ini berawal dari informasi masyarakat yang menemukan ladang-ladang ganja di wilayah ini sekitar sebulan lalu.

Selanjutnya, bekerja sama dengan Polda NAD, tim BNN melakukan penyelidikan awal.

“Pada 5 Mei, tim BNN berangkat dari Jakarta menuju Banda Aceh, menyelidiki dan memetakan ladang ganja bersama dengan Polda NAD dan Badan Geospasial Nasional. Dari hasil pemetaan, terdapat 18 titik ladang ganja yang ditemukan dengan total ada 35 hektare ladang. Dan di antaranya seluas 7,5 hektare dan 2,5 hektare,” kata Anang di sela-sela kegiatan pemusnahan.

Anang mengaku, seperti dalam pemusnahan ladang ganja sebelumnya, dalam pemusnahan ladang pertama kali di tahun 2013 ini, pihaknya tidak menemukan sang pemilik ladang.

Pasalnya, ladang yang ditemukan berada di daerah terpencil, yang sengaja dilakukan tersangka untuk menghindari aparat. Ladang-ladang ganja ini berada di daerah perbukitan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan medan yang cukup sulit.

“Mereka menanam, kemudian ditinggalkan. Siapa yang menanam kami terus lakukan penyelidikan,” kata jenderal bintang tiga tersebut.

Anang mengatakan, penemuan dan pemusnahan ladang ganja ini bukan yang pertama kali. Untuk mencegah agar ladang tidak kembali ditanami ganja, pihaknya secara berkelanjutan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mengganti tanaman ilegal tersebut dengan tanaman industri lain yang disebut dengan program alternative development.

“Terus menerus kita lakukan. Sekarang ini ada langkah alternative development untuk mengubah tanaman ganja dengan tanaman yang bermanfaat. Ini langkah-langkah yang terus dilakukan, daripada tidak pernah dilakukan penangkapan sama sekali. Sambil menangkap, kami melakukan alternative development. Menyadarkan masyarakat supaya tidak lagi menanam ganja, tapi menanam tanaman industri yang bermanfaat yang dibantu oleh BNN,” jelasnya.

sofyan/jotz