BRG Dan Winrock Kerjasama Kemitraan

0

Badan Restorasi Gambut (BRG), dalam hal ini Kedeputian Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG, dan Winrock International melakukan penandatanganan Technical Cooperation atau kerjasama kemitraan yang nantinya akan menjadi basis koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan restorasi gambut di Indonesia.

Winrock International adalah lembaga nirlaba dari Amerika Serikat. Lembaga ini bersifat kemanusiaan, non sektarian, dan memiliki fokus kerja mewujudkan keseimbangan antara pembangunan dan sumberdaya alam atau dikenal dengan pembangunan berkelanjutan.

Kerjasama kemitraan antara BRG dan Winrock International ini merupakan tindaklanjut kerjasama kemitraan antara Winrock International dengan Dirjen Bina Bangda, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Melalui kerjasama ini diharapkan muncul berbagai model restorasi lahan gambut yang pada gilirannya bisa direplikasi di daerah lain.

“Gambut menjadi sorotan besar, apalagi negara-negara yang mempunyai gambut telah melakukan berbagai kajian. Penguatan kebijakan, pemetaan, kajian restorasi terhadap perubahan iklim, terus dilakukan. Meskipun Kerjasama kemitraan ini agak terlambat namun kerjasama ini patut diapresiasi,” kata Deputi Perencanaan dan Kerjasama BRG, Dr. Budi Wardhana saat memberikan sambutan mewakili kepala Badan Restorasi Gambut, di Jakarta Jumat 10 November 2017.

Pada pada kesempatan yang sama, Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG, Dr. Haris Gunawan mengatakan, saat ini BRG telah menjalin kerjasama internasional dengan berbagai negara di dunia.

Pekan lalu, katanya, BRG bersama International Peatland Society, dan Japan Peatland Society telah menyelenggarakan tropical peatland roundtable yang menghasilkan lima pilar dalam Deklarasi Jakarta.

Lima pilar tersebut yakni: pertama, pendirian pusat gambut tropis; kedua, pembentukan komiter internasional gambut tropis; ketiga, membangun model pengelolaan bertanggungjawab gambut tropis; keempat, peningkatan kapasitas sumberdaya Manusia; dan kelima, membangun montitoring gambut secara terpadu.

Haris mengatakan, poin-poin dalam Deklarasi Jakarta sangat relevan untu jejaring kerja kita terkait dengan pengelolaan gambut tropis. Diharapkan kesepakatan kemitraan dengan Winrock International ini akan ini bisa menjadi bagian dari membangun model pengelolaan bertanggung jawab gambut tropis

“Mari kita optimalkan kesempatan dan peluang ini sehingga kita dapat melakukan hal-hal yang konstruktif dalam pengelolaan restorasi gambut dan ujungnya kita dapat menekan kejadian kebakaran, kabut asap, dan betul-betul mensejahterakan masarakat,” pungkas Haris.

Sementara itu, Country Represntative Winrock International Yesua Pellokila,SH, MH, mengaku sangat mengapresiasi kerjasama kemitraan antara BRG dengan Winrock International. Hadir di Indonesia sejak tahun 1990an, Winrock sesungguhnya telah memberikan kontribusi nyata Indonesia.

Dimulai dengan program beasiswa bagi 404 staf Kementerian Pertanian pada tahun 1990, sejak itu, karya dan kontribusi Winrock International bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia terus berlanjut sampai dengan saat ini.

“Dalam perjalanannya di Indonesia, Winrock International telah bekerja bersama-sama denganberbagai pihak untukmengkontribusikansumber dayanya bagi pembangunan manusia, alam dan lingkungan secara berkelanjutan,” jelas Yesua Pellokia.

Terkait kerjasama kemitraan ini, Yesua mempunyai harapan besar akan dapat memberikan kontribusi bagi Pemerintah Indonesia, dalam hal ini melalui program restorasi lahan gambut yang menjadi prioritas utama Badan Restorasi Gambut.

“Semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan baik, dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat dan Pemerintah Indonesia.”

