Dua Petugas Polisi Simpan Foto Novi di Smartphone

Jakarta, FK – Polda Metro Jaya mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap anggota Polsektro Tamansari terkait penyebaran foto Novi Amalia (25), pengemudi Honda Jazz berbikini saat berada di sana. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, tujuh belas ponsel dari tiga belas anggota yang diperiksa telah disita dan dibuka isinya oleh tim cyber crime Mabes Polri. 

“Dari pemeriksaan secara saintifik, didapatkan hasil dua petugas yang saat itu bertugas memang menyimpan foto Novi di ponsel masing-masing,” kata Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Kamis (25/10). 

Salah satu petugas yang memiliki foto Novi dalam ponselnya adalah petugas pawas berinisial KS. Di dalam smartphone miliknya terdapat 2 gambar Honda Jazz merah milik Novi serta 2 gambar Novi yang tengah mengenakan pakaian dalam. 

“Setelah dikembangkan, menurut pemeriksaan, yang bersangkutan mengaku bahwa foto mobil Novi memang difoto langsung dengan ponselnya. Sementara foto Novi didapat dari kiriman,” Rikwanto menguraikan. 

Selain HS, seorang polwan berinisial DI pun diketahui menyimpan sebuah foto Novi. Bedanya dengan foto di smartphone HS, DI memang memotret foto itu dengan smartphone miliknya. 

“Namun, DI tidak mengirimkannya dan hanya menyimpan saja,” jelas Rikwanto. 

Ia menambahkan bahwa foto Novi yang tersimpan di ponsel DI memiliki kesamaan dengan salah satu foto Novi yang beredar di internet. 

“Pose dan anglenya memang berbeda, namun diduga bahwa foto di ponsel DI dengan yang beredar di internet diambil di waktu yang berdekatan,” tutur Rikwanto. 

Dilanjutkan Rikwanto, penyelidikan berkembang ke anggota yang ada di tampilan salah satu foto Novi. Mereka adalah YS dan S, dua petugas reserse yang malam itu sedang piket. 

“Nantinya keempat anggota kepolisian ini akan menjalani pemeriksaan di Propam untuk penelusuran di mana letak kelalaian mereka saat bertugas,” lanjut Rikwanto. 

Selain pemeriksaan mengenai foto Novi, salah satu titik berat pemeriksaan terhadap keempat petugas ini nantinya, menurut Rikwanto, adalah mengapa ada pihak-pihak dari luar kepolisian yang bebas keluar masuk ke ruang penyidik.

(kmp/tbn/berbagai sumber)