Inovasi Mengolah Lele Terus Dikembangkan

Ikan Lele
Ilustrasi. (Foto: teknis-budidaya)

Gunung Kidul, FK – Inovasi untuk mengembangkan lele menjadi berbagai olahan seperti abon dan keripik, terus digalakkan oleh kalangan industri rumah tangga di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Masyarakat Kecamatan Playen banyak yang memelihara lele dengan sistem terpal. Setiap panen, pasti ada ikan besar yang tidak masuk kriteria pasar. Kemudian, kami beli dan oloh menjadi berbagai olahan berbahan lele,” kata pengusaha lele “Dua Putri” Playen Siti Toyibah di Gunung Kidul, Senin (3/12).

Lele diolah menjadi abon, kripik tulang lele, kripik kulit lele. Setiap harinya mampu memproduksi paling sedikitnya 50 kilogram. Siti Toyibah menjelaskan, harga yang ditawarkan cukup variatif. Untuk kripik tulang lele Rp80.000 per kilogram, abon lele Rp120.000 per kilogram dan kripik kulit lele Rp70.000 per kilogram.

Harga lele ditingkat pembudidaya lele setiap kilogramnya Rp15.000. Pemasaran produk olahan lele masih diseputaran Kecamatan Playen dan Kota Wonosari. “Jumlah permintaan abon, kripik tulang dan kripik kulit lele semakin meningkat. Kami terus memperbaiki kualitas produksi dan pengemasannya, sehingga mampu masuk ke toko besar,” kata dia.

Usaha pengolahan lele membutuhkan bantuan penguatan modal atau bantuan peralatan untuk produksi serta promosi. Saat ini, anggota PKK hanya menggunakan peralatan rumah biasa yang hanya mampu digunakan untuk pengolahan dalam skala kecil.

“Kami akan mengajukan permohonan bantuan penguatan modal kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Energi Sumber Daya Alam (DisperindagkopESDM) Gunung Kidul. Dengan penguatan modal dan pelatihan, kedepannya usaha ini terus berkembang dan hasil produksi mampu dijual ke toko-toko besar,” ujar Siti Toyibah.

Menurut dia, pangsa pasar olahan lele sangat prospektif seiring berkembangnya objek wisata di Gunung Kidul. Pihaknya akan mempromosikan hasil produksi lelenya di objek-objek wisata. “Kami akan melakukan promosi dengan menitipkan barang produksi di toko-toko di objek wisata,” ujarnya.

-ant-