Diketahui, hutan gambut tropis memiliki potensi penyimpanan karbon sebesar lima kali lipat dibandingkan hutan tropis (bukan gambut), dan menyumbangkan sebesar sepertiga simpanan karbon total dunia. Indonesia memiliki lahan gambut tropis terbesar di dunia yakni sekitar 14,9 juta hektar.

Dari luasan tersebut, sekitar 20persen telah mengalami degradasi yang menyumbangkan lebih dari 50 persen emisi gas rumah kaca (GRK). Menurut Forest Reference Emission Level yang merupakan data resmi dari pemerintah Indonesia, jumlah emisi dari kerusakan hutan gambut sellama peiode 1990-2013adalah 226,1 MtCO2 per tahun.

Sejak tahun 2007, perkembangan perubahan iklim di Indonesia mencapai momentum yang signifikan ketika Indonesia menjadi tuan rumah Conference of Parties (COP) UNFCCC yang ke 13 di Bali.

Indonesia kemudian mengambil beberapa langkah strategis diantaranya pengarusutamaan aktivitas perubahan iklim ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Pada akhir 2009, Indonesia mengumumkan komitmen sukarelanya untuk aksi mitigasi yang diikuti dengan penetapan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).

Lebih khusus lagi didalam pasal 2 ayat 2, kegiatan RAN-GRK meliputi 6 bidang yang salah satunya mencakup kehutanan dan lahan gambut.

Terkait pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut, telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 yang direvisi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016. Regulasi ini merupakan kerangka komprehensif restorasi lahan gambut di Indonesia.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 1/2016 telah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertugas untuk merestorasi 2 juta ha lahan gambut rusak di Indonesia sampai dengan akhir 2020.

Kegiatan restorasi gambut yang dilakukan oleh BRG diharapkan akan berdampak kepada penurunan emisi GRK serta menghindarkan dari tragedi kebakaran hutan dan lahan gambut yang selama ini kerap terjadi.

Dampak positif lain adalah kembalinya fungsi jasa lingkungan dan ekosistem serta tumbuhnya ekonomi bagi masyarakat lokal.

Untuk membangun komitmen yang lebih kuat dalam menyukseskan kegiatan restorasi gambut, maka perlu dilakukan kolaborasi antar seluruh lembaga serta institusi terkait di Indonesia.

Winrock International berkomitmen untuk bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut pada setiap lokasi kegiatan lapangan yang sama dengan lokasi prioritas restorasi gambut BRG melalui beberapa program yang sedang berjalan dan sudah direncanakan.

Lebih jauh pada level kebijakan, restorasi lahan gambut sesungguhnya merupakan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Secara spesifik, restorasi lahan gambut terkait erat dengan tujuan ke 13 dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yakninya penanganan perubahan iklim.

Restorasi gambut sebagai bagian dari upaya penanganan perubahan iklim harus dimaknai sebagai tugas bersama antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

Tema ini menjadi bagian dari kewenangan tiap level pemerintahan dalam urusan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah.

Artinya, dukungan pemerintah daerah terhadap restorasi gambut dan penanganan perubahan iklim secara keseluruhan menjadi sangat krusial dan bahkan menjadi kunci keberhasilan serta keberlanjutan kegiatan restorasi gambut.

Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah memainkan peranan penting untuk menjaga dan memastikan dukungan daerah terhadap restorasi gambut dan penanganan perubahan iklim.

Saat ini, Ditjen Bina Pembangunan Daerah sedang menyiapkan kerangka regulasi yang tujuannya untuk mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk di dalamnya penanganan perubahan iklim.

Dengan begitu, Winrock International, Ditjen Bina pembangunan Daerah dan Badan restorasi Gambut memiliki kesamaan visi dan tujuan. Kerjasama tersebut dituangkan dalam bentuk kesepakatan kemitraan yang nantinya akan menjadi basis koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan.

Lebih jauh, kerjasama ini juga merupakan tindak lanjut Kerjasama kemitraan antara Wintorck International dan Ditjen Bina Bangda. Melalui kerjasama ini, diharapkan akan muncul berbagai model restorasi lahan gambut yang pada gilirannya bisa direplikasi di daerah lain.

You might also like More from author