Gebyar-Gebyar

0


 

Priyono B. Sumbogo

 

Ada sebuah tembang yang begitu teguh mencintai Indonesia, biarpun Gombloh – pencipta dan penyanyi lagu itu – mengetahui Indonesia dicengkeram oleh serba ironi. Lagu itu berjudul Gebyar-Gebyar.

Indonesia merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam angan-anganmu

Gebyar-gebyar pelangi jingga

 

Dan seterusnya…

Di sela alunan nada, Gombloh bersyair:

Tak sebilah pedang mampu palingkan wajahku darimu

Biarpun matahari terbit dari barat

Engkau tetap Indonesiaku

Gombloh yang telah meninggal, dan tetap miskin kala jadi pengamen maupun sesudah termasyhur, adalah pencinta sejati. Ia adalah kaum optimistik, kaum republiken, kaum reformis, kaum yang percaya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia akan abadi dan bergerak ke arah yang lebih baik.

Guncangan silih berganti. Penodaan oleh tangan-tangan jahil susul-menyusul. Bekali Indonesia melangkah tertatih-tatih. Hampir tersungkur. Dan sebagai negara justru hampir menjadi bencana bagi manusia di dalamnya. Namun orang-orang seperti Gombloh tetap menaruh sayang pada Indonesia. Biarpun segala logika jungkir balik, tatanan centang-perenang, kontrak sosial tercabik-cabik, solidaritas berkeping-keping, engkau tetap Indonesiaku.

Biarpun di tahun-tahun lalu para pelaksana hukum memutarbalik proses hukum untuk menumpuk mas picis rajabrana di rumah atau di celengan mereka, esok hari Indonesia akan tersenyum. Hakim-hakim tengik akan ditangkapi. Jaksa-jaksa mak nyai akan dibekuk. Polisi-polisi diamput akan dibui.  Pengacara-pengacara kampret akan dicukur gundul.

Lalu Indonesia akan memiliki kumpulan hakim yang matanya memancarkan kejujuran dan keberanian untuk mengetukkan palu dengan nada yang pas. Sebab, hakim adalah penabuh tifa di haluan perahu agar dayung-dayung bergerak rampak beraturan.

Esok Indonesia akan mempunyai kumpulan jaksa yang tangannya berani menyeret siapa saja yang bersalah pada republik. Sebab, jaksa adalah pemotong benalu di pepohonan agar bebuahan gendut bergelantungan hingga di pucuk dahan.

Kelak, Indonesia akan dijaga oleh polisi-polisi gagah, kuat, cekatan, tapi begitu kasih dan ramah pada masyarakat. Sebab, polisi adalah payung di kala terik dan hujan, yang bernyanyi seirama dengan orang-orang yang dipayunginya.

Akan lahir pula pengacara-pengacara yang membela tersangka secara proporsional tanpa berniat membebaskan klien yang memang patut dihukum. Sebab, nasihat pengacara adalah titik tengah dari dua ujung yang berjauhan.

Walaupun di tahun-tahun lalu, partai-partai dan para politisi dipenuhi para penganggur yang mencari kerja dan sebakul nasi serta sebuah tempat duduk, esok hari Indonesia akan memberi hormat. Partai-partai jangkrik yang dikuasai preman, pencuri pasir laut, penjual perempuan di rumah bordir, pengangguran, tukang pukul, doktor palsu, dai plin-plan, komplotan anak-beranak,  akan dijauhi disingkiri diganti.

Kelak akan lahir politisi sejati, yang menempuh jalan politik untuk memperindah tatanan. Sebab, politisi adalah penjelmaan gagasan tentang kerajaan gemah ripah di bumi, adalah mercusuar bagi para pengembara yang simpang siur. Politisi bukanlah orang-orang bingung yang membangun partai karena tak sanggup mencari nafkah atau menemukan indentitas diri. Dan partai bukanlah perusahaan dagang untuk menjual minyak oplosan, melainkan laboratorium untuk melahirkan mutiara-mutiara yang akan dipersembahkan bagi negeri.

Meskipun di tahun-tahun lalu tentara dicitrakan sebagai tukang kepruk penguasa, esok akan tumbuh cadas dan karang yang kukuh. Sebab, prajurit adalah penjaga lembah dan ngarai, benteng pantai dan selat.

Biarpun tahun-tahun lalu kelurahan dan kecamatan, kabupaten dan gubernuran, Istana Negara dan Istana Merdeka, ditempati oleh cantrik-cantrik yang pandai menyampaikan sembah takzim serta menjulurkan lidah hingga ke lantai, esok akan muncul para pamongpraja yang berdiri tegak ketika mendengar, menceritakan, dan memenuhi harapan negeri. Sebab, pamongpraja adalah petani yang meletakkan semaian padi secara rapi di bentangan sawah.

Walaupun di tahun-tahun lalu, guru, wartawan, pengusaha,  acapkali terombang-ambing, tersedot, atau terganjal oleh pelaksana hukum, tentara, atau partai, esok akan tercipta kekuatan sipil yang tangguh. Sebab, guru yang tut wuri handayani, pena wartawan yang tiada benci tiada mencaci tiada menyembah tiada menengadah, dan pengusaha yang mencari jalan Tuhan dengan memperluas lapangan pekerjaan adalah pilar-pilar martabat bangsa.

Bila tahun-tahun lalu, siapa saja merasa bimbang di atas pentas, esok semuanya akan menemukan peran dan mendapat tempat. Sebab, setiap orang memiliki jalan yang harus ditelusuri dan mempunyai guna yang harus ditunjukkan. Dan semua peran, sekecil apapun, akan punya arti bagi Indonesia bila dihayati serta dijalani dengan hati bersih. Pertunjukan di atas pentas akan menggembirakan, membuat Indonesia tetap menjanjikan serumpun harapan.

Tak sebilah pedang mampu palingkan wajahku darimu

Walaupun matahari terbit dari barat

Engkau tetap Indonesiaku

Layar panggung pun ditutup oleh suara jiwa Chairil Anwar yang telah menemukan jalannya lewat puisi dan menunjukkan kekuatan makna dalam puisi:

Sekali berarti

Sudah itu mati   

You might also like More from author