Kebijakan Dua Harga BBM Rugikan Pengusaha SPBU

Penjagaan di Satu SPBU (AFP)
Penjagaan di Satu SPBU (AFP)

Jakarta, FK — Wacana pemerintah ihwal dual price (harga ganda) BBM Subsidi rupanya mendapat tentangan keras. Sebagian pengusaha SPBU menolak rencana kebijakan pemerintah menerapkan dua harga bensin premium, karena akan sulit dilaksanakan dan akan merugikan mereka secara ekonomis.

“Kalau SPBU harus memilah-milah pembeli, itu susah sekali karena pembeli bisa memaksa untuk membeli (harga premium) Rp 4.500, lalu kita bisa berbuat apa?” kata Nur Adib, pemilik sejumlah SPBU di wilayah Jakarta dan Bali, Sabtu (27/4).

Menurutnya, rencana penerapan dua harga bensin premium itu juga akan merugikan pihaknya secara ekonomi.

“Jelas modalnya tambah,karena harus tambah orang untuk menjadi petugas yang bisa menolak orang untuk membeli,” kata Nur Adib, yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi, atau Hiswana Migas.

Pernyataan senada juga diutarakan Wakil Sekretaris DPD 3 Hiswana Migas untuk wilayah Jakarta, Jabar Banten,Syarif Hidayat, yang menilai operator SPBU akan sulit dalam melayani masyarakat untuk membeli BBM premium.

“Karena akan menyulitkan operator SPBU,” ungkapnya di Jakarta, seperti dikutip sejumlah situs sosial, hari ini.
Sebelumnya, pemerintah menyatakan segera menerapkan kebijakan penetapan dua harga BBM, yaitu menaikkan harga premium dan solar mobil pribadi dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 per liter.

Namun demikian, pengguna sepeda motor dan mobil pelat kuning tetap bisa membeli BBM bersubsidi dengan harga lama, yaitu Rp 4.500 per liter.

Pemerintah kemudian menyiapkan skenario implementasi dan mekanisme pengawasan di lapangan, utamanya di tahap penjualan di seluruh stasiun pengisian bahan bakar.

Jumat (26/4) pekan lalu PT Pertamina telah mengelompokkan stasiun pengisian bahan bakar umum, SPBU, dalam empat kategori dan menyiapkan identitas SPBU.

Entah apa kelanjutannya setelah pemerintah SBY dikabarkan kuat menganulir wacana dual price tersebut. Much ado ’bout nothing.

jotz/BBC