KPK: Koruptor Harusnya Dipenjara di Nusakambangan

Seorang wanita melintas dekat spanduk anti korupsi, saat aksi panggung anti korupsi oleh Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN), di Semarang, Jateng, Minggu (23/12). (foto: antara)
Seorang wanita melintas dekat spanduk anti korupsi, saat aksi panggung anti korupsi oleh Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN), di Semarang, Jateng, Minggu (23/12). (foto: antara)

Jakarta, FK –  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih senang para koruptor dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah, ketimbang di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Selain membuat kapok para pelaku rasuah, hal itu juga sebagai pembelajaran bagi masyarakat.

“Saya kira lebih maju pemikiran yang menyatakan agar para koruptor dipenjara di LP Nusakambangan, atau pulau Madagaskar sekalian,” kata juru bicara KPK Johan Budi SP kepada wartawan usai diskusi Refleksi Akhir Tahun di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, Rabu (26/12).

Johan mengatakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menyatakan korupsi adalah kejahatan luar biasa. Karena itu, hukuman berat dan setimpal layak diberikan kepada para koruptor.

“Jadi sebenarnya bukan soal tempatnya. Tapi apakah timbul efek jera dari hukuman itu. Itu yang harus dipikirkan,” ujar Johan.

Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengatakan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan sudah menetapkan Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, sebagai penjara khusus narapidana korupsi. Saat ini sudah 28 pelaku rasuah merasakan dinginnya lantai penjara itu. Sementara, 45 lainnya masih dibui di LP Klas I Cipinang, Jakarta Timur.

“Saat ini di LP Sukamiskin sudah ada Gayus Tambunan dan 28 narapidana kasus korupsi lain, termasuk mantan Gubernur Bengkulu Agusrin,” kata Denny.

Menurut Denny, alasan LP Sukamiskin dijadikan sebagai pusat penahanan para terpidana korupsi lantaran fasilitasnya. “Di Sukamiskin itu satu sel dihuni satu orang,” ujar Denny. Tetapi, dia tidak merinci alasan mendasar kenapa lebih memilih LP Sukamiskin ketimbang penjara lainnya.

Denny pun menampik kekhawatiran penerapan peraturan di LP Sukamiskin bisa lebih longgar bagi para napi tindak pidana rasuah.

“Kalau ditakutkan penjagaannya lebih longgar enggak juga. Kita sudah persiapkan segalanya dengan baik. Soal peraturan kita samakan standarnya,” ujar Denny.

Di masa lalu, Pemerintah Hindia-Belanda pernah memenjarakan Presiden Soekarno di tempat yang sama. Sampai saat ini, sel yang pernah ditempati salah satu proklamator Republik Indonesia masih dirawat baik. Ironis memang, pada masa lalu penjara sarat nilai sejarah itu dipakai buat membungkam pejuang bangsa, kini malah dipakai buat memenjarakan para koruptor yang mempermalukan bangsa.