TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

“Nikah Kilat Hasan Ahmad Tidak Sah, Itu Mirip Zina”

Prof Abdul A’la (istimewa)
Prof Abdul A’la (istimewa)

 

Untuk mengetahui bagaimana tinjauan secara hukum Islam dari pernikahan siri Hasan Ahmad, berikut petikan wawancara Alaik Hadi dari FORUM dengan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abdul A’la:

Hasan meyakini “mengawini gadis tanpa wali” itu sah. Menurut Anda?

Madzhab Syafii dan mayoritas madzhab yang dianut umat Islam di Indonesia mengatakan saksi wali itu adalah harus menjadi rukunnya pernikahan. Pernikahan itu tidak bisa lepas dari tujuan pernikahan, di dalamnya terdapat sebuah rahmat dan mawaddah atau kasih sayang, bukan hanya sekedar eksploitasi seks.

Persoalan Hasan sama sekali tidak ada dalam bingkai tersebut. Hukum Islam itu ingin menciptakan ketertiban, dengan penuh kesadaran. Apa yang dilakukan Hasan itu justru melawan ketertiban itu sendiri dan akan membuat keresahan serta membuat generasi kita semakin tidak jelas. Dan yang lebih penting lagi, aspek moral dari agama itu tidak ada sama sekali. Karena sebenarnya unsur dari substansi agama itu adalah penguatan moralitas manusia, meliputi bagaimana kita bersikap pada orang lain, keluarga, lingkungan, dan seterusnya.

Lalu bagaimana dengan pendapat Madzhab Imam Hanafi?

Kalau Sayyib, jika dia janda, itupun tujuannya tetap harus punya tujuan, yaitu membentuk keluarga. Litaskunu ilaiha. Tidak bisa kalau hanya tujuannya untuk main kemudian dilepas lagi.

Bagaimana dengan pendapat Dawud Adhhohiri?

Dawud Addhori itu orang yang hanya melihat aspek dari sisi luar hukum atau persoalan yang sama sekali tidak berdasarkan pada substansi agama atau tidak mendasarkan pada tujuan agama.

Sekali lagi, unsur dasar agama adalah moralitas. Ketika bertentangan dengan moralitas, maka hal tersebut bertentangan dengan agama dan itu hanya berapologi atau hanya bermain kata-kata.

Ada anggapan, kasus Hasan adalah ibarat ‘Gunung Es’, atau Hasan adalah bagian kecil yang tampak dipermukaan, tapi sebenarnya praktek nikah seperti ini banyak dilakukan?

Mungkin. Bisa jadi. Karena mereka menggunakan atas nama agama untuk kepentingan dia sendiri. Padahal agama itu untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan orang-perorang. Ketika kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan masyarakat maka sebenarnya itu sudah tanda-tanda bahwa itu bukan ajaran agama.

Banyak pendapat dalam Islam, lalu bagaimana kita memandang fiqih dengan begitu banyak pendapat, ada yang memperbolehkan, ada yang tidak. Mana yang bisa kita jadikan pegangan?

Fiqih itu tidak bisa lepas dari akhlak, fiqih harus tumbuh dari akhlak. Jadi prosesnya begini: pertama dari aqidah bahwa Tuhan itu Esa, maka melahirkan moral, moral kesetaraan, monoteisme atau tauhid itu menunjukkan bahwa manusia setara. Ketika manusia setara muncul hukum, hukum untuk menegakkan kesetaraan ini.

Bahwa Tuhan itu adalah Maha Pengasih, Arrahmanirrahim, lahirlah moral, bagaimana kita memperlakukan orang dengan kasih sayang, selanjutnya agar kasih sayang ini kuat, maka dibuat hukum agar jangan sampai orang melakukan perbuatan seenaknya sendiri terlebih kekerasan kepada orang lain. Maka fiqih dapat dijadikan pegangan jika tidak bertentangan dengan moral.

Hasan beranggapan ini adalah pilihan alternatif daripada berbuat zina dengan ‘jajan’ di lokalisasi?

Sikap tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan. Karena agama Islam memerintahkan untuk melakukan pengendalian diri. Karena kalau mengumbar nafsu tanpa pengendalian diri itu sama dengan binatang. Agama tidak butuh dengan orang seperti itu.

Pernikahan seperti itu apa bisa dikatakan tidak sah?

Tidak sah.

Bisa dikatakan dengan Zina?

Menurut saya iya, karena dia mengumbar hawa nafsu. Itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dalam agama, tidak ada alasan darurat, kemudian praktek seperti itu bisa dilaksanakan daripada ke lokalisasi. Itu pelecehan seksual.

Anda mengatakan, pernikahan seperti adalah tidak sah dan dapat dihukumi zina, apakah hal ini menurut Anda pribadi atau menurut hukum agama?

Menurut agama. Berdasarkan ajaran agama moral itu, agama tidak hanya sekedar untuk menjustifikasi perbuatan seseorang, tapi dalam rangka membangun kehidupan yang manusiawi, dimana antara satu manusia dengan manusia yang lainnya setara.

Apakah yang dilakukan Hasan bisa digenerelasikan pada yang terjadi di daerah Rembang, Pasuruan atau Bogor tentang kawin kontrak?

Intinya hal tersebut adalah pelecehan seksual, dan agama mengutuk pelecehan seksual, karena itu sudah menghilangkan moral dalam agama.

***

You might also like