Napi Pembunuhan Kendalikan Narkotika dari LP Nusa Kambangan

Denny Indrayana. (sumber foto: Antara)

Jakarta, FK – Penggerebekan narkoba di Lapas Nusa Kambangan merupakan hasil kerjasama BNN dan Kemenkumham. Demikian ditegaskan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana di Istana Negara, Jakarta, Selasa (27/11).

“Selama ini kerjasama dengan BNN terus dilakukan. Kalau ada penindakan BNN yang dilakukan di Lapas, itu bentuk kerja sama antara BNN dan Kumham untuk memberantas pengendalian narkoba dalam Lapas dan peredarannya,” tandas Denny.

Denny menambahkan, pengendalian narkoba dari Lapas tidak hanya di Indonesia, di negara lain juga terjadi. “Itu sudah peraturan bersama. Justru banyak penangkapan sekarang, karena memang hasil kerjasama. Di Nusa Kambangan, semua bandar narkoba kita tempatkan dan relokasi,” tukasnya.

Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Benny Jozua Mamoto, menyatakan ada narapidana Nusakambangan yang sengaja terlibat dalam peredaran gelap narkoba untuk mendapatkan uang. Targetnya adalah untuk dapat keringanan hukuman, seperti napi Nusakambangan lainnya, Hillary K Chimezie.

“Iya, memang seperti itu,” jelas Benny. Keringanan hukuman diharapkan oleh napi agar terbebas dari hukuman mati. Napi tersebut bernama Yadi Mulyadi, yang dikurung di Lapas Batu, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dia ditangkap bersama enam Napi Nusakambangan lainnya, yaitu Hillary K Chimezie dan Humprey alias Dokter alias Koko di Lapas Pasir Putih. Kemudian Yoyo dan Rudi di Lapas Narkotika. Terakhir adalah Napi Lapas Batu, yaitu Mustafa, Yadi Mulyadi, dan Obina. “Semuanya kita bawa ke Jakarta,” jelas Benny.

Dia menyatakan, semuanya bermula dari penyelidikan dan penyidikan perkara narkoba sejak sebulan lalu. Ada kurir yang ditangkap di beberapa tempat. Beberapa adalah sindikat antar negara, termasuk pewarta, Zakiah alias Agnes atau AC. “Kita akan dalami lagi,” imbuhnya.

rbo/dhn