Adhyaksa Dault: Rp 2,5 Triliun Itu Urusan Pengganti Saya

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyampaikan keterangan kepada wartawan usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Selasa (18/12). (sumber foto: antara)
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyampaikan keterangan kepada wartawan usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Selasa (18/12). (sumber foto: antara)

Jakarta, FK –  Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan pembangunan proyek Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyatakan bukan urusannya lagi. Hal itu karena proyek dimulai setelah dia lengser dari kabinet.

Adhyaksa mengatakan hal itu usai diperiksa lima jam lebih oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini. Dia mengaku tidak tahu menahu soal pembengkakan anggaran yang semula hanya Rp 125 miliar menjadi Rp 2,5 triliun.

“Soal anggaran Rp 2,5 triliun itu mah mana saya tau atuh. Ini mah tanya pengganti saya saja. Kita cuma ajukan Rp 125 miliar, itu juga dibintangi dan tidak dicairkan,” kata Adhyaksa di lobi Gedung KPK, Jakarta, Selasa (18/12).

Menurut Adhyaksa, saat menjabat menjadi menteri, dia dilimpahkan beberapa aset salah satunya tanah Hambalang, dulunya masih disebut Sentul, oleh Direktorat Jenderal Olahraga. Menurut dia, proyek itu dibuat sebagai pengganti Sekolah Olahraga Ragunan, Jakarta Selatan, yang akan diambil alih oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tetapi, dia hanya merencanakan anggaran sebesar Rp 125 miliar dengan desain pembangunan dua lantai ke atas dan ke bawah. Jenis pendanaannya pun tahun tunggal (single year). Tetapi, belakangan diubah menjadi tahun jamak (multiyears).

“Itu karena menyesuaikan kontur tanahnya yang tanah lempung dan labil,” ujar Adhyaksa.

Namun, Adhyaksa mengakui meski sertifikatnya belum ada, di tanah itu sudah dibangun beberapa rumah, masjid, dan dipagar. Menurut dia, saat itu Hak Guna Usaha tanah Hambalang masih dikuasai pengusaha dan adik tiri mantan Presiden Soeharto, Probosutedjo, meski sudah habis pada 2006.

Menurut Adhyaksa, pertimbangan memilih pembangunan Sekolah Olahraga Nasional di Hambalang lantaran tempatnya tinggi dan baik buat melatih laju pernafasan maksimum (VO2 max) para atlet.

Adhyaksa pun berani memastikan tidak ada uang sepeserpun mengalir meski anggaran sudah direncanakan.

“Urusan akhirnya anggaran menjadi jenis multiyears dan naik sampai Rp 2,5 triliun itu urusan pengganti saya (Andi Mallarangeng),” ucap Adhyaksa.

ant/mdk/dhn