Menu

[Kritik Ideologi] Manusia Indonesia Mochtar Lubis

Mochtar Lubis (sumber foto: mandailing.org)

Mochtar Lubis (sumber foto: mandailing.org)

Oleh: Genot Widjoseno (Penanggungjawab Redaksi forumkeadilan.com)

Hampir empat dasawarsa lalu mendiang Mochtar Lubis memaparkan potret manusia Indonesia. Makalah 14 halaman berjudul “Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban” itu dibacakan dalam ceramah 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang kini kerap dikatakan Pidato Kebudayaan.

Rasanya pedas buat yang tersodok, namun cambuk bagi orang terbuka yang mau memperbaiki diri. Tak sepenuhnya ilmiah, karena ia bukan akademisi tulen. Lebih dari itu ia adalah seorang budayawan dan jurnalis yang lurus, tegar dan berani.

 

Berikut ringkasan stereotip manusia Indonesia yang dipotret Mochtar Lubis:

1.         Munafik atau hipokrit, yang diantaranya menampilkan dan menyuburkan sikap ABS (asal Bapak senang);

2.         Enggan dan segan bertanggungjawab atas perbuatannya;

3.         Berjiwa feodal;

4.         Percaya takhayul;

5.         Artistik, berbakat seni;

6.         Lemah wataknya;

7.         Cenderung boros dan suka jalan pintas (instan);

8.         Cepat belajar, otaknya cukup encer namun malas dan kurang sabar;

9.         Dan lain-lainnya yang disinggung secara singkat.

 

Singkat kata, Mocthar Lubis mencurigai kentalnya stereotip tersebut lah yang membuat kehidupan bangsa Indonesia menjadi bangsa paria seperti sekarang ini.

Ciri-ciri tersebut tidak muncul dengan sendirinya secara otomatis, alias paten atau bakat bawaan orang Indonesia. Ia adalah hasil dari sekian lama dan sekian banyak persinggungan peradaban, serta reaksi atas kejadian yang menimpa sejarah Indonesia. Dalam paparan selanjutnya Mochtar Lubis menyinggung banyak persoalan dunia yang terkait dengan kondisi Indonesia kala itu, antara lain keroposnya bumi akibat kapitalisme, peran adi-kuasa (lembaga-lembaga internasional dan korporasi multi-nasional) dan makin sedikitnya pemimpin dunia bijak sebagai penyebab berbagai masalah global saat ini.

Untuk pemimpin Indonesia, Mochtar Lubis memberi saran di akhir paparannya:

“Bagaimana keluar darinya? Dengan berdaya upaya agar kehidupan bangsa kita jangan terlalu banyak tergantung dari mereka, dengan memobilisasi sumber-sumber manusia, dana dan alam kita sebaik-baiknya dan seefisien yang dapat kita lakukan, dengan berhemat sampai menghitung sen, menghentikan sama sekali korupsi, dan memusatkan usaha dan pengabdian kita pada perbaikan penghidupan rakyat kita.

“Kita pasti tidak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari sistem dan jaringan ekonomi, keuangan dan perdagangan internasional yang selama ini telah kita masuki dengan membuka pintu tanah air kita seluas-luasnya pada mereka. Akan tetapi kita masih dapat melakukan daya upaya untuk membikin sesuatu hempasan yang mungkin timbul, jangan terlalu keras menghempaskan kita.”

“Jika kita terus begini, tidak mengubah cara-cara kita berpikir dan berbuat, mengubah nilai-nilai yang membimbing kehidupan kita, maka saya khawatir kita akan jadi kuli kasar belaka bagi perusahaan-perusahaan multinasional Jepang, Amerika, Jerman, Belanda, Perancis, Inggris, dan sebagainya, di tanah air kita sendiri.”

“Relakah kita melihat anak cucu kita mengalami nasib demikian?”

Mochtar Lubis pun pernah menjadi korban kepicikan manusia Indonesia. Karena kritik-kritiknya kepada pemerintahan, ia dijebloskan ke dalam sel, baik oleh rezim Orde Lama maupun Orde Baru. Toh ia berguyon, mungkin saja itu gara-gara pemimpin Indonesia masih percaya takhayul.

“Coba bayangkan, apabila segala rupa kebijaksanaan negara, umpamanya didasarkan pada wahyu dan petunjuk-petunjuk yang sepenuhnya irrasional seperti ini, alangkah berbahayanya bagi penghidupan bangsa kita. Siapa tahu dahulu Soekarno atau dukunnya pada suatu malam mendapat mimpi, dia mendaki gunung yang amat tinggi, sampai tergelincir jatuh. Lalu esok paginya melapor pada Soekarno, awas hati-hati terhadap seorang jangkung!”

Begitu tulis Mochtar Lubis.

***

Comments

comments