Ustadz Fahmi Salim: “Saya Tidak Setuju Ormas Dibubarkan”

0

Menteri Politik Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkopolhukam) Wiranto menyatakan pemerintah perlu secara tegas mengambil upaya hukum untuk membubarkan organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas tersebut dinilai bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. “Mencermati berbagai pertimbangan di atas serta menyerap aspirasi masyarakat, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI,” kata Wiranto, Senin 8 Mei 2017 di Kemekopolhukam, Jakarta.

Sebagai badan hukum, HTI menurut Wiranto, tidak melaksanakan peran positif untuk memgambil bagian dalam proses pembangunan untuk mencapai tujuan nasional. HTI,kata Wiranto juga terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, asas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila UUD 1945 seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas. Berikut ini wawancara Ustadz Fahmi Salim Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat periode 2015-2020 yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020. Simak penuturannya:

Pemerintah baru saja mengumumkan pembubaran HTI, pendapat Anda?

Saya tidak setuju dengan Menkopolhukam yang membubarkan ormas yang seharusnya sesuai Undang-Undang harus lewat putusan pengadilan, bukan dengan model pernyataan pers.

Maksudnya?

Pembubaran ormas harus dengan pembuktian fakta hukum di pengadilan bukan dengan opini publik yang dikembangkan sepihak.

Bagaimana tanggapan Anda sendiri terkait wacana khilafah ini? Secara substansi

Kita harus mendukung keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) yang memutuskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila  sesuai kondisi Indonesia.

Namun pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus menjamin pelaksanaan Pancasila yang benar melahirkan kesejahteraan lahir batin warganya sesuai dengan nilai luhur agama, bukan yang sudah  direduksi diselewengkan dengan menerapkan neolib ekonomi politik dan social budaya (Sosbud).

Bisa dijelaskan?

Tuntutan dan gagasan mencari alternatif selain NKRI dan Pancasila hanya akan muncul di tengah ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, tidak terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selama ini ide HTI kan masih taraf gagasan, apakah tepat langsung dibubarkan?

Jika ingin bersikap tegas dengan organisasi yang berorientasi transnasional, tidak boleh tebang piling HTI saja, ini dzolim namanya. Jadi harus juga diterapkan kepada ormas yang jelas-jelas transnasional yang mereka komandonya menginduk kepada negara luar, yang tunduk pada otoritas keagaman dan politik yang bersifat pada totaliter.

Bisa diberi contoh?

Misalnya organ-organ komunisme yang ditengarai yang bangkit, juga organ-organ Syiah di Indonesia yang menginduk pada gerakan transnasional (tunduk Syiah Iran).

Apa bahayanya ideologi Syiah bagi NKRI?

Mereka memiliki konsep imamah, konsep politik yang menyatukan agama dan negara yang dikontrol dari luar negeri (Iran, red). Dan untuk mengabdi pada kepentiangan Syiah-Iran. Jika perlu ini harus ditertibkan karena mereka juga memiliki konsep imamah internasional seperti halnya HTI selama ini mewacana konsep khilafah internasional. Syiah ini malah lebih berbahaya, malah mengancam sendi-sendi bernegara, karena konsep politiknya totaliter. Dimana menyatukan agama dan negara dibawah kendali imam yang terpusat kekuasaannya di Iran. Syiah mengancam akidah ahlusunnah wal jamaah di Indonesia yang dihuni mayoritas penduduk Indonesia.

Separah apa bahaya Syiah bagi NKRI?

Dengan ideolog imamahnya yang dikontrol Iran, Syiah banyak mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan di mana-mana. Dari Iraq, Libanon, Yaman sampai Bahrain. Di Bahrain, tokoh Syiah yang juga peminpin Partai Al-Wafa’a Islam,  Murtadha Al-Sanadi mengajak rakyat melawan negara dan mendorong anak-anak muda Syiah Bahrain untuk terus menyerang aparat keamanan, dan mengangkat senjata melawan pemerintah

Pemberontakan di Arab Saudi membuat tokoh Syiah Syekh Nimr dihukum mati karena dianggap menghasut rakyat melawan pemerintah Saudi. Syiah menimbulkan keresahan di mana-mana, termasuk di Nigeria dimana bentrok antara militer Negara dengan milisi Syiah. Jangan lupa di Filipina,  kasus penembakan terhadap rombongan Syekih Aid Al Qarny. Di Bogor aktivis Syiah melakukan penyerangan terhadap Azzikra Sentul, yang dipimpin Ustad Arifin Ilham, dan lain-lain.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.