“Jangankan Rhoma, Ketumnya Saja Belum Tentu Jadi Capres”

Rhoma Irama (sumber foto: liputan6)

Jakarta, FK – Wacana bakal calon presiden yang akan maju dalam Pemilihan Presiden 2014 sudah mulai bergulir. Sejumlah nama pemimpin partai politik seperti Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan Megawati Soekarnoputri diprediksi masih akan meramaikan konstestasi perebutan RI-1. Namun, siapa sangka kemudian muncul nama Raja Dangdut Rhoma Irama. Seriuskah Bang Rhoma ingin bertarung melawan para politisi papan atas itu? 

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah yang juga peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menanggapi enteng wacana itu. Menurutnya, wacana pencapresan Rhoma, yang pertama kali digulirkan oleh ulama dan habaib internal PPP, kemudian mendapatkan tanggapan yang terlalu serius. 

“Inikan pertama kali bergulir di kalangan internal PPP, terutama para ulama dan habaib yang dekat dengan kalangan PPP. Kemudian, digulirkan ke publik dan ditanggapi terlalu serius. Rhoma juga meresponnya agak berlebihan. Kalau saya, anggap saja ‘joke of the month’. Meski pun, secara konstitusional, itu hak seorang Rhoma Irama,” kata Burhanuddin. 

Ia mengungkapkan, alasan rasional meragukan keseriusan Rhoma “nyapres” adalah tingkat elektabilitasnya. Seseorang yang populer tak serta merta memiliki elektabilitas tinggi. “Dilihat dari kemungkinan di PPP sendiri juga sangat kecil. Jangankan Rhoma, Ketua Umumnya saja belum tentu jadi capres. Elektabilitas Rhoma juga belum muncul, bahkan dalam simulasi top of mind,” paparnya. 

Burhanuddin meyakini, publik juga tidak menanggapi serius wacana pencapresan Rhoma. “Rhoma sudah luar biasa di panggung dangdut, sebagai raja yang tak pernah lengser. Tapi sebagai capres, menurut saya, bukan kaplingnya,” ujar Burhan. 

Di balik wacana ini, ia menduga, ada strategi yang sengaja dibentuk PPP untuk mendongkrak popularitas partai yang menurun. Dari sisi timing, munculnya wacana pencapresan Rhoma turut membuat publik sadar akan keberadaan PPP. 

“Apalagi elit-elit PPP sepertinya bertepuk tangan dengan munculnya wacana ini. Kalau isu ini bergulir terus, yang untung PPP. Masyarakat atau pendukung Rhoma tahu bahwa Rhoma masih aktif di PPP,” katanya.

Sebelumnya, pendukung Rhoma Irama yang tergabung dalam Soneta Fans Club Indonesia (SFCI) mengajukan Rhoma Irama sebagai calon presiden pada pemilu mendatang. Figur seniman yang religius itu diyakini mampu menjadi pemimpin besar dan membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.Dukungan tersebut disampaikan puluhan anggota SFCI dari berbagai daerah di Jawa Timur saat menyambut Rhoma Irama di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Kamis (1/11).

Ketua SFCI Surabaya Yusuf Maulana mengatakan, Rhoma adalah figur yang memiliki komitmen kuat memberantas kemunkaran. Karena itu, dia yakin, jika Rhoma terpilih menjadi presiden nanti, maka pemerintahan Indonesia akan bersih dari berbagai hal berbau korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dukungan lainnya datang dari Wasiat Ulama (Wasilah Silaturahum Asatidz Tokoh dan Ulama). Keberhasilan Roma memimpin kelompok musik Soneta Grup dinilai menjadi salah satu alasan Rhoma pantas dimajukan dalam bursa capres RI. 

“Rhoma Irama memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh, itu tercermin ketika memimpin Soneta Grup selama 40 tahun lebih dan tetap solid,” tegas Fachrurozy Ishaq, Ketum DPP Wasiat Ulama dalam deklarasi dukungan di rumahnya, Jl Mesjid No 8, Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (8/11).

Fachrurozy melanjutkan, alasan lain mengapa organisasi perkumpulan ulama se-Indonesia tersebutmendukung Rhoma Irama menjadi presiden adalah karena Rhoma merupakan salah satu tokoh nasional yang begitu populer di rakyat. Khususnya umat Islam baik nasional maupun internasional. 

Selain itu, raja dangdut yang kini aktif menjabat sebagai Ketua Umum FAHMI TAMAMI (Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid dan Mushalla Indonesia) dan PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) tersebut, merupakan salah satu ulama yang konsisten menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

kmp/dhn/berbagaisumber