69 Expert dari 9 Negara Studi Gambut di Palangkaraya

0

Rangkaian kegiatan International Peatlands Roundtable atau IPR yang berlangsung sejak 1 November di Jakarta hingga Minggu 5 November 2017. Berlangsung secara meriah.

Peserta peatlands roundtable melanjutkan kegiatan dengan melakukan kunjungan lapang (field excursion) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Ada lima lokasi yang dikunjungi dalam acara ini yakni CIMTROP Camp, Jalan Misik (Paludiculture), Jalan Misik (integrated poroject), canal blockibg (taruna jaya), dan deep well project di Taruna Jaya.

Acara di Palangkaraya dibuka oleh Dr. Ici Piter Kulu, Kepala CIMTROP dari Universitas Palangkaraya. Dalam sambutannya Dr. Ici menyambut gembira kedatangan 69 peserta peatland roundtable yang teridi dari ilmuwan, peneliti, lembaga donor, NGO, kampus, dan dari kalangan pemangku kebijakan.

“Acara ini sangat luar biasa dan diharapkan dapat membawa kabar baik dalam managemen gambut di Indonesia Indonesia dan dunia,” kata Dr Ici.

Dalam kesempatan yang sama, Dr Hidenori Takahashi menyampaikan sejarah kolaborasi ilmiah antara ilmuwan Indonesia dan Jepang. Khusus soal gambut, beberapa penelitian telah dijalin antara beberapa kampus di Jepang dan Indonesia, dalam hal ini Badan Restorasi Gambut.

CIMPTROP (Central for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland) berdiri pada 1998. Berbagai penelitian tentang lahan gambut telah dilakukan lembaga ini. Salah satunya menginisiasi riset tentang status hidrologi gambut pada proyek PLG 1997.

Pada 2000, Universitas Helsinki Finlandia tertarik untuk melakukan riset tentang emisi karbon dan membangun tiga (3) kanal. Tahun lalu, EU RESTORPEAT Project telah mendirikan kamp permanen, melakukan revegetasi kanal bloking, membuat TIM SERBU API dan melakukan pemberdayaan komunitas.

Sebagai informasi, Kamis 2 November 2017 menjadi momen langka dimana 69 ilmuwan, akademisi, praktisi, penentu kebijakan, lembaga donor, dan NGO dari 9 negara (jepang, jerman, finlandia, mexico, singapura, malaysia, vietnam, belanda, dan Indonesia) berkumpul melakukan deklarasi bersama tentang pengelolaan gambut.

Bernama ‘Deklarasi Jakarta’ deklarasi ini tidak hanya sekedar seremoni, namun akan segera ditindaklanjuti dg berbagai upaya nyata untuk menyelamatkan ekosistem gambut dunia. Bagaimana menemukan teknologi terbaik yang bisa diterapkan bersama sehingga upaya upaya pengelolaan dan penyelamatan lahan gambut bisa lebih efektif dengan merangkul semua pihak (masyarakat, ilmuwan, NGO, kampus, dan tentu saja pemerintah).

“Tidak hanya sebatas deklarasi, namun setelah ini akan ada upaya nyata untuk menyelamatkan ekosistem gambut,” kata Ir. Nazir Foead, MSc, Kepala Badan Restorasi Gambut Indonesia.

Sementara itu, Bambang Setiadi peneliti dan salah satu pendiri CIMTROP ( Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland) mempunyai harapan besar dengan pertemuan ilmuwan gambut dunia di Jakarta kali ini. “Ada keseriusan bersama untuk menyelamatkan ekosistem gambut dari kerusakan yang makin massif.

You might also like More from author