Antrean di Bakauheni Mulai Berkurang

Suasana antrean truk di Pelabuhan Bakauheni. (illustrasi)
Suasana antrean truk di Pelabuhan Bakauheni. (illustrasi)

Bandarlampung, FK – PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni menyebutkan penumpukan truk tujuan Pulau Jawa di pelabuhan penyeberangan setempat, Senin (14/1) mulai berkurang dibanding sehari sebelumnya.

“Meskipun, saat ini masih terdapat ratusan kendaraan yang mengantre untuk diseberangkan ke Pelabuhan Merak, Banten,” ucap Manager Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni Heru Purwanto.

Ia menyebutkan di Dermaga I, II dan III Pelabuhan Bakauheni masih ada sedikitnya 600 truk yang antre untuk diseberangkan ke Merak.

Kepadatan tumpukan kendaraan saat ini tidak lagi seperti Minggu (13/1) lalu. Menurut dia, jumlah kapal yang dioperasikan saat ini sudah mencapai 26 unit, atau jauh lebih banyak dibandingkan tiga hari lalu yang hanya 16 kapal.

Ia mengatakan jumlah kapal yang beroperasi diperbanyak untuk mengurangi penumpukan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni dan Merak, sehubungan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda mulai membaik.

“Kondisi cuaca dan gelombang masih cukup besar, tetapi tidak lagi seperti sebelumnya. Jadi, aman untuk kapal berlayar,” katanya.

Dia menyebutkan, meski penumpukan truk masih terjadi, keselamatan pelayaran tetap diutamakan sehingga yang dibolehkan beroperasi hanya kapal yang siap dan aman berlayar dalam kondisi cuaca seperti sekarang.

Ia juga menyebutkan pungutan terhadap para sopir truk di Pelabuhan Bakauheni itu bukan dilakukan pihaknya dan pengelola pelabuhan. “Kita sekarang sedang menyelidiki siapa yang melakukan pungutan itu,” tegasnya.

Sebelumnya, sejumlah sopir truk yang antre di Pelabuhan Bakaheni memilih menggunakan jalur tembak dengan membayar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu untuk lebih cepat menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten karena antrean kendaraan sangat panjang.

Salah seorang sopir truk tronton pengangkut barang dari Medan, Ganap, di Dermaga III Pelabuhan Bakuheni, mengaku membayar jalur tembak sebesar Rp300 ribu untuk dapat menyeberang lebih dulu, meski tidak mengangkut sembako yang menjadi prioritas penyeberangan.

Menurutnya, memang jalur tembak itu tidak dipaksakan, namun para petugas yang menawarkan untuk menggunakannya. “Kalau bayar Rp100 ribu masih antre tapi tidak lama sedangkan bayar Rp300 ribu dikawal sampai masuk ke kapal feri,” kata dia.

Comments are closed